17 Agustusan

Asalnya aku mau bertemu salah seorang teman aku yang sedang menjadi SST di Total minggu ini. Tapi kemudian dia bilang bahwa minggu ini dia akan latihan upacara untuk persiapan 17 Agustusan di kantor. Mendengar hal ini aku jadi teringat masa-masa ketika akan selesai OJT kemaren. Ketika beberapa orang teman OJT diminta untuk membantu menjadi petugas upacara. Sayangnya kepulanganku adalah tepat pada tanggal 17 Agustus 2007 lalu. Sehingga aku tidak bisa ikut andil di dalamnya. Jadilah aku tujuhbelasan di atas pesawat.

Tak dinyana, ternyata tanggal 17 Agustus tahun ini, 2009, aku sedang bertugas di lapangan. Alangkah tidak mujurnya aku. Padahal dulu aku senang sekali menonton acara 17-an di televisi. Eh, sekarang malah ada di lapangan lagi. Alamat disuruh ikut upacara, aku langsung meminta izin pada atasanku untuk tidak ikut serta. Dan alhamdulillah aku jadinya tidak ikut. Tapi tetap saja bingung mau apa di kosan juga karena jam 7 pagi toh aku sudah siap dan tilawah sampai dijemput jam 8.30.

Upacara bendera. Kapan terakhir kali aku mengikuti upacara? Seingatku, kali terakhir adalah ketika SMA dulu. Ketika kuliah? Tidak ada satu upacara pun yang aku ikuti. Apakah dikumpulkan di lapangan terbuka ketika Ospek Kampus dulu itu termasuk? Rasanya tidak.

Aku kagum pada adikku dalam urusan kecintaan terhadap tanah air. Ketika kuliah dulu, sering kali kami menonton konser, salah satunya Twilite Orchestra yang selalu membuka konsernya dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua orang berdiri ketika iringan lagu berkumandang. Adikku adalah satu diantara sekian banyak penonton yang bukan saja berdiri dan ikut menyanyi. Tapi juga melakukan hormat. Air matanya berlinang. Belum lagi keaktifannya sebagai pasukan pengibar bendera hingga dicalonkan menjadi pengibar bendera tingkat kota Bandung. Juga keaktifannya sebagai seorang Pramuka. Memang adikku yang hanya satu ini sungguh berjiwa nasionalisme.

Ada salah satu pengembaraan yang dilakukannya yang mengingatkan aku akan dirinya ketika membaca buku 5 cm. Adikku sering kali kemping bersama teman pramukanya. Aku iri. Ingin rasanya seperti itu. Terlepas dari itu semua, cerita-ceritanya mengisi salah satu bagian dari diriku yang kosong.

Kembali mengingat moment tujuhbelasan, sampai sekarang ketika aku menyalakan Metro TV dan mendengar lagu kebangsaan ditayangkan, rasanya rasa haru itu ingin membuncah. Sungguh agung lagu kebangsaan itu. [ ]

Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2009 di portacamp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.