Pulang dan Kembali

Kangen. Baru kali ini aku merasa kangen. Adzan berkumandang dan aku buka shaum di kosan Senipah sendirian. Hanya ditemani teh manis hangat dan biskuit Good Time; dan SMS bersama Mum dan Yanda. Bersama Mum. Inilah hal yang membuat aku kangen. Rasanya dari dulu aku belum pernah merasakan kangen seperti ini. Entahlah.

Tetapi ketika selesai berdoa dan meneguk teh hangat, seraya mengucapkan hamdallah, aku merasa sendiri. Kemudian kembali meng-SMS Mum tentang perasaan aneh itu. Perasaan kesendirian yang harus aku jalani dengan kesabaran, begitu kata Mum – panggilan sayangku pada Ibu.

Setelah 23 tahun, akhirnya akan merasakan apa yang namanya mudik. Mungkin aura mudik dimulai dengan shaum sendiri seperti ini atau shaum jauh dari orang-orang yang dirindukan. Ketika rasa kangen terakumulasi setiap harinya hingga waktu pulang dan kembali itu tiba. Mungkin itu yang dimaksud dengan mudik.

Dulu setiap bulan Ramadhan, setiap orang menulis tentang budaya mudik. Saat pulang dan kembali. Hanya aku yang tidak pernah menulis rubrik Jalan Terang di Salman tentang mudik. Karena seumur hidup aku tidak tahu bagaimana rasanya mudik.

Mum bilang. “Pada akhirnya kesampaian juga, kan? Katanya ini merasakan mudik?” Waktu itu yang ada di pikiranku, aku akan mulai merasakan mudik ketika punya suami non-bandung. Tapi ternyata aku mudik pertama kali ketika bekerja.

Walau keputusan untuk mudik belum jelas. Terutama untuk biaya mudik. Tapi harapan itu tetap ada. Bahwa tahun ini aku akan mudik. Semoga Allah membukakan jalan yang terbaik untuk momentum pulang dan kembaliku ini. Bismillah. [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.