Bilih Teu Pendak Deui

Aku dan back to back-ku mempunyai sebuah buku komunikasi – bukom kalau dulu sahabat SMA-ku menyebutnya. Sejak sekembalinya aku dari Bandung karena sakit kemaren, aku membuaut turus atau count down mingguan aku bekerja di lapangan. Sejak 5 minggu sebelum “rencana” kepulangan kembali ke Bandung, 4 minggu, 3, 2, hingga kini tinggal 1 term lagi di minggu depan untuk demobilisasi.

Bukan tidak ingin melanjutkan kerja di tempat ini, tapi rasanya aku sudah tidak betah di lapangan ini dengan kondisi yang kurang nyaman. Rencana berakhirnya kontrak adalah tgl. 15 Sep ini. Dan – bukannya jahat – aku berharap tidak ada extension atau bridging lagi. Dan kalau pun ada aku berharap setelah Oktober nanti. Sungguh tenaga lahir-batin-ku habis untuk memperjuangkan yang namanya mudik.

Satu kali lagi ke lapangan. Ya. Malam ini sambil mengerjakan laporan akhir dan preparasi 1 minggu ke depan yang full, Akang – begitu panggilanku padanya, mengajak makan malam. Tepatnya aku iseng mengajaknya makan ketika Daily Report tadi. Karena hari Kamis Akang akan off selama 2 minggu ke depan dan setelah akhir kontrak minggu depan, kita kemungkinan tidak tahu kapan bertemu lagi.

Setelah selesai makan malam, ketika berpisah, akang berbicara bahasa Sunda halus. Aku hanya menangkap beberapa kalimatnya, selain undangan untuk ke rumah makannya di Bandung, Akang juga bilang beberapa hal yang diakhiri dengan kalimat, “Bilih teu pendak deui.” Rasanya sedih saja tiba-tiba Akang yang selain aku anggap teman dan atasan di perusahaan ini,  namun juga kakak, berbicara seperti itu. Pun aku tidak tahu bahwa ultah dia adalah 3 hari yang lalu. Rasanya tampak aku kurang memperhatikan sekelilingku ketika tenaga lahir-batin-ku aku habiskan untuk hal-hal yang berkaitan dengan Bandung. Sungguh hal yang satu ini sungguh mengurus semua pikiranku.

Di akhir tulisan ini, sama ketika aku tiba di kamar kos dan meng-sms Akang, back to back-ku, dan Mas-ku, aku berterima kasih dan berdoa yang terbaik pada Allah agar dia diberikan yang terbaik selalu dan semoga kami masih dapat dipertemukan lagi dalam suatu silaturahmi. Insya Allah. [ ]

[ditulis 8 Sep 2009 setelah makan diselingi Bridging Report]

3 Comments »

  1. zikrilhakim said

    wah saya merasa tersepetttt
    harus pikir ulang ni ehehe
    tahnks san

    • sandia primeia said

      tersepet kenapa, zik?
      aku tak mengerti … ^^

  2. Rahmat SD said

    Aku juga tak mengerti… :-p

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.