Aku merasa berdosa. Entah apa ini bisa disebut berdosa atau tidak. Tapi yang pasti, ketika bencana gempa bumi di Sumatera Barat itu terjadi, aku langsung menghubungi sahabatku yang ada di Riau, Sum. Selatan, dan Lampung. Memastikan semua baik-baik saja. Dan satu hal yang membuat aku merasa bersalah karena aku lupa bahwa pada minggu terjadinya gempa itu, ibuku juga ada di tempat sahabat-sahabatku! Alhamdulillah beliau tidak apa-apa.

Beranjak dari hal tersebut, tiba-tiba ada suatu hal yang menggelitik hatiku. Mengenai perihal berbakti. Mau tidak mau, hari itu akan datang juga. Ketika aku, sebagai anak gadis, akan menikah dengan seseorang. Diserahkan oleh kedua orang tuaku pada seseorang yang selama 23 tahun terakhir ini mungkin tidak pernah ada dalam kehidupan kami. Bukan hanya diserahkan dalam artian biasa, tapi semua. – aku agak bingung mendefinisikan hal ini. Tapi yang pasti, hal ini membuat aku memikirkan banyak hal. Terutama ibu.
Analisisku seperti ini: seorang lelaki, ketika menikah selain bertanggung jawab terhadap istri, namun bakti yang utama adalah pada ibu. Berbeda halnya dengan seorang gadis, ketika menikah dia hanya berbakti pada suami. Karena suatu perjanjian yang suci se-Ar Rasy, semua hal yang berkenaan dengan sang gadis diserahkan sepenuhnya dari pihak orang tua pada suami. Aku berpikir hingga menitikkan air mata, apakah ini artinya sebagai seorang istri, hubungan berbakti pada ibu terputus? Justru dengan berbakti pada suami, orang tua telah berhasil mendidik anaknya. Tapi aku tetap merasa … entahlah.
Teringat dengan salah satu materi liqo dulu tentang bakti seorang istri pada suami lebih utama ketimbang bakti pada orang tua. Hingga ada kisahnya ketika seorang istri ditinggal suami dan diamanahi untuk tinggal di rumah, pada saat yang bersamaan orang tua istri meninggal dunia. Namun karena perihal di atas, istri tidak datang ke tempat orang tuanya. Aku tertegun.
Sekali lagi aku berpikir. Apa ini artinya orang tua yang mempunyai anak gadis mempersiapkan sang anak untuk diserahkan pada orang lain? Rasanya aneh. Orang tua yang dengan subhanallahnya me-… banyak hal untuk anaknya, kemudian terputus hubungannya setelah menikah karena telah resmi menyerahkan semuanya pada orang lain yang menjadi suami anak itu. Apa sang istri masih bisa berbakti pada orang tuanya? Di lain pihak, berbeda posisinya dengan anak lelaki. Hmfh.
Could anybody please make my heart fill with answers?
Aku bertanya dan meminta pada diri sendiri dan dirinya. Untuk tetap terus bisa berbakti pada kedua orang tuaku sendiri. Membagi waktu dengan adil untuk bisa berbakti pada suamiku nanti dan tentunya kedua orang tuaku. Jujur, aku masih ingin sekali bisa membaktikan diriku pada kedua orang tua ku. Hingga kapan pun walau aku sudah memiliki suami, anak, dan keluarga baru. Aku masih ingin bisa berbakti pada mereka. Pada Ibu.
Rahmat SD said
Pilih suami yg gak banyak maunya… yang gak ogo… yg gak merasa raja & pengen diraja… hmmm…
sandia primeia said
kenapa lelaki ada yg merasa pengen aka. pantas dirajai?
padahal katanya mereka berpikir banyak dg logika mereka ketimbang perasaan mereka
jd seharusnya mereka berpikir logis atw tidak melakukan hal seperti itu kepada pasangan hidupnya
…
hmm …
baba said
sansan yang baik,
lelaki (suami) logis adalah lelaki (suami) yang bisa merasakan dan mengerti perasaan istrinya. alangkah tidak jentelmen kalo ada suami yang tega membiarkan istrinya menangis sedih ditinggal mati ibunya pada jaman sekarang ini.
adapun tentang hikayat tentang ‘ketidak bolehan’ diatas, tidak manutup kemungkinan untuk kita jika harus lebih kritis. dengan menilai kembali nilai para perowi hadits tersebut, kenapa hadits tersebut bisa muncul, pada saat apa dll.
dan harus diingat para perowi itu bukan nabi (yang otomatis tidak sempurna) dan kebanyakan lelaki (yang logis tapi pengen menang sendiri). bisa aja pemahaman hadits tersebut di buat untuk ‘kepentingan’ lelaki saja.
wallahu ‘alam.
sandia primeia said
yup
Syifa said
Yep,karena itulah balasan bagi orang tua yang bisa mendidik anak perempuannya sangat besar. Teringat sebuah hadits (perawinya lupa, klo ada yg tau bisa ditambahkan) yang intinya berisi bahwa orang tua yang memiliki dan mendidik 3 orang anak perempuan, maka dijamin baginya syurga. Sahabat bertanya, “bila 2 orang anak perempuan?” “Bahkan 2 orang anak perempuan.”
Sahabat bertanya lagi, “bila 1 orang anak perempuan?” “Bahkan 1 orang anak perempuan.”
trus klo masalah berbakti, komunikasikanlah dengan “seseorang” itu. Doa saya adalah dipertemukan dengan “seseorang” yang sangat mencintai ibunya dan keluarganya, karena ia juga akan tahu bagaimana mencintai ibu dan keluarga kita, serta memberi kesempatan bagi kita untuk mencintai ibu dan keluarga kita. Hehehe, justru nanti akan terasa ada banyak cinta untuk dibagi dan diberikan.
sandia primeia said
Howa. Subhanallah ya, Bi … huhuhu
baba said
sok geura ngobrol jeung si akang (atau calon?) tentang kegundahan tersebut. insyaallah kalo si akangnya mengerti mah bakal ngijinan.
sedikit bocoran; bagiku,
ingat, imam tidak selalu harus benar. adakalanya ia salah kata atau gerakan. toh, ma’mum juga yang ngingetin..
sedikit bocoran; bagiku, imam-ma’mum itu tak lebih seperti sedang bermitraan.
sandia primeia said