Archive for Just an opinion

Disney

Hmm, bagaimana ya cara mengatakannya. Aku bukan orang yang fanatik, tapi aku menghargai apa yang menjadi suatu keputusan bersama. Aku sudah berhenti memakan junk food – salah satu produknya sejak 6 SD. Jadi ketika ada beberapa himbauan mengenai sebaiknya tidak menggunakan produk zionis, aku tidak terganggu. Maksudnya tidak terkena imbas gitu.

Selama lulus ini, aku kembali ingin kembali ke Salman kembali – alah, kata-katanya ribet. Aku merasa dipertemukan dengan banyak hikmah melalui tempat ini. Tapi ketika tk.3 menyitaku, aku mundur dan “berubah”, tapi setelah lulus rasanya aku ingin perlahan-lahan kembali ke sana.

Hubungannya dengan tulisan ini adalah … karena aku sering beraktivitas di Salman lagi, aku kontan selalu memperhatikan berbagai hal. Salah satunya spanduk anti zionis di Salman. Aku bukan orang yang terlalu mempermasalahkan hal ini. Tapi aku sekali lagi menghargai hal ini. Karena menurutku, selama kita belum bisa mencari pengganti dan masih banyak saudara kita yang bekerja di tempat itu, kita tidak bisa mem-boykot begitu saja. Intinya aku tipe orang moderat yang … berpikir panjang atau kebanyakan mikir ya?

Nah! Di antara produk itu … ada NG! Aku sengaja tidak beli untuk January setelah akhir Dec lalu Palestine dibombardir – parah. Dan ada satu hal yang sudah aku tahu dari dulu – selama SMA aku suka membaca buku zionis – iseng-iseng – adalah DISNEY things. Ini satu-satunya yang sulit aku lepas.

Kalau mau lihat isi album laguku, isinya adalah Disney. Kalau mau tau salah satu obsesiku adalah koleksi film Disney. Dan ya … semua berbau Disney. Howa. Tapi tentu dalam batas-batas kewajaran. Hehehe …

Apapun itu, untuk semua pembaca, aku himbau … bersikaplah bijak. Silakan artikan sendiri. Aku sih selama itu tidak haram dan halal, tidak menjadi masalah – kecuali ada bagian tertentu dalam hati kita yang meronta. Well, tulisan ini membingungkan. Aku juga bingung. Intinya, our heart knows the best :)

Comments (2)

Resensi [1]

Taken from my Facebook’s NOTE:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=47838952804&id=1112937686&index=0

paris je t'aimeMy cousin, Dhoni Eko Pribadi, student of Perancis Unpad lent me a film berjudul: PARIS JE T’AIME. Tentang 18 films di beberapa tempat/distrik/arrondissement di Paris. Then I watched it.

First impression. I just can smile. Until I finished it and SMS him: “Undescribe but touchy. Sweet.” Then he replied: “C’est un film magnifique, tres magnifique.”

[Biasanya kalau dia kirim SMS pake Perancis aku nggak ngerti. But this time I do]

Let me share with you all. Beberapa episode di arrondissement yang touchy and sweet.

1. Quais de Seine

Di sini ada percakapan dua orang mahasiswa yang aku sukai:

“You’ve beautiful hair. Why you forced to cover it up?” – boy

“I’m not forced. It was my choice.” – girl

“Too bad. Because you’re very pretty.” – boy

“Thank you, but does that mean that without it I’m ugly? It’s enough that I find myself pretty. When I wear my headscarf, I feel I have a faith. And identity. I feel good. And that’s also beauty.” – girl

[And he felt in love because of that] – ini cuplikan ttg gadis Islam di sana.

2. 14e arrondissement

Cerita ttg seseorang yang travel ke Paris sendirian. Dengan kesendiriannya selama ini dia sangat bahagia. Dan di akhir cerita dia berkata seperti ini: Sometimes I think that it would be nice to have someone with whom to share this life. For e.g. as I was looking down on Paris from top a skyscraper I wanted to say to someone, ‘It’s beautiful, isn’t it?’”

3. Bastille

Ceritanya ada seorang suami yang hendak menceraikan istrinya. Dia memikirkan banyak kejelekan yang tidak disukainya terhadap istrinya. One day mereka janji bertemu. Tiba-tiba si istri nangis. Suami berpikir bahwa istrinya tau bahwa dia akan diceraikan. Lalu sebuah surat vonis si istri leukeumia keluar. Dan at that moment si suami memutuskan untuk menemani si istri sampai mati dan memutuskan hubungan dengan selingkuhannya. Dan dia menyadari bahwa dia falling in love pada istrinya ketika menemaninya hingga ajalnya.

4. Place Des Fetes

Ini ada cerita orang negro admiring seorang gadis. Intinya dia pengen banget minum kopi berdua sama gadis ini. Sampai suatu saat ada yg stab negro ini dan gadis itu ternyata student yang lagi belajar sama ambulance gitu. Ketika ketemu si negro keukeuh mengingatkan bahwa mereka pernah bertemu dan ingin minum kopi bersama. Dan dg circumstance mengingat semua itu tiba-tiba si negro mati dan gadis itu realized.

5. Place Des Victoires

Ceritanya seorang ibu kehilangan seorang anaknya. Kemudian ingin sekali bertemu dengan anaknya itu. Entah bagaimana dia dipertemukan. Namun tiba-tiba suami dan kakak anak itu memanggil-manggil. Dengan “ikhlas”-nya anak itu bilang, Mom ayah dan brother sudah menunggumu. Anaknya ini ngingetin bahwa masih ada orang-orang yang harus dicintainya dan ya …

6. Loin Du 16e

Cerita ttg seorang ibu yang punya anak bayi trus dia kerja jadi pengasuh bayi lain di kota yang jauh banget dari daerahnya. Sampe naek kereta-bis-kereta-bis, kayaknya jauh banget. Ngerasa apa ya … demi anaknya dia rela mengurus anak lain dan jauh dari anaknya … It made me cried …

7. Faubourg Saint-Denis

Cerita ttg orang buta. Tapi manis dan smart banget ni orang [intermezo :p]. Trus pacarnya itu pemaen drama gitu. Suatu hari ada telepon [kata-kata di teleponny keren, euy, so touchy!] dia kira itu telepon beneran [mutusin gitu-tapi kata2nya bo, keren banget!] dan semua scene episode bersama pacarnya itu berputar lagi … Aduh, bingung ceritainnya. Apa ya … Cowo itu yang biasanya selalu ditanya ‘Can you hear me?’ tiba-tiba bisa melihat! Er … gimana ya jelasinnya. Aku suka cewenya pun cowonya … Ya gitulah! Just watch it! Hmm …

Dan 11 episode lainnya. Di akhir cerita, semuanya tersenyum. Seperti memaknai cinta bagi mereka.

Walau hanya secuplik-secuplik … tapi maknanya … DEEP INSIDE sekali! Tidak dapat digambarkan, undescribeable, tapi meaningful kalau kata aku. Sweet. Thank you, Don!

Comments (5)

Breaking Dawn and all

Setelah membaca Go Girls! dan Femina tentang …

Again and again and again. Sejak film itu dirilis di Indonesia, sekelilingku penuh dengan kata “Twilight”. MUlai dari acara hunting buku2 di Gramed waktu ada diskon 30% itu dan aku baru tahu 2 hr sebelum diskon udahan. (Setidaknya sudah memesan The Historian – Kostova). Hingga facebook aku isinya makhluk2 itu semua … mungkin kalau cara pikirnya tidak seperti “itu”, sah2 saja. But as usual, Ina … remaja latahan.

Buku pertamanya padahal keluar udah lama banget. Lama. Dan sebelum film keluar, breaking dawn (serial ke-4 Twilight) sudah ada. Karena sudah baca sampai ke-4 inilah, aku jadi agak males nonton. Alasannya berbeda dengan alasan tidak mau nonton Potter, tapi karena isi buku itu (aku baca yang inggris) sangat tidak sesuai dengan budaya Ina. Dan parahnya … it is too much “detail” di dalamnya …

Minggu ini, aku sedang diskusi dengan Uli ttg Ibu Meyer dan isi bukunya dibandingkan dengan Jane Austen dan juga (ternyata) isi buku Ina dan Inggris agak beda. Dalam artian diperhalus, dipersopan, dan tidak terlalu detail. Katanya. Aku males kalau harus baca yang Ina juga. Yah, setidaknya penerjemah juga merasa jengah kalau harus mengartikan sama dengan buku aslinya. Yang kalau di luar buku ini adalah bukan remaja banget, tapi yang udah agak remaja ke atas. Sedangkan di Ina yang anak ABG-nya latahan, agak ya … we know …

It is right kalau ini adalah buku yang easy going … eh easy to read … tapi bukan hanya masalah itu aja. Tapi pesan yang disampaikan di dalamnya. Seperti bahwa hidup akan membosankan tanpa “begitu”, akan ada prince charming yang “begitu”, dan segala hal ttg “begitu”.

Umm … cerita Vampirnya … kok … kok … kalo nggak ada cerita vampirnya … umm … it will be the same as other chicklit.

Well, bagaimana pun, semoga yang membaca tahu bagaimana menyikapinya.

[setelah berdiskusi banyak dengan banyak orang: Vi, Zisa, Teh Titi, Uli, Bunda Yuti, Rissa, Mul, dll ...]

Comments (1)

Me-“lihat” si “Kecil”

Ada kalanya dalam keseharian ini terjadi sebuah hal yang disebut dengan kekesalan. Ada kalanya dalam keseharian ini terjadi sebuah hal yang disebut dengan capek. Ada pula kalanya dalam keseharian ini terjadi sebuah hal yang tidak bisa kita utarakan karena saraf-saraf dalam otak kita terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal yang pelik.

Terkadang yang perlu kita lakukan adalah berhenti sebentar. Berhenti dari segala kepelikan, kecapekan, dan kekesalan itu. Berhenti sesaat untuk menarik napas, memejamkan mata, dan me-“lihat”. Melihat dalam hal ini adalah melihat sesuatu yang terkadang tidak kita sadari. Melihat sesuatu yang “kecil”.

Padma

Salah satu contoh kecil adalah menengok orang yang ada di sekitar kita. Ada kalanya mereka kita temukan sedang tersenyum, sedang bercanda dengan yang lain, sedang memadu kasih, atau melakukan aktivitas yang kadang membuka mata kita dan mau tidak mau membuat kita tersenyum.

Contoh lain, bila kita sedang sendirian di dalam ruangan, tengoklah jendela, sering kali saya menemukan sebuah daun yang jatuh dari ranting pohon dan terjatuh ke tanah. Fenomena alam ini sering kali membuat suasana hati ini menjadi lebih rileks dan tenang. Kalau jendela ruangan kita bisa dibuka, bukalah sedikit. Atau apabila ada pintu menuju teras, bukalah pintu itu, dan rasakan nuansa kesegaran angin yang juga menyapukan beberapa dedaunan dari pohon. Terpaan angin lembut itu pasti akan membuat kita tersenyum. Dan dalam waktu sepersekian detik, otot-otot kita akan meregang. Dan yang lebih menyenangkannya, saraf-saraf otak kita akan menjadi lebih tenang. Dan ketegangan pun berkurang.

Atau banyak hal lain. Seperti membuka inbox handphone kita. Kemudian menemukan beberapa sms yang menarik atau mengingatkan kita akan suatu hal dan … membuat kita tersenyum. Atau membuka note book atau agenda kecil kita dan menemukan beberapa tulisan kecil yang manis. Atau mungkin membuka dompet dan menemukan beberapa buah foto kenangan.

Terkadang hal yang kecil jarang sekali kita lihat. Tapi ada kalanya mereka yang kecil justru bernilai sangat besar bagi kita. Seperti pagi ini ketika kepalaku terasa tidak enak. Aku menengok sebelahku dan menemukan salah seorang sepupu/ sahabatku. Melihat ke depan dan menemukan seorang inspirator. Dan melihat ke note book-ku dan menemukan beberapa tulisan manis yang aku kutip dari beberapa sms dan hikmah kecil lainnya.

Sungguh. Al Hikmah itu sejuta maknanya. Yang perlu kita lakukan adalah melihatnya, membacanya, dan mensyukurinya. Maka senyum itu pun akan terulas di bibirmu. [ ]

[Dedicated for Ibu Nuryati July dan Taufik Dwi Saputra]

Comments (1)

Budaya Osjur: Pendidik dan Kekerasan

I want to say. “Cut your head down, Ass! You’re the next teacher for this country!” But it is rude. Even I am not a teacher in license, but I teach and have a lot of student … and I am not kind of violent-rude-arrogant-unpolite person. Let start.

Well … it was translated into Bahasa … ehehehe …

Pendidikan. Pernah aku bertanya di mana asal mula pendidik/ pengajar dimulai. Dan malam inilah adikku dan aku membahasnya bersama.
Dimulai dari apa yang disebut dengan budaya. Osjur atau Ospek atau apapun itu sebutan bagi Orientasi Mahasiswa Baru. Adalah suatu kesalahan bila kita mengatakan bahwa Osjur yang berbau fisik dan militer di zaman kini adalah sebagai sebuah budaya yang patut dipertahankan. Opini dari mana kah itu? Opini dari orang yang punya mind setting ingin membalas dendam terhadap apa yang diterimanya dulu dan tidak mau melakukan perubahan? Opini dari kearoganan?

Beranjak dari Osjur yang sangat berbahaya dari salah satu universitas bertitel pendidikan, perjalanan menjadi seorang guru pun dimulai. Pernah kah Anda berpikir untuk apa kekerasan dalam pendidikan? Ada menjadi suatu aib bila Osjur diubah sistemnya? Apalagi dalam bidang yang berhubungan dengan pendidikan. Bahkan guru olahraga saja bukan diajari melakukan olahraga … tapi kekerasan. Bah, tinju saja purpose-nya bukan untuk kekerasan. Tapi ini … ada segelintir dan seonggok mahasiswa dan mahasiswa abadi yang keukeuh bahwa Osjur dengan kekerasan perlu diterapkan.

Hingga pada setiap tahun ada saja hal yang terjadi. Mulai dari patah tulang, penyakit fisik, rahim berdarah, dan meninggal! Excuse me? Inikah yang namanya pendidikan? Bisakah “bending” dihentikan? Bisakah pemukulan ke perut dihentikan? Bisakah serangan fisik dan kegiatan yang membahayakan organ tubuh dalam dihentikan? Katanya calon seorang pendidik. Tapi …

Apakah jika suatu saat gelar guru sudah disandang, para mahasiswa yang biasanya time out atau abadi ini bisa menjadi guru yang baik? Padahal mereka masih muyek ngurusin anak orang untuk disiksa yang katanya untuk pembelajaran.

Hello! Wake up, Dude! Today is the year of INTELIGENT not violent! Do you want to kick off your student better than teach wisely?

Is this what the BEST of Indonesia? Tidak mau belajar! Hanya mau mengikuti budaya! Apa sih budaya itu? Bahkan Rasulullah SAW saja menghancurkan budaya Arab [berhala dan budaya lain] demi tegaknya Islam.

Kebenaran itu nyata. Tapi diselimuti oleh kebiasan. Seperti halnya budaya. Dan … bila saya boleh beropini … Osjur dengan kekerasan itu bukan budaya, melainkan ajang balas dendam! Apa susahny membuat sistem yang lebih baik untuk dunia pendidikan?

Apakah harus ada korban dahulu baru kebenaran ditegakkan? Kasian Indonesia kalau punya calon pendidik bangsa yang hanya bisa menyusun konsep Osjur penuh kekerasan. Kasian Indonesia kalau punya calon pendidik yang tidak mau menjadi agent of change! Ingat tridarma mahasiswa, Bung! Dan sekali lagi, Anda bukan hanya akan menjadi ‘seseorang’ setelah Anda lulus. Tapi seorang pendidik bangsa!

[When the Osjur at some Edu Univ come to the violent ... again and again. Be the right!]

Comments (1)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.