Archive for Kalimantan

Bilih Teu Pendak Deui

Aku dan back to back-ku mempunyai sebuah buku komunikasi – bukom kalau dulu sahabat SMA-ku menyebutnya. Sejak sekembalinya aku dari Bandung karena sakit kemaren, aku membuaut turus atau count down mingguan aku bekerja di lapangan. Sejak 5 minggu sebelum “rencana” kepulangan kembali ke Bandung, 4 minggu, 3, 2, hingga kini tinggal 1 term lagi di minggu depan untuk demobilisasi.

Bukan tidak ingin melanjutkan kerja di tempat ini, tapi rasanya aku sudah tidak betah di lapangan ini dengan kondisi yang kurang nyaman. Rencana berakhirnya kontrak adalah tgl. 15 Sep ini. Dan – bukannya jahat – aku berharap tidak ada extension atau bridging lagi. Dan kalau pun ada aku berharap setelah Oktober nanti. Sungguh tenaga lahir-batin-ku habis untuk memperjuangkan yang namanya mudik.

Satu kali lagi ke lapangan. Ya. Malam ini sambil mengerjakan laporan akhir dan preparasi 1 minggu ke depan yang full, Akang – begitu panggilanku padanya, mengajak makan malam. Tepatnya aku iseng mengajaknya makan ketika Daily Report tadi. Karena hari Kamis Akang akan off selama 2 minggu ke depan dan setelah akhir kontrak minggu depan, kita kemungkinan tidak tahu kapan bertemu lagi.

Setelah selesai makan malam, ketika berpisah, akang berbicara bahasa Sunda halus. Aku hanya menangkap beberapa kalimatnya, selain undangan untuk ke rumah makannya di Bandung, Akang juga bilang beberapa hal yang diakhiri dengan kalimat, “Bilih teu pendak deui.” Rasanya sedih saja tiba-tiba Akang yang selain aku anggap teman dan atasan di perusahaan ini,  namun juga kakak, berbicara seperti itu. Pun aku tidak tahu bahwa ultah dia adalah 3 hari yang lalu. Rasanya tampak aku kurang memperhatikan sekelilingku ketika tenaga lahir-batin-ku aku habiskan untuk hal-hal yang berkaitan dengan Bandung. Sungguh hal yang satu ini sungguh mengurus semua pikiranku.

Di akhir tulisan ini, sama ketika aku tiba di kamar kos dan meng-sms Akang, back to back-ku, dan Mas-ku, aku berterima kasih dan berdoa yang terbaik pada Allah agar dia diberikan yang terbaik selalu dan semoga kami masih dapat dipertemukan lagi dalam suatu silaturahmi. Insya Allah. [ ]

[ditulis 8 Sep 2009 setelah makan diselingi Bridging Report]

Comments (3)

Smell After Rain

rainy-windowJust like usual, I always wake up for several times form 1 am, 2 am, 3 am, then I have to take a pray before sahur half hours later. But this time, there is something that not usual, because there is a big rain outside. Company me in the middle of sleepy. Sleepy: watched Star Movie last night, while I waited for someone somewhere out there – deuh, somewhere out there, seems like I have heard that  song since I was child – de javu.

Talking about rain. Then when I go to work, walking, staring, smiling, and wondering [I always wonder for no reason] – I can smell “smell-after-rain” there. Hmm. I think I have wrote it down, about rain, for age. But, I don’t know, I just like to share how nice “smell-after-rain”. Seems like it has a parfume that publish new fragrance in new season. Subhanllah.

More over, how beautiful the rain is, still – I will always love it. One day, I hope and wish and pray, I can enjoy it together. Not alone. One day. Insya Allah. [ ]

Comments (1)

Buah Hati

Siang itu ketika aku sedang akan bayar telepon di Telkom, salah seorang sahabat baikku menghubungiku. Dia meminta doa padaku untuk amanah baru yang akan diembannya. Kupikir dia akan menjadi panitia dalam suatu kegiatan lagi. Mengingat saat dia menghubungiku dia berada di Salman. Agak muncul pikiran usil bahwa dia akan mengisi salah satu kajian di Salman karena menikah di umur 21 tahun dengan posisi belum lulus sarjana kedokteran. Tapi salah. Berita yang disampaikannya jauh luar biasa. Alhamdulillah. Dia hamil.

Senyumku mengembang. Mengucap rasa syukur turut berbahagia atas amanah yang Allah titipkan padanya. Ada sesuatu yang menggelitikku. Hamil di usia 22 tahun. Untuk yang satu ini dia sudah bertambah satu tahun. Hehehe. Rasanya subhanallah. Dengan keadaan masih terpisah dengan suami karena masing-masing harus menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Dengan keadaan masih sekolah. Dan dengan keadaan lainnya. Kupikir itu tidak menjadi sebuah halangan.

Apalagi amanah yang akan dititipkan berupa buah hati hasil cinta kasih diantara keduanya. Rasanya aku pun ingin menyegerakan ibadah yang menggenapkan separuh agamaku itu dan berdoa agar dapat memperoleh amanah yang sama. Untuk menjadi seorang ibu. Seorang bunda. A real Bunda. [ ]

Leave a Comment

Pulang dan Kembali

Kangen. Baru kali ini aku merasa kangen. Adzan berkumandang dan aku buka shaum di kosan Senipah sendirian. Hanya ditemani teh manis hangat dan biskuit Good Time; dan SMS bersama Mum dan Yanda. Bersama Mum. Inilah hal yang membuat aku kangen. Rasanya dari dulu aku belum pernah merasakan kangen seperti ini. Entahlah.

Tetapi ketika selesai berdoa dan meneguk teh hangat, seraya mengucapkan hamdallah, aku merasa sendiri. Kemudian kembali meng-SMS Mum tentang perasaan aneh itu. Perasaan kesendirian yang harus aku jalani dengan kesabaran, begitu kata Mum – panggilan sayangku pada Ibu.

Setelah 23 tahun, akhirnya akan merasakan apa yang namanya mudik. Mungkin aura mudik dimulai dengan shaum sendiri seperti ini atau shaum jauh dari orang-orang yang dirindukan. Ketika rasa kangen terakumulasi setiap harinya hingga waktu pulang dan kembali itu tiba. Mungkin itu yang dimaksud dengan mudik.

Dulu setiap bulan Ramadhan, setiap orang menulis tentang budaya mudik. Saat pulang dan kembali. Hanya aku yang tidak pernah menulis rubrik Jalan Terang di Salman tentang mudik. Karena seumur hidup aku tidak tahu bagaimana rasanya mudik.

Mum bilang. “Pada akhirnya kesampaian juga, kan? Katanya ini merasakan mudik?” Waktu itu yang ada di pikiranku, aku akan mulai merasakan mudik ketika punya suami non-bandung. Tapi ternyata aku mudik pertama kali ketika bekerja.

Walau keputusan untuk mudik belum jelas. Terutama untuk biaya mudik. Tapi harapan itu tetap ada. Bahwa tahun ini aku akan mudik. Semoga Allah membukakan jalan yang terbaik untuk momentum pulang dan kembaliku ini. Bismillah. [ ]

Leave a Comment

17 Agustusan

Asalnya aku mau bertemu salah seorang teman aku yang sedang menjadi SST di Total minggu ini. Tapi kemudian dia bilang bahwa minggu ini dia akan latihan upacara untuk persiapan 17 Agustusan di kantor. Mendengar hal ini aku jadi teringat masa-masa ketika akan selesai OJT kemaren. Ketika beberapa orang teman OJT diminta untuk membantu menjadi petugas upacara. Sayangnya kepulanganku adalah tepat pada tanggal 17 Agustus 2007 lalu. Sehingga aku tidak bisa ikut andil di dalamnya. Jadilah aku tujuhbelasan di atas pesawat.

Tak dinyana, ternyata tanggal 17 Agustus tahun ini, 2009, aku sedang bertugas di lapangan. Alangkah tidak mujurnya aku. Padahal dulu aku senang sekali menonton acara 17-an di televisi. Eh, sekarang malah ada di lapangan lagi. Alamat disuruh ikut upacara, aku langsung meminta izin pada atasanku untuk tidak ikut serta. Dan alhamdulillah aku jadinya tidak ikut. Tapi tetap saja bingung mau apa di kosan juga karena jam 7 pagi toh aku sudah siap dan tilawah sampai dijemput jam 8.30.

Upacara bendera. Kapan terakhir kali aku mengikuti upacara? Seingatku, kali terakhir adalah ketika SMA dulu. Ketika kuliah? Tidak ada satu upacara pun yang aku ikuti. Apakah dikumpulkan di lapangan terbuka ketika Ospek Kampus dulu itu termasuk? Rasanya tidak.

Aku kagum pada adikku dalam urusan kecintaan terhadap tanah air. Ketika kuliah dulu, sering kali kami menonton konser, salah satunya Twilite Orchestra yang selalu membuka konsernya dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua orang berdiri ketika iringan lagu berkumandang. Adikku adalah satu diantara sekian banyak penonton yang bukan saja berdiri dan ikut menyanyi. Tapi juga melakukan hormat. Air matanya berlinang. Belum lagi keaktifannya sebagai pasukan pengibar bendera hingga dicalonkan menjadi pengibar bendera tingkat kota Bandung. Juga keaktifannya sebagai seorang Pramuka. Memang adikku yang hanya satu ini sungguh berjiwa nasionalisme.

Ada salah satu pengembaraan yang dilakukannya yang mengingatkan aku akan dirinya ketika membaca buku 5 cm. Adikku sering kali kemping bersama teman pramukanya. Aku iri. Ingin rasanya seperti itu. Terlepas dari itu semua, cerita-ceritanya mengisi salah satu bagian dari diriku yang kosong.

Kembali mengingat moment tujuhbelasan, sampai sekarang ketika aku menyalakan Metro TV dan mendengar lagu kebangsaan ditayangkan, rasanya rasa haru itu ingin membuncah. Sungguh agung lagu kebangsaan itu. [ ]

Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2009 di portacamp

Leave a Comment

Antara SITE dan OFFICE

Percaya atau tidak, dulu saya lebih memilih bekerja di lapangan ketimbang di laboratorium – dengan referensi kegiatan selama Kerja Praktek/ On Job Training. Tapi ketika masuk ke dalam dunia kerja sebenarnya, saya tidak memilih lapangan/ SITE sebagai tempat kerja saya. Sungguh tidak ingin berlama-lama di sana! Then I prefer Ofiice better than Site. Really do.

Ah, lama sekali tidak posting :(

Comments (6)

Missing

Missing atau kehilangan adalah salah satu bentuk perasaan yang subhanallah. Tidak semua orang mampu merasakannya. Tidak semua orang mampu menyadarinya. Dan tidak semua orang menemukannya. Seperti halnya aku. Jarang sekali aku merasa kangen dengan seseorang.

 

Jarak merupakan sesuatu yang patut diberi ucapan terima kasih. Karena jarak membantu kita dalam menemukan rasa kehilangan ini. Mungkin tidak semuanya menyadari atau merasakannya. Tapi jarak cukup membantu kita dalam menemukan arti kehilangan ini. Ketika seseorang yang biasanya berada di dekat kita mendadak tidak ada. Secara sosok keberadaan – karena secara komunikasi jarak jadi bukan masalah. Tapi kadang ada perbedaan antara bisa menguhungi orang secara langsung dan tidak.

 

Hingga aku berumur 22 tahun ini, aku jarang sekali meninggalkan kota Bandung. Ya sesekali dalam beberapa pekan. Maksimal 2.5 bulan. Rata-rata 1 minggu. Sehingga hal ini menyebabkan perasaan missing terhadap seseorang yang biasa di dekatku tidak terlalu terasa. Mungkin exception pada Ibu yang dulu tidak bekerja di Bandung, Via yang juga tidak di Bandung sehingga kita sampai harus menyusun jadwal kencan untuk bisa menghabiskan waktu bersama khusus, Arief yang sering kali membuat kejutan, dan beberapa teman dan sahabat lainnya yang datang dan pergi silih berganti menorehkan kenangan dalam secarik kertas kehidupanku. Sungguh subhanallah.

 

Seperti saat ini ketika aku ada di pulau seberang. Perasaan itu jadi jauh lebih kuat. Ada satu yang terlewat, ketika aku akan ke kantor di Jakarta, aku dan Dani saling YM di jalan tol Pasupati menuju Jakarta saat itu. Dani mengetikan lagu Sherina yang paling membuat aku sedih. Mengenai perpisahan dengan sahabat dan seketika aku merasa menitikan air mataku. Di travel! Kejamnya Dani! You owe me, Dan! Hehehe. Dan banyak sekelumit pelepasan, rangkulan, dan pelukan hangat dari teman dan sahabat-sahabat yang membuat aku berterima banyak akan semua yang pernah kita lalui.

 

Dan detik ini, ketik aku membiarkan ke … 6-8 jemariku menari di atas keyboard, I would like to say that I am on missing mode on. Truly. I already miss my Mom, my Sister, my Via, my Rief, my Dian, my Tari, all of my best friends, all of my friends, all of my big family member, and someone that knocked-knocked my heart … just already … just already.

 

Thank you so much, Allah, to always give me beautiful feeling like this. Thank you. [14 March 2009]

Comments (2)

Hujan di Site

Sudah hampir tiga hari berturut-turut ketika aku sedang berada di site sejak waktu off-ku. Sudah hampir tiga hari berturut-turut kegiatan di site menjadi tidak sesibuk biasanya. Sudah hampir tiga hari berturut-turut aku merasa tidak mengerjakan apa-apa di lapangan selain membuat laporan, presentasi, proposal, dan menulis postingan saja. Sudah hampir tiga hari berturut-turut inilah semua terjadi karena hujan mengisi hari-hariku. Dan kini … sudah kesekian harinya aku duduk di mulut pintu sambil menyentuh laptop dan memandang site di luar sana yang sedang diguyur air hujan.

 

Dulu aku takut sekali menyentuh air hujan – mungkin sudah banyak tulisanku di blog ini yang menceritakan hal ini. Sesuatu yang membuatku takut, tapi membuat kecintaanku dan kerinduanku padanya semakin besar. Seperti salah satu kebiasaanku untuk terjaga ketika hujan, kebiasaanku untuk memandang hujan, kebiasaanku untuk mengabadikan moment hujan, dan banyak kebiasaan manis yang ada karena hujan.

 

Hal ini membawaku pada sebuah impian untuk memiliki sebuah rumah yang memiliki ruang terbuka untuk menyambut turunnya hujan ke pelataran bagian dalam rumahku. Dengan gazebo kecil untuk shalat dan beribadah di sebelah kamar tidur, dapur kering, dan ruang keluarga. Di mana gazebo ini akan mengarah pada ruang terbuka tempat sang hujan jatuh di sisi lain rumah yang terbuka. Bagiku, itu adalah salah satu arsitektur rumah impian yang akan aku bangun bila suatu saat nanti membangun keluarga. Hmm … what a view.

 

AH, hubungan tulisanku ini dengan hujan di site. Hmm … apa ya … ya seperti yang sudah dituliskan dalam paragraf pertama di atas. Hal ini, walau kadang menjadi membosankan untuk pekerjaanku – FYI: dalam Safety First, dalam keadaan hujan, pekerjaan ditiadakan – namun terkadang hal ini membuat beberapa memori dan impian dalam benakku muncul keluar dan itu merupakan lovely moment yang subhanallah. J

Leave a Comment

Not My Choice

Menurutku ini bukanlah suatu kebetulan. Tapi seperti sebuah jalan cerita yang sudah disediakan tapi tidak aku sambut sebagaimana normalnya orang yang akan menyambut hal ini apabila ada di posisiku.

 

Dimulai dari suatu kesempatan bagi diriku di tahun 2007 untuk memenuhi 3 SKS mata kuliah Kerja Praktek di Permigas ini – On Job Training sebutannya. Mulanya aku merasa tertantang untuk bisa menjadikan pengalamanku ini sebagai salah satu batu loncatan bagiku untuk bisa include ke dalam permigas suatu saat nanti dengan memanfaatkan ilmu Mikrobiologi yang aku miliki. Namun setelah aku masuk ke dalam sistem dan mengetahui beberapa hal yang kurang mengena bagi diriku dan juga bahwa ini adalah perusahaan asing – dengan segala hal yang tidak sesuai dengan idealisme, maka aku tidak melanjutkan kembali keinginan untuk melanjutkan bekerja di permigas seperti ini bila aku lulus nanti. Tokoh maya yang aku ciptakan dalam novelku tidak aku lanjutkan.

 

Setelah 2 ½ bulan di permigas itu, aku kembali ke kampus tercinta dan dihadapkan dengan suatu kewajiban untuk menyelesaikan studiku dengan mengambil mata kuliah Tugas Akhir 1 dan 2. Rasanya ingin sekali melanjutkan minatku di bidang bioremediasi untuk TA ini. Namun ternyata ada rencana lain. Saat itu Mikrobiologi tidak punya proyek bioremediasi yang bisa membiayai TA mahasiswa. Dan sebuah jawaban yang berhubungan dengan Mikrobiologi dan Perminyakan pun muncul. Departemen Teknik Perminyakan ITB menawarkan bantuan dana untuk melaksanakan TA di salah satu institusi privat ITB. Maka aku pun masuk ke sana. Dan tebak proyek apa yang aku kerjakan? Proyek yang berasal dari permigas yang sama dengan ketika aku melaksanakan KP/ OJT beberapa bulan sebelumnya. Then I thought that this company really connected with me.

 

Maha Besar Allah. Di sela-sela tubuhku yang sering kali terkena flu-batuk, asma, maag, dan thypus, Allah masih memberiku kesempatan untuk lulus tidak tepat waktu seperti yang aku impikan. Kurang dari 4 tahun. Rasanya saat itu tidak cukup rasa bersyukurku pada Allah atas keajaiban itu. Impianku untuk segera melanjutkan S2 menjadi pencapaianku yang berikutnya setelah lulus. Sambil melakukan apply ke sana-sini, aku melanjutkan freelance-ku di institusi Teknik Perminyakan ITB. Pun mengerjakan proyek yang sama pada perusahaan permigas itu plus dengan salah satu permigas di kepulauan seribu. Ah, ya, aku lupa memberi tahu. Tema proyek yang dipegang divisiku adalah MEOR atau Microbial Enhanced Oil Recovery. Teknik peningkatan perolehan minyak bumi dengan bantuan mikroba. Sounds great, rite?

 

Enam bulan berjalan. Di sela-sela freelance di institusi TM ITB, aku juga mengisi waktuku dengan bekerja sebagai asisten praktikum di Unisba untuk Lab. Mikrobiologi Farmasi. Pun menjadi asisten dosen untuk suatu proyek Pemda Cimahi untuk proyek lingkungan hidup mereka. Jadi secara tidak langsung, ketika aku masih terus berusaha untuk memperoleh beasiswa S2, aku berusaha memenuhi impianku untuk tetep berhubungan dengan lingkungan, minyak, dan mengajar – this one is in my blood, that I love to teach and one day I know that I can be a lecturer. Insya Allah.

 

Then, after all of my courages and efforts to achieve master scholarship, keadaan berkata lain. Saat itu salah satu temanku – bisa dikatakan teman, meneleponku untuk bergabung dengan salah satu perusahaan kontraktor lingkungan. Memilih antara tetap melanjutkan meng-apply dengan kondisi rejection hampir 8 kali dan bekerja – yang berarti aku harus fokus bekerja dan menyisihkan sementari impianku sejak kecil merupakan pilihan yang sulit. Bahkan setelah istikharah ku lakukan, kedua pilihan itu tetap menjadi pilihan yang sulit. Antara impian dan memenuhi kebutuhan pribadi – mengingat sejak lulus aku berjanji untuk tidak meminta bantuan kedua orang tua lagi. Dengan keadaan rejection yang terlampau banyak dengan biaya yang keluar terus tanpa hasil (belum – Insya Allah), bekerja menjadi salah satu pertimbangan untuk bisa mengembalikan kondisi keuangan tabunganku kembali untuk kembali berusaha mengejar impian beasiswaku kembali.

 

Then – tanpa disangka-sangka, permigas yang akan menjadi salah satu tempatku belajar dari perusahaan kontraktor ini adalah permigas yang sama ketika aku menjalankan KP/ OJT, sama dengan permigas donor biaya TA aku, sama dengan permigas yang membantu biaya penelitian proyek aku setelah lulus. Can you make some analysis what actually had happened with this bond? Seriously, I still can not. Just because I never want to work there.

 

Then now, until I get another tender from permigas lain, aku akan belajar banyak hal kembali di permigas ini. Tempat yang tidak pernah mau aku jadikan sebagai lahan pekerjaan aku. Serius. Aku benar-benar tidak ingin bekerja di sini. Tapi kenapa aku terus kembali di sini?

 

* Pro teman-teman FS yang awam: I never think and never want to work here. Truly. There was a lot of things that made me didn’t want to work here. So FYI, the reason why I always came back to this place is no reason. Because I didn’t know the answer also. And if you think that I want to work here, the first question is, why I didn’t apply to this company after I finished my OJT and all of project that lead me to this company? Definitely cause I don’t have any pasion to be here. So please, don’t think something that unreason. And just give me a courage to keep me feel comfortable in here. Thank you.

 

* Pro teman-teman yang berharap aku ke sini: You know why I won’t to be here. But thank you for all of your support to keep me comfortable here.

 

This is not my choice. But this is the choice that will lead me to the best way in the future. I do believe that. Insya Allah. [12.04.09]

Leave a Comment

Pentingnya Mikrobiologi!

Hari ini kantorku (alah kantor) kedatengan 2 orang OJT dari Total yang lagi ikut Training 16 bulan itu (waktu itu dipasang baligho-nya segede bagong di Gerbang Ganesha dan banyak juga anak ITB yang daftar, kan, ya? Tadi juga ada anak ITB-nya kata 2 OJT ini, tapi belum sungkeman sama aku. Hehehe.) – 16 bulan training lagi demi demi demi. Mending lamar langsung deh – aku sih gak :p

 

Datengnya satu-satu tapi jenis pertanyaan yang mereka tanyakan pada hampir mirip. Seputar mikroba yang dipake untuk bioremediasi dari sini dari mana ya? Ngolah tanahnya mikrobanya dari mana? Ngolah sampahnya mikrobanya dari mana? Mikroba yang ada di Storm Basin dari mana ya? Ya pokoknya ni mikroba yang selalu aku kedepankan ketika menerangkan inti proses dari semua degradasi yang terjadi adalah akibat ulah mikroba. Beda ceritanya kalo orang Total yang cerita. Sang mikroba disisihkan.

 

Nah, dapat diketahui bahwa masih banyak orang di dunia ini yang tidak tahu bahwa microbes are all around us gitu lho! Di mana pun kita berada, di situ ada mikroba! Bahkan di tempat yang tidak ada kita malahan mereka ADA! What a great living things! Nah, makanya, tolong dong jangan sok hebat sendiri kalau sok-sok’an gak tau tentang mikrobiologi. Hehehe. Semua orang kan punya kelebihan sendiri. Jadi mbok ya tolong … saling menghargai satu sama lain. Life is beautiful with a lot of different things of knowledge J

 

Mikrobiologi ilmunya luas sekali. Bukan hanya tentang penyakit, tapi tentang semua bidang kehidupan. Lingkungan, industri, kesehatan, makanan, umm … karena mereka ada di mana-mana, maka keberadaan ilmu ini sangat Subhanallah! Trust me!

 

By the way on the way, you can ask me everything about microbes such kind like bacteria, yeast-fungi etc, algae, and … even virus not include, but we can share also about this J [06.04.2009]

 

NB: sudah bertemu anak ITB kemaren yang training. Hehehe [08.04.2009] Tipe pertanyaan berbeda. Alah.

Comments (4)

Note to be thankful

“There are always obstacles in front of us.

Keep though and full spirit plus don’t forget to pray.

Those might help you to start your day with a light hearth and high focus.”

 

Siang lalu merupakan salah satu hal yang tidak aku sukai. Dimulai dengan keadaan malam hari yang kurang mengenakan hari sehingga membuat aku sesak napas. Untungnya pada keesokan harinya, aku sudah bisa beraktivitas dengan baik. Maka aku bangun subuh dan mencuci pakaian kotor yang belum sempat aku cuci minggu lalu karena masalah mengurus perpindahan tempat kos.

 

Namun ternyata langit berkata lain. Tiba-tiba saja hujan turun dan aku pun menjadi bingung harus menjemur pakaian yang agak banyak selama satu minggu itu di mana. Maka aku pun hanya menunggu. Hingga kemudian siang hari datang dan cuaca menjadi sangat panas. Satu hal yang tidak bisa kumengerti dari kondisi di lapangan Senipah ini adalah cuacanya yang kerap kali berubah dan tidak bisa diramalkan.

 

Datanglah panas yang terik itu hingga tengah malam. Rasanya seperti ada di gurun pasir. Mungkin bila aku sedang berkegiatan, maka panas ini tidak akan terlalu terasa. Namun karena pada hari kemaren itu aku sedang off dan itu pertama kalinya aku off dan diem di kost Senipah, maka hari terasa panjang dan menjengkelkan.

 

Hingga kemudian aku iseng-iseng on line dari mobile phone dan membuka halaman salah satu sahabat dekatku. Di sana tertulis bahwa hari Seninnya sangat menyenangkan untuk dia. Dan entah kenapa aku malah memberi komentar bahwa hari Senen lalu kemaren adalah salah satu hari miserable aku.

 

Ada satu hal yang belum bisa aku pahami di sini. Bila di Bandung dulu, keadaan sepanas atau sedingin apapun, aku bisa menuliskan hikmah harian barang satu kalimat. Tapi di sini, rasanya semua tampak susah dan menjadi mentok dan tidak beride. Mungkin kalau di Bandung aku bisa mengatakan bahwa aku adalah orang yang tidak bersyukur. Diberi hujan tidak mau, diberi panas terik juga tidak mau. Bukankah itu salah satu bukti bahwa manusia tidak pernah puas dengan apa yang diterimanya?

 

Pun kemaren merupakan hari yang aneh karena langit-langit di kamar kost baruku ada yang rembes air hujan dan anehnya ada pula tetesan air yang turun ketika tidak hujan. Pun keadaan menjadi sangar tidak kondusif ketika aku merasa geli dengan keberadaan anak kucing di atas langit-langit kamar kostku. Pun … hmm … to much kata ‘pun’, tetangga sebelah menyetel lagu dangdut keras-keras di siang hari yang terik itu. Bagaimana kondisi kejiwaanku tidak terganggu dengan hal seperti itu.

 

Sekali lagi aku jadi berpikir banyak hal. Mulai dari diriku yang belum bersyukur dengan diperolehnya tempat kost baru, dan juga cuaca yang berubah-ubah. Seharusnya aku juga bersyukur bahwa aku bisa beratapkan sebuah atap walau masih terasa panas.

 

Hmm, hal yang selalu menjadi kengerianku saat tiba dan sadar ada di sini adalah masalah air. Entah bagaimana rasanya sulit sekali menerima yang satu ini. Aku tidak habis pikir kenapa orang-orang di sini bisa baik-baik saja selama menggunakan air di sini. Padahal hal yang terjadi denganku jelas menunjukan bahwa aku tidak kuat menggunakan air di sini. Mungkin karena kulitku terlalu sensitif atau bagaimana aku tidak tahu. Tapi yang pasti saat ini kulitku agak bintik-bintik dan ada kutu airnya. Huks. Sedihnya.

 

Namun satu hal yang pasti aku syukuri saat ini adalah, bahwa pada akhirnya satu bulan maret ini pun selesai sudah. Hehehe. Aneh ya. Malah ingin cepat-cepat selesai. Karena jujur aku merasa belum memiliki jiwa di sini. Semuanya masih terasa tidak pas dengan diriku. Not fit well. My mind, my body, and my soul. But still, I should be thankful to Allah. And also to him, my best friend that send me beautiful word for encouraging me.

Leave a Comment

Jangan Numpang Beken

Malam ini aku dan rekanku menghabiskan waktu setelah maghrib dengan membahas “segala” hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Sungguh memang dunia ini membuat banyak mataku terbuka. Dan sungguh merasa di dunia ini manusia sungguh tidak dapat ditebak. Dan sungguh merasa bahwa pekerjaan itu sungguh WOW dalam berbagai artian yang positif dan negatif.

 

Salah seorang, bisa dikatakan teman, dalam pekerjaan yang bersinggungan dengan kami ini sering sekali membangga-banggakan atau simple-nya sih menyebut-nyebut nama orang atau nama lain yang berhubungan dengan dia tapo sebenarnya itu bukan dia. Rasanya seperti dia menggunakan orang lain untuk mengangkat dan membenarkan dirinya sendiri. Sungguh ada makhluk hidup seperti ini. Mungkin kalau dia tidak bersinggungan dengan orang lain tidak jadi masalah. Tapi kesannya karena dia “dekat” dengan orang yang dibanggakan, justru dia malah menyalahi prosedur yang ada. Dan ini jelas merugikan orang lain.

 

Kalau mau membanggakan diri, kalau aku boleh ikut berkomentar – dalam artian tidak ikut menjadi seperti itu, masya Allah, yang boleh membanggakan dirikan hanya Allah – walau salah seorang sahabat saya dulu ada yang bilang orang yang sombong perlu disombongi, tapi pada kenyataannya di lapangan saya hanya diam dan merasa orang ini benar-benar numpang beken istilahnya. Ya intinya dengan track record dia seperti itu, maksudnya apa sih membanggakan diri seperti itu. Mending kalau iya, nyatanya …

 

Sampai aku tadi bilang ke rekanku saking kesalnya bahwa kita itu jangan bawa-bawa almamater deh. Yang dibanggakan itu adalah tok diri kita pribadi, bukan almamater kita. Okelah lulusan ITB atau apa – dia juga bukan lulusan ITB, tapi untuk apa bangga ITB kalau nyatanya kita tidak memberi kontribusi apapun pada masyarakat. Tidak berkembang dan sekali lagi – seperti orang ini – menyebut2 hal lain yang menurut dia itu lebih oke deh, lebih hebat kali ya dan ada di atas kita semua. Non sense.

 

Sekali lagi posting ini bukan ditujukan pada orang itu saja yang nyombong padahal bukan satu almamater sama saya. Walau tolong deh – orang2 tuh maksudnya apa ya menyombongkan diri. Kalau udah lulusan ITB atau tetekbengek apapun yang orang itu banggakan, terus mau apa? Wong diri sendiri aja tidak sehebat itu. Numpang beken itu namanya, Bung!

 

Masih banyak orang yang lulus yang gak tau mau apa. Mau sekolah lagilah, bekerja, membuka pekerjaan, nikah, atau apapun itu yang ada di depannya, itu semua sesungguhnya seharusnya diperoleh dari usaha kita pribadi, bukan membangga-banggakan tapi hasilnya tidak terlihat dan masih gitu-gitu aja istilahnya.

 

Bukan orang lain yang seharusnya kita banggakan (atasan, relasi lalalala) tapi justru diri kita itu sudah seperti apa. Ya Allah. Rendahkanlah hati ini ya Allah, semoga tidak menjadi seperti orang itu dan orang lain yang hanya seperti itu. Karena sesungguhnya apa yang saya peroleh ini semata karena rezeki dari-Mu. Terima kasih wahai Allah. Membuka mataku melalui banyak hal di sekelilingku. [06.04.2009]

Leave a Comment

My Own Day

Biasanya setiap ke/ di Balikpapan selalu ada orang di sekelilingku. Tapi hari ini, aku merasa ingin jalan-jalan sendiri seperti kebiasaan aneh aku di Bandung. Untuk hanya sekedar makan sendiri sambil baca buku atau apapun yang bisa dibaca dan menyendiri. Menenangkan diri. Intinya ada masa untuk sendirian.

 

Biasanya juga acara menonton TV tidak bisa dilakukan sering-sering. Dan kali ini karena salah satu Mba kostan aku sedang jaga operasi shift malam, maka aku memuaskan diri dengan nonton National Geography Channel sendiri. Pun Star World. Aduh, kenapa di kampung Senipah itu tidak ada kayak begini sih. Parah. Jadilah menikmati hari sendiri lagi. Menyenangkan. Jalan di tempat perbelanjaan sendiri keliling-keliling. Sebenarnya ingin nyomot sana/i sesuka hati, tapi harus ingat bahwa masih ada 1 bulan ke depan yang harus dibiayai oleh gaji ini. Hehehe. Pun … ah, ada novel M.Crichton yang pengen aku beli tapi kok kali mahal, mahal kali ya … Harus menabung dulu berhubung kemaren memesan pada adik untuk mengirimkan beberapa hal yang gak ada di Balikpapan dan terpaksa harus nyari di Bandung. Apa ya ….

 

Mandi lama-lama, keramas, facial, dan ritual cewek lainnya setelahnya menjadi salah satu hal yang menenangkan hati. Di Senipah? Sepertinya tidak bisa melakukan hal seperti ini mengingat agak risih dengan air yang mengalir di sana. Aduh. Dengan berat hati harus mencari banyak treatment demi menjaga badan agak tidak terkontaminasi, terinfeksi, ter … yah, intinya kehipersensitifan kulit ini perlu dijaga terhadap bahaya laten yang datang selama menggunakan air di Senipah. What a water!

 

Baiklah, kembali pada today is mine. Jadi teringat dengan slogan wisuda ITB deh, “Today is yours”. Heu heu … My lovely campus. Jadi hari ini isinya memanjakan diri, deh. Sebelum besok turun ke lapangan lagi. Hahaha. Face the real world, San! [03.04.09]

Leave a Comment

Panas dan Dingin

Secara kamus, kedua kata ini adalah kata yang saling berlawanan. Tapi aku di sini menulis bukan untuk menenrangkan hal lawan kata atau apapun. Di sini mau menceritakan apa yang dimaksud dengan panas dan atau dingin oleh warga sekitar di Kalimantan ini.

 

Terinspirasi dari komentar-komentar kecil yang disampaikan oleh Mba2 kostanku mengenai rasa panas aka hareudang dan dingin. Hehehe.

 

Panas terpanas yang pernah aku alami ya satu-satunya adalah di Senipah ini. Minggu lalu ketika Mba Endang mengantar ke Senipah, itu adalah salah satu hari terpanas yang pernah aku alami. 34 derajat menyambut kami di sana!

Pernah juga mengalami yang namanya panas dan capek ketika menjadi trainer SMP YPWKS di Cilegon ketika Ramadhan. Kesan pertama ketika sampai di sana adalah ini ini panas banget! Tapi kembali belum mengalahkan panasnya Kalimantan selama aku OJT (On Job Training) aka Internship alias Kerja Praktek tingkat 3 dulu.

Kemudian Mba2 aku bilang, tadi siang panas banget di kostan yang menurut aku ini biasa. Mengingat membandingkan dengan Senipah ini tidak ada apa-apanya! Wohohoho!

 

Pun tiap malem di kostan Prapatan itu kan aku suka buka jendela (Kebiasaan membuka jendela atau pintu bila tidur – hahaha, tidak bisa dilakukan di Senipah mengingat keadaan yang agak umm … tidak aman kali ya kalau boleh aku sebut). Nah, Mba2 aku bilang, kemaren malem itu dingin! Sampai pada pake selimut! Gosh! Aku keringetan, bo! Ini namanya dingin??? Howala … Bandung apa, ya???

 

Beside, mengingat perbedaan panas dan dingin membuat aku kangen dengan kota Bandung, yang emang sih sejak aku lulus tingkat 3, Bandung serasa memanas dan tidak sesejuk dulu. But, masih ada moment Bandung adalah Bandung-ku. When it was rain! J Ketika udara dingin diikuti angin yang agak kencang dan ada cipratan air hujan. Rasanya Bandung sekali. Plus … as all of you read from previous posting-an, wangi tanah setelah hujan di Bandung (masih ada rintik-rintik) adalah moment yang manis untukku.

 

Then for me … atas rasa tidak terlalu panas dan tidak dingin di kostan Prapatan ini … I would like to be thankful to Allah. And also, for lovely taking care from all of my Mba2 kostan aku while I am here, then I just can say “Alhamdulillah!” [02.04.2009]

Leave a Comment

Liburan dan Motivasi

Kalau boleh jujur, salah satu hal yang membuat aku semangat bekerja di hari kerja adalah hari libur yang menungguku di penghujung minggu.

 

Waktu itu, ketika baru saja seminggu bekerja di Site Senipah, sebenarnya aku belum mendapat kesempatan untuk libur. Karena aku baru “belajar” bekerja di sana sejak hari Kamis. Dan prosedur kerja 5-2 hari bagiku belum berlaku. Maka dengan teknik persuasifku yang baik, hehehe – bercanda, aku meminta izin untuk diberi waktu libur 1 hari di hari Minggu. Jadi karena baru kerja hari Kamis, maka aku minta diberi waktu off 1 hari saja sudah cukup bagiku. Pun akhir minggu itu, aku sudah janjian ma Kakak dan Mba untuk bisa bersilaturahmi ke rumah di Wika (nama salah satu daerah di Balikpapan). Dan akhirnya datanglah hari libur pertamaku di pulau Kalimantan nan panas ini.

 

Ternyata dan ternyata, hari libur di hari Minggu ini tidak sepenuhnya aku gunakan untuk berlibur bersama keluarga Kakak, berhubung semalam juga sudah bercerita banyak hal dengan Kakak-Mba aku. Dan jadinya aku pergi mengantar salah seorang rekan kerjaku yang akan di tempatkan di Site milik Kideco di daerah 3 jam dari Penajam kalau tidak salah. Namanya apa ya, Mas tempat Kideco itu? Ya pokoknya mengantar dia ke tempat kerjanya di area batubara (tambah item ni Mas Arif – peace).

 

Nah, ternyata dari Balikpapan ke Penajam ini harus naik ferry. Dan aku kan belum pernah naik ferry sebelumnya, jadi aku menyambut ajakan kedua rekanku dengan senang hati dan minta izin pada Kakak-Mba dulu. Dan berangkatlah mobil kantor yang menjemput aku di Wika menuju … Pelabuhan Kariangau (ini, kan ya namanya?) dan kemudian menaikkan mobil ke dalam ferry.

 

Mungkin aku memang orang awam kali ya, jadi aku senang aja senyum2 berdiri di pagar pembatas ferry sambil ngerasain desiran angin bersama kedua rekanku yang nerangin banyak hal tentang hutan bakau yang ada di sepanjang pinggir Teluk Balikpapan (bener nggak sih namanya?) Ya pokoknya menyebrang dari Kariangau ke Penajam.

 

Senang. Mengisi liburan dengan perjalanan dan kisah cerita yang membuka salah satu cerita ke pintu cerita baru dalam kehidupan aku di sini (Bingung, kan?) Hehehe. Well, menanti waktu off minggu depan J [08.03.2009]

Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.