Archive for Thanks for AKSARA

Wanita dan Keluarga

Wanita dan Keluarga

Selepas shalat Dzuhur secara tidak sengaja saya bertemu dengan dua orang sahabat karib saya selama di SMA dahulu. Walaupun keduanya berkuliah di ITB, namun kami jarang sekali bertemu. Kami mengobrol panjang sekali di dekat kantin.

Mulanya kami membicarakan perkembangan kami selama semerter tiga ini, hingga lama kelamaan malah membicarakan masa lalu hingga cita-cita masa depan yang dahulu pernah dibahas bersama. Pembicaraan ini membuat saya tertarik karena kedua sahabat saya ini laki-laki dan pastinya mereka memiliki suatu pola pikir yang berbeda. Dan benar saja, ketika poin kelulusan kami bahas, sampailah pada suatu titik mengenai pekerjaan kami nanti.

Sahabat saya di Teknik Kimia mengemukakan pandangannya mengenai usaha berbisnis dan managerial lainnya. Dia tidak berencana bekerja di bidang dasarnya, namun berencana memiliki usaha sendiri yang mapan. Sedangkan sahabat saya di Teknik Industri berpikir untuk menjadi konsultan non-profit sambil melanjutkan sekolah ke Jepang dan menghabiskan masa tuanya menjadi seorang dosen.

Sebenarnya saya sedikit malu ketika mereka menanyakan cita-cita jangka panjang saya. Mungkin karena saya seorang perempuan, sehingga pola pikir saya benar-benar berbeda dengan mereka. Selain mencari beasiswa S2 dan S3 untuk menjadi dosen, saya berencana untuk mempunyai sebuah keluarga di mana saya akan menjadi seorang ibu.

Saya menuturkan pendapat saya tentang semakin berkurangnya moral-moral yang diajarkan dalam keluarga pada zaman ini. Mungkin hal ini dapat dilihat dari kondisi pergaulan remaja saat ini. Terlebih lagi dalam sinetron-sinetron di televisi, peran keluarga terdeskripsikan sangat minim. Saya berkata pada mereka bahwa perempuan senang membicarakan masalah anak – tanpa terpikir siapa pasangan kita nanti. Rasanya akan sangat indah ketika kita memiliki hubungan yang dekat dengan anak kita. Di mana kita mendidik dan menanamkan nilai-nilai positif terutama memperkenalkan Islam sejak kecil. Tidak banyak orang tua terutama ibu yang mengajarkan sendiri tentang Islam hingga sang anak tumbuh. Sering kali yang kita temui selama ini adalah menitipkan anak pada guru privat ngaji atau mesjid setempat.

Pernah saya bertanya dalam hati, mungkinkah salah satu faktor yang menyebabkan anak kurang dekat dengan orang tuanya karena faktor komunikasi? Kenapa anak merasa lebih nyaman bercerita – atau curhat istilahnya, pada teman dekatnya ketimbang pada ibu sendiri? Apa karena anak itu merasa kurang mendapat kepercayaan? Apakah pernah terpikir bahwa didikan di rumahlah yang membangun diri anak ketimbang lingkungan di luar?

Kalau kita amati remaja saat ini, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, moralnya jauh berbeda dengan orang zaman dahulu. Tidak perlu melihat jauh-jauh. Cobalah kita tengok keadaan mahasiswa ITB yang notabene pintar, tapi terkadang moralnya saja tidak baik. Bukan hanya sesama teman yang bertutur seperti ini, para dosen pun demikian.

Jelaslah bahwa peranan wanita dalam keluarga sangatlah penting. Wanita yang akan menjadi seorang ibu pada akhirnya, merupakan pembentuk dasar landasan seorang anak. Ketika mereka keluar dari rumah, baik-buruknya seseorang menjadi sebuah pandangan terhadap orang tuanya. Ketika anak baik, orang tua selalu dikaitkan, begitu pula sebaliknya. Tidak hanya menjadi seorang ibu, demikian pula halnya menjadi seorang anak, istri, nenek, dan lainnya. Wanita tetaplah seseorang yang memberi bingkai pada karakteristik sebuah keluarga.

Oleh karena itu, selain ingin menjadi wanita karier, sering kali saya berpikir, bahwa pekerjaan saya di rumah akan menjadi sebuah amanah yang lebih besar pertanggungjawabannya kepada Sang Khaliq. Bila saya tidak dapat menjadi seorang “wanita” di dalam keluarga, mengapa kita harus mencari yang lain? Bukankah kita akan mempersembahkan umahat terbaik dari rumah kita? [ ]

Leave a Comment

Kekuatan itu Bernama … Cinta

Kekuatan itu Bernama … Cinta

Betapa Allah sangat mencintai manusia. Ketika Dia menghidupkan Adam, sebagai manusia pertama, semua hal diberikan-Nya. Tempat tinggal di surga, istri sebagai teman hidup, dan segalanya yang terlengkap dan terindah. Bahkan ketika Malaikat Jibril bertanya untuk apa diciptakannya manusia, Allah berkata bahwa Adam lebih tahu banyak daripada kamu, dan memang benar, Adam lebih tahu apa-apa yang ada di bumi, sedangkan Jibril tidak tahu apa apa itu dan apa namanya.

Betapa Allah sangat mencintai manusia. Ketika Dia masih memberikan izinnya kepada Adam untuk dapat tinggal di surga lagi apabila bertaubat dan beribadah kepada-Nya. Padahal Adam telah melanggar larangan Allah.

Betapa Allah sangat mencintai manusia. Ketika Nabi-nabi diturunkan kepada seluruh umat manusia dari waktu ke waktu. Menyampaikan risalah-risalah kebenaran, iman dan takwa untuk menggiring manusia ke jalan yang benar dan Allah ridhai. Walau pada kenyataannya sering sekali manusia mencemooh dan tidak menerima kebenaran itu dengan baik. Hingga sekarang.

Dan rahmat Allah itu … selalu datang.

Manusia diberikan hidayah untuk dapat menyayangi. Siapa pun, apa pun. Ketika rasa sayang dan cinta itu timbul, apa pun bersedia manusia lakukan. Ketika sepasang pria dan wanita bertemu dan rasa cinta tumbuh di antara keduanya tumbuh, sang pria bersedia melakukan apapun begitu pula sebaliknya. Saat mereka menikah dan sang istri hamil, sang suami bersedia memenuhi semua permintaan istri – terlebih saat ngidam – walau harus mencari di tengah malam. Ketika mereka memiliki anak, apapun mereka berikan demi si buah hati. Begitu seterusnya ketika sepasang manusia diberi rahmat untuk saling mencintai.

Lain halnya dengan cinta di dalam keluarga. Seorang aktivis di kampus pun tak kalah dalam hal cinta. Ada mereka yang rela mentraktir gadis yang disayangi walaupun uang tinggal sedikit. Ada mereka yang mengerjakan tugas dengan giat setelah bertemu dengan pujaannya. Ada pula yang terinspirasi dalam bekerja setelah – hanya dengan – melihat pujaannya saja.

Pernahkah kita merasakan hal sedemikian dasyatnya saat kita mengakui mencintai Sang Khaliq, Allah SWT?!

Cinta adalah sebuah kekuatan yang menggerakan seseorang dalam melakukan sesuatu. Dengan cinta, banyak hal yang dapat dilakukan. Namun jarang sekali kita menginvestasikan rasa itu terhadap Allah. Apa yang kita lakukan dalam beribadah, apa yang kita lakukan dalam bekerja, apa yang kita lakukan untuk …. Sesungguhnya semuanya itu seharusnya adalah karena kita mengharapkan cinta Allah. Cinta yang paling hakiki. Cinta yang kepada-Nya tidak akan ada kesedihan. Cinta yang kepada-Nya tidak akan ada kesiaan. Berbeda dengan cinta kepada yang fana. Suatu saat pasti ada kesedihan, kesiaan, kemarahan, ketakutan, kecemburuan, dll.

Ketika kita mencintai Allah, maka kita akan berusaha untuk selalu mencintai makhluk lain karena Allah. Kekuatan itu akan membawa kita untuk selalu berusaha lebih baik dan lebih baik lagi dalam hidup. Memperbaiki ibadah, hubungan dengan Allah dan juga hubungan dengan manusia. Suatu pola yang kompleks namun indah. Saat kita mencintai, cintailah karena Allah. Niscaya Allah akan selalu merahmati kita. Uhibbukum fillah!

Leave a Comment

Yang katanya kecil-kecil itu tuh …

Yang katanya kecil-kecil itu tuh …

“Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.’”

[HR Imam Bukhari]

Seseorang mengusik obrolan seru kami. Tanpa rasa bersalah dia memasukkan semua sampah makanannya ke dalam kantong keresek dan membuangnya ke kolong bangku angkot. Adik dan aku meliriknya sinis. Tapi dia tidak bergeming. Ku lempar pandangan aneh padanya. Perempuan di hadapanku ini menutupi semua tubuhnya dengan pakaian tertutup. Tipikal para akhwat pada umumnya. Iseng aku memperbesar obrolan.

“Kebersihan itu, kan, sebagian dari iman ya, Dek!” aku meliriknya. “Padahal bajunya tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki.” Tidak ada respon. “Ih, pengen nyuruh dia ngambil sampah itu!” kali ini adikku yang bicara. Tetap saja tidak ada perubahan sikap.

Beberapa hari kemudian, kejadian yang serupa terjadi. Ketika seorang anak telah menghabiskan jajanannya, sang ibu mengambilnya dan spontan membuangnya ke kolong bangku. Hal lain yang membuatku tertawa adalah para remaja yang melakukan hal serupa. Namun ketika melewati Tempat Pembuangan Sementara, serta merta mereka menutup hidung dan mendumel, “Ih, bau sampah!” begitu katanya. Masya Allah!

Beberapa hari kemudian, kejadian berbeda yang masih membuat miris. Teman sekelasku mencontek. Aku mengenalnya dari tahun lalu bahwa dia doyan mencontek bahkan open book ketika ujian. Tanpa rasa bersalah dia melakukannya terus menerus. Setelah mengkhianati banyak orang, bahkan dosen kesayanganku yang sudah memberi kepercayaan besar, tetap saja dia tak urung berubah.

Masih banyak contoh hal lain yang menurut kebanyakan orang adalah hal yang kecil, sudah biasa, orang lain juga suka mengerjakan, dan banyak pembenaran lain untuk melindungi diri sendiri dari kesalahan.

Membuang sampah sembarangan, mencontek kapan saja di mana saja, berbohong kecil, berbicara kasar, budaya telat; semua hal itu adalah sesuatu yang selalu dikatakan biasa dan tidak masalah. Namun ada suatu hal yang tidak kita sadari bahwa hal tersebut bukan saja merugikan dir sendiri tapi juga orang lain.

Pembenaran terhadap diri sendiri sering kali didengar ketika kita menegurnya. Pihak tidak bertanggung jawab tersebut selalu berkata bahwa kerugian dia yang tanggung, dosa juga dia yang tanggung, jadi untuk apa orang lain mengurusi masalah dia padahal dia sendiri tidak peduli. Ini merupakan suatu pemikiran yang salah. Terlebih jika mereka menganggap hal ini bukan masalah serius yang perlu diperhatikan.

Jika dia tinggal di dunia ini sendirian, tidak masalah. Tapi Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Ketika suatu hal terjadi, maka akan berimbas pada pihak yang lain. Salah satu hal yang paling disesali adalah ketika hal kecil itu malah mengkhianati orang lain, membohongi publik, hingga akhirnya yang katanya kecil-kecil ini akan menumpuk dan menumpuk sehingga jumlahnya menjadi banyak. Belum lagi orang-orang seperti ini menganggap hal ini biasa, maka akan lebih sering lagi dilakukan.

Antara sadar dan tidak sadar, beberapa orang mungkin sangat luar biasa dalam beribadah, namun melakukan hal kecil saja sulit. Rasanya aneh apabila mampu melakukan hal besar tapi tidak dengan hal kecil. Padahal hal kecil itu merupakan salah satu fondasi. Terlebih bila yang kecil-kecil ini malah menggerogoti pahala kita selama ini.

Tidak ada salahnya apabila kita memperbaiki hal-hal di atas.

Ketika kita berada di ruang publik, usahakan agar orang lain tidak merasa terdzalimi oleh kita. Kita dapat menyimpan bungkus jajanan sementara ke dalam tas daripada mengotori angkot orang lain. Kita dapat mematikan rokok sementara, apalagi ketika melihat ada orang lain merasa terganggu. Kita dapat berhenti menyengajakan diri terlambat dan mulai memberi contoh pada orang lain untuk bisa menghargai waktu. Kita dapat membalas keikhlasan pengajar kita dengan memegang kepercayaan mereka. Tidak masalah memperoleh nilai kecil, asalkan kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Yang pasti kepercayaan mereka, hingga mereka mengetes kita dengan meninggalkan ruang ujian, dapat kita pegang teguh. Tidak ada salahnya juga bila kita memperhalus perkataan kita dan berhenti berbohong kecil pada orang tua.

Hal-hal kecil di atas juga bisa dijadikan kebiasaan yang positif daripada kebiasaan negatif yang merugikan. Bukankah Allah menyukai amal perbuatan yang kecil dan sering dilakukan?

Mengapa bangsa kita tidak maju? Salah satunya berasal dari kebudayaan yang katanya kecil-kecil itu tuh, yang sudah biasa dan toh semua orang melakukannya dan merasa tidak bersalah.

Apabila kita tidak malu terhadap lingkungan sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri, maka cobalah malu kepada Allah. Yang sering kali kita anggap bahwa tidak ada yang menyadari bahwa kita tidak berlaku salah. Bila masih menganggap hal “kecil biasa” itu kecil dan biasa … maka yang harus dipertanyakan adalah siapakah diri kita? [ ]

“Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlak dan akhlak agama Islam adalah rasa malu.”

[HR Ibnu Majah]

Leave a Comment

Pengertian Itu

Pengertian Itu

Sebuah SMS masuk. Ah, nama ini. Sebuah nama yang membuatku mau tak mau tersenyum. Jelas saja, baru kemarin sore saya berpikir bahwa saya tidak akan bertemu dengannya lagi karena dia akan pergi ke Jakarta. Tapi rupanya hari ini saya masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu dengannya lagi. Mungkin hari ini akan jadi pertemuan terakhir saya dengannya. Dia berencana untuk mengundang saya dan sahabat lainnya untuk sarapan bersama. Mengadakan syukuran kecil-kecilan katanya. Syukuran diterimanya dia di sebuah PTN bergengsi di Jakarta, Universitas Indonesia. Agenda pertemuan kami, dijadwalkan antara pukul sembilan atau sepuluh pagi.

Namun rupanya Allah berkehendak lain. Saya lupa bahwa sudah ada amanah yang mengisi agenda saya pukul sembilan. Dan saya yakin bahwa agenda ini tidak akan selesai hingga dua jam. Mulanya saya merasa bingung. Karena kedua hal ini menurut saya merupakan hal yang sama pentingnya. Memenuhi amanah dan memenuhi undangan.

Akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri amanah saja. Saya berusaha untuk izin pergi secepatnya, tapi rupanya tidak bisa. Oleh karena itu dengan berat hati saya mencoba untuk menghubungi sahabat saya itu. Meminta izin bahwa saya tidak bisa menghadiri acara syukuran dan perpisahannya. Dan betapa kaget dan bersyukurnya saya ketika sahabat saya membalas sms dengan bijaknya. Membuat saya merasa lebih tidak enak lagi. “Selamat berjuang ya, Ukhti! Salam buat yang lain!”

Salah satu kisah dalam hidup saya yang memberikan sebuah hikmah besar tentang besarnya arti sebuah pengertian di antara sesama. Ketika saya tidak bisa datang ke undangan acaranya, karena suatu hal, dia bisa mengerti dan memaklumi keadaan saya. Sebuah perasaan saling menghargai yang menurut saya merupakan salah satu hal yang jarang ditemukan di zaman ini.

Tidak jarang orang yang berpikiran bahwa teman adalah segalanya, mereka yang merasakan suka dan duka bersama. Mereka yang harus ada ketika kita menghendaki dirinya ada. Atau setidaknya memenuhi apa keinginan kita. Menurut saya tidak sekiranya seperti itu saja. Jika hubungan pertemanan merupakan suatu status ikatan saja, biarkan saja status itu ada. Tidak perlu kita repot-repot menghiasi isinya dengan segala yang bermakna. Toh ini hanya status.

Tapi bukan seperti itu yang dimaksudkan. Hubungan pertemanan ini bukan suatu hal yang bisa disebut sebagai status. Dalam hubungan ini tidak ada yang namanya putus. Dalam hubungan ini tidak ada yang namanya mantan. Hubungan ini membentuk suatu pola sinergis yang membutuhkan suatu saling kepengertian satu dengan lainnya. Bagaimana menempatkan diri kita sebagai seseorang yang memahami orang lain. Bagaimana pun caranya.

Pernahkah Anda berpikir, apakah Anda pernah memahami perasaan orang lain? Sejauh mana Anda menghargai teman Anda? Atau hal yang paling kecil saja, seberapa sering Anda menyapa dan menanyai kabar teman Anda bila bertemu? Sebuah rasa penghargaan yang besar. Bila kita mendapatkannya dari orang lain, kenapa kita tidak berusaha memberikannya pada orang lain?

Sekali lagi, senyuman dari sudut bibir saya terangkat. Mengingat rasa pengertian yang sahabat saya berikan. Walau untuk terakhir kalinya, hingga waktu mempertemukan kami kembali. Lambaian singkat kemarin sore ternyata memang tanda perpisahan. Walaupun begitu, saya yakin ikatan muslim di antara kami tidak akan hilang begitu saja. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang selalu meningkatkan kualitas ukhuwahnya dan kami akan menjadi salah satu di antaranya. Insya Allah.

Leave a Comment

Sahabat … indah!

Sahabat … indah!

“Bila kau dapat mengerti … sahabat adalah setia

Dalam suka dan duka

Kau ‘kan dapat, berbagi rasa … untuknya”

[Theme song Petualangan Sherina]

Sepenggal bait dari salah satu lagu yang terdapat dalam album seorang penyanyi cilik yang sering kali membuat saya senyum-senyum sendiri. Sebuah arti persahabatan yang indah. Siapa pun pasti pernah merasakan indahnya perasaan ini.

Teringat akan seseorang. Sehari ini sahabat saya meluangkan waktunya untuk datang ke Bandung. Dia adalah sahabat di satu jurusan dan tahun yang sama dengan saya yang mencoba mengikuti kembali dalam ujian SPMB tahun ini. Sore tadi, saat saya hendak pulang dari Salman, dia melemparkan sebuah lambaian yang sepertinya tidak akan saya lihat lagi selama satu atau dua semester ke depan. Saya yang tengah berjalan melewati koridor timur, hanya bisa melanjutkan perjalanan saya dan dia pun hanya mengantar kepulangan saya dari jauh. Rasanya seperti sebuah salam perpisahan.

Saat waktu membawa perjalanan persahabatan kami, mungkin tidak pernah terpikirkan bahwa akan ada sebuah fase yang disebut dengan perpisahan. Aneh memang, sering kali saya membaca sebuah buku yang bercerita tentang sebuah kepastian di mana ada pertemuan, pastilah ada perpisahan. Dalam cerita itu, tidak jarang saya merasakan sebuah perasaan kehilangan yang–walau hanya sementara, membuat imajinasi terhanyut dalam alur cerita apabila terjadi sebuah adegan perpisahan. Dan alur itu sering kali menjelma menjadi sebuah kisah nyata yang ternyata terukir dalam salah satu lembar sejarah kehidupan.

Sahabat, sebuah kata yang indah ketika kita benar-benar merasakannya. Ketika kita berada di dalamnya dan ketika kita menjadi pemainnya. Tidak asyik rasanya apabila kita hanya menjadi seorang penonton yang menyaksikan adegan persahabatan antara tokoh yang satu dengan yang lainnya. Pastinya akan sangat ‘wah’ ketika kita terjun dalam semua episode itu.

Sahabat, sebuah kata yang selalu membuat saya tersenyum bila menorehkannya di atas halaman-halaman buku diary. Mereka yang setiap harinya menjadi salah satu pengisi tokoh dalam film kehidupan yang terus berputar. Ya, mereka.

Diriwayatkan dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya sahabat atau saudara adalah yang apabila engkau lupa (khilaf atau melakukan kesalahan) maka ia mengingatkanmu. Dan jika engkau ingat, ia membantumu.” Sebuah hadits yang hingga kini menghiasi meja belajar saya. Mengingatkan saya akan arti sahabat.

Sebuah kesetiaan dalam persahabatan pastilah dilandasi oleh kepercayaan. Karena memang itulah modal utama kita dalam berinteraksi dengan sesama. Suatu kata yang terdengar biasa saja di kalangan–saat saya baru menginjak masa remaja dulu. Namun sekarang begitu mengena hingga terpatri dalam diri saya, bahwa kepercayaan dan kesetiaan itu penting dan … indah!

Betapa baiknya Allah, ketika dia memberikan kita sebuah perasaan yang luar biasa dalamnya. Dan tidak ada makhluk lain yang diberikan hidayah ini. Sebuah ikatan antar sesama yang saling menguatkan. Ada kalanya kita merasa sendiri, padahal begitu banyak sahabat kita di luar sana. Ada kalanya kita merasa tidak dibutuhkan, padahal ada sahabat yang senantiasa mau mendengarkan cerita kita. Dalam diri kita terdapat hak orang lain, begitu pula sebaliknya.

Sahabat … tempat kita berbagi rasa. Mungkin hal itu akan terus berlanjut. Ya, saya yakin. Walaupun jarak antara saya dan sahabat saya jauh, insya Allah ikatan ukhuwah antar sesama itu akan selalu ada. Karena Allah menciptakan manusia untuk saling mengenal.

Lambaian itu bukan untuk yang terakhir. Toh, itu akan selalu terbingkai rapi dalam senyum persahabatan. Insya Allah.

Leave a Comment

Beranikah berkata “Tidak”?!

Beranikah berkata “Tidak”?!

Pernahkah Anda merasakan bahwa sehari yang terdiri dari 24 jam ini kurang?! Pernahkah Anda merasakan sempitnya waktu hingga banyak kegiatan yang berbentrokkan dengan kegiatan yang lain?! Atau pernahkah Anda merasa tidak memiliki waktu hanya untuk sekadar bersantai?!

Terlintas sebuah kalimat dari salah satu tim nasyid yang mengingatkan kita akan pentingnya lima perkara dalam hidup, salah satunya adalah lapang sebelum sempit. Ibarat sebuah ladang yang terus menerus mengisi lumbung hingga penuh dan tidak ada ruang kosong lagi di dalamnya, apabila sudah melebihi kapasitasnya, lama-kelamaan akan hancur juga karena tekanan dari dalam. Begitu pula manusia – yang bahkan mengatur dirinya saja masih susah, tidak dapat dipaksa untuk selalu mengikuti berbagai kegiatan di sana-sini hingga akhirnya kesibukkan merenggut dirinya.

Ambilah sebuah cerita tentang seorang aktivis yang agendanya selalu dipenuhi dengan agenda rapat di berbagai kegiatan. Banyaknya amanah terkadang dinanti-nantikan sebagai ladang amal. Semua kepanitiaan diikuti, semua rapat diikuti, hingga suatu saat semua kegiatan itu berbentrokan antara yang satu dan yang lain. Kalau sudah terlanjur berjalan seperti ini, apakah yang akan kita lakukan?!

Salah seorang sahabat pernah berkata pada saya bahwa kesibukan merupakan salah satu hal yang dapat menjadi penyebab kefuturan – kondisi turunnya keimanan. Dalam posisi itu sering kali kita tidak sadar akan kewajiban kita. Bila pun ingat, saat itu tubuh dan otak kita sudah terlalu capai untuk melakukan kegiatan lain sehingga akhirnya pekerjaan itu tidak dilakukan juga. Dan ada kalanya semua hal itu membuat kita kering. Dalam pengertian selongsong raga kita seolah-olah kosong karena terkuras habis. Semua yang ada dalam pikiran kita, dituangkan sepenuhnya dalam rapat-rapat itu. Padahal … jarang sekali kita men-charge-nya – seperti up grading skill atau membaca setidaknya, sekadar untuk memberi pasokan makan (ruhiyah dan jasadiyah). Dan saat itulah dengan mudahnya setan mencuri sedikit demi sedikit keimanan pada diri kita dan … futur pun datang.

Hal itu sebenarnya dapat diatasi sejak awal dengan mencoba mengatakan tidak pada kegiatan yang menurut kita tidak mampu dilaksanakan dengan baik. Ya, terkadang sangatlah susah untuk mengatakan “maaf” dan “tidak” pada orang lain. Rasanya semua hal yang ditawarkan ingin selalu diambil, walaupun banyak konsekuensi pada akhirnya. Apabila kita sudah dapat me-manage diri sendiri dan memenuhi semua amanah itu dengan baik, maka tidak bermasalah. Namun sebaliknya, ketika beberapa amanah dari sekian banyaknya itu ada yang tidak dilaksanakan, sesungguhnya kita telah mendzalimi 3 pihak, yaitu : diri sendiri, amanah itu sendiri, dan orang yang memberi amanah.

Diri sendiri terdzalimi dengan terabaikannya diri karena kelelahan dan saat itu penyakit pun menyerang. Agenda kegiatan pun jadi tertunda dan tidak berjalan optimal. Sedangkan orang yang mengharapkan kehadiran kita pun, terus menunggu. Padahal waktu terus berjalan, tapi pekerjaan mennjadi tersendat karena diri kita.

Alangkah baiknya jika kita mulai memrioritaskan segala hal dan alangkah baiknya pula ketika kita tidak menyanggupi permintaan seseorang, kita mampu menolaknya. Bukannya menyanggupinya lantaran tidak enak terhadap orang yang minta pertolongan itu – alih-alih amanah itu malah tidak terlaksana dengan baik. Niat yang semula untuk mengharap ridha Allah, berubah menjadi ketidakenakan terhadap manusia.

Mulailah berpikir, dari seberapa banyak yang kita perbuat dan lakukan, manfaat apa yang kita peroleh?! Jangan sampai, setelah semua amanah itu kita ambil – baik terlaksana atau tidak, kita malah merasa tidak memperoleh apa-apa, malah lebih banyak kerugian yang kita dapat. Bukankah itu sia-sia saja?!

Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.