Wanita dan Keluarga
Selepas shalat Dzuhur secara tidak sengaja saya bertemu dengan dua orang sahabat karib saya selama di SMA dahulu. Walaupun keduanya berkuliah di ITB, namun kami jarang sekali bertemu. Kami mengobrol panjang sekali di dekat kantin.
Mulanya kami membicarakan perkembangan kami selama semerter tiga ini, hingga lama kelamaan malah membicarakan masa lalu hingga cita-cita masa depan yang dahulu pernah dibahas bersama. Pembicaraan ini membuat saya tertarik karena kedua sahabat saya ini laki-laki dan pastinya mereka memiliki suatu pola pikir yang berbeda. Dan benar saja, ketika poin kelulusan kami bahas, sampailah pada suatu titik mengenai pekerjaan kami nanti.
Sahabat saya di Teknik Kimia mengemukakan pandangannya mengenai usaha berbisnis dan managerial lainnya. Dia tidak berencana bekerja di bidang dasarnya, namun berencana memiliki usaha sendiri yang mapan. Sedangkan sahabat saya di Teknik Industri berpikir untuk menjadi konsultan non-profit sambil melanjutkan sekolah ke Jepang dan menghabiskan masa tuanya menjadi seorang dosen.
Sebenarnya saya sedikit malu ketika mereka menanyakan cita-cita jangka panjang saya. Mungkin karena saya seorang perempuan, sehingga pola pikir saya benar-benar berbeda dengan mereka. Selain mencari beasiswa S2 dan S3 untuk menjadi dosen, saya berencana untuk mempunyai sebuah keluarga di mana saya akan menjadi seorang ibu.
Saya menuturkan pendapat saya tentang semakin berkurangnya moral-moral yang diajarkan dalam keluarga pada zaman ini. Mungkin hal ini dapat dilihat dari kondisi pergaulan remaja saat ini. Terlebih lagi dalam sinetron-sinetron di televisi, peran keluarga terdeskripsikan sangat minim. Saya berkata pada mereka bahwa perempuan senang membicarakan masalah anak – tanpa terpikir siapa pasangan kita nanti. Rasanya akan sangat indah ketika kita memiliki hubungan yang dekat dengan anak kita. Di mana kita mendidik dan menanamkan nilai-nilai positif terutama memperkenalkan Islam sejak kecil. Tidak banyak orang tua terutama ibu yang mengajarkan sendiri tentang Islam hingga sang anak tumbuh. Sering kali yang kita temui selama ini adalah menitipkan anak pada guru privat ngaji atau mesjid setempat.
Pernah saya bertanya dalam hati, mungkinkah salah satu faktor yang menyebabkan anak kurang dekat dengan orang tuanya karena faktor komunikasi? Kenapa anak merasa lebih nyaman bercerita – atau curhat istilahnya, pada teman dekatnya ketimbang pada ibu sendiri? Apa karena anak itu merasa kurang mendapat kepercayaan? Apakah pernah terpikir bahwa didikan di rumahlah yang membangun diri anak ketimbang lingkungan di luar?
Kalau kita amati remaja saat ini, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, moralnya jauh berbeda dengan orang zaman dahulu. Tidak perlu melihat jauh-jauh. Cobalah kita tengok keadaan mahasiswa ITB yang notabene pintar, tapi terkadang moralnya saja tidak baik. Bukan hanya sesama teman yang bertutur seperti ini, para dosen pun demikian.
Jelaslah bahwa peranan wanita dalam keluarga sangatlah penting. Wanita yang akan menjadi seorang ibu pada akhirnya, merupakan pembentuk dasar landasan seorang anak. Ketika mereka keluar dari rumah, baik-buruknya seseorang menjadi sebuah pandangan terhadap orang tuanya. Ketika anak baik, orang tua selalu dikaitkan, begitu pula sebaliknya. Tidak hanya menjadi seorang ibu, demikian pula halnya menjadi seorang anak, istri, nenek, dan lainnya. Wanita tetaplah seseorang yang memberi bingkai pada karakteristik sebuah keluarga.
Oleh karena itu, selain ingin menjadi wanita karier, sering kali saya berpikir, bahwa pekerjaan saya di rumah akan menjadi sebuah amanah yang lebih besar pertanggungjawabannya kepada Sang Khaliq. Bila saya tidak dapat menjadi seorang “wanita” di dalam keluarga, mengapa kita harus mencari yang lain? Bukankah kita akan mempersembahkan umahat terbaik dari rumah kita? [ ]