Archive for Uncategorized

Good Luck!

Ada 2 orang sahabat yang pernah sama-sama bercita-cita bersama denganku untuk hal yang berhubungan dengan kata sakti ini: Good Luck! Ketika kami sama-sama memiliki mimpi yang sama untuk sekolah ke jepang.

Salah seorang dari mereka, alhamdulillah, mampu merampungkan cita-citanya melalui salah satu beasiswa bergengsi ke Osaka. Dulu kami sama-sama memasukan berbagai aplikasi beasiswa ke Jepang sejak kami berdua sama-sama lulus di waktu yang sama. Lebih dari 5 beasiswa saat itu yang kami ikuti. Dan alhamdulillah sahabatku itu memperolehnya. Sedang aku ada jalan lain yang diberikan oleh Allah.

Baru saja aku meneleponnya. Dia sudah di bandara. Bercerita tentang rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya langsung abroad. Ke Jepang. Jadi ingat masa-masa belajar bahasa Jepang dan nonton dorama. Rasa subhanallah ketika kami dulu sama-sama merajut mimpi bersama untuk sama-sama bisa sekolah ke Jepang. Dan rasanya pun kali ini tetap subhanallah walaupun saat ini Allah baru mengizinkanku hanya untuk mengucapkan selamat pada sahabatku itu untuk ke Jepang. Rasanya subhanallah.

Dan untuk kesekian kalinya kami kembali membahas film Good Luck! di telepon. Dan dengan suara penuh haru darinya dan diriku yang sangat mudah terharu ini (baca: terbawa emosi untuk menitikan air mata) kami saling mengucapkan: Good Luck!

Kembali, aku berdoa agar pada suatu hari nanti, rezeki itu ada bersamaku. Ada bersama orang dan orang-orang yang aku sayangi. Untuk dapat merasakan perasaan dan pengalaman yang subhanallah itu. Sekolah di luar negeri. []

Leave a Comment

sumari bpn-bdg-bpn

tulisan ini agak tidak penting. namun sebenarnya isinya sangat penting. hanya saja penulis sedang tidak ingin menulis. sehingga informasi penting yang terjadi selama di bandung belum bisa tersalurkan dengan baik. padahal sungguh banyak hal yang subhanallah yang memperkaya hati selama di bandung ini. my hometown. ah bandung. – tulisan ini akan dilanjutkan di lain waktu.

Leave a Comment

Ramen Girl

Hari ini hanya sendiri. Kemudian iseng ketika istirahat menonton Star Movie. Menemukan sebuah film unik yang berjudul Ramen Girl. Aku lupa tepatnya itu apa nama filmnya. Tapi kalau tidak salah namanya itu. Film ini membuat agak kesal karena Abby si tokoh utama tidak mau belajar berbahasa Jepang padahal dia tinggal dan kerja di sana.

Hidup Abby seperti kebanyakan gadis US lainnya. Hanya sekedar menjalani bukan mengisinya. Hingga suatu saat dia melihat sebuah kedai ramen di seberang apato-nya dan berniat untuk belajar membuat ramen. Hingga kemudian dalam waktu yang lama dia belajar membuat ramen dengan sensei-nya. Yang dengan gak bangetnya yang satu ngomong Nihongo yang satu ngomong Eigo. Kebayang gak sih?

Yang bikin subhanallah dari film ini menurutku adalah spiritnya. Seishou. Jadi dalam meramu ramen, bagaimana pun tekniknya, yang paling utama adalah emosi yang dituangkan ke dalamnya. Seperti bagaimana hidup. Hingga pada akhirnya, ketika bahasa – yang kusangka menjadi kendala – dalam film itu, tidak menjadi masalah ketika keduanya sama-sama mengerti akan spirit yang harus dituangkan dalam berbuat dan melakukan sesuatu.

Still I have a spirit?

– Teringat semangat yang kucurahkan untuk belajar bahasa Jepang dahulu dan kini tertinggal di salah satu bilik lemari dalam diriku. [ ]

Comments (1)

Beriringan

Ada tiga orang berjalan di depanku. Sebagai satu-satunya wanita, aku agak mengambil jarak di belakang. Berjalan lebih perlahan sambil menengok ke arah jalan. Sudah gelap. Semua orang pasti langsung beraktivitas di rumah setelah menyelesaikan shalat tarawih.

Baru beberapa langkah. Salah seorang dari tiga orang itu menunggu dan menyamakan langkahku. Aku tersenyum menengok ke arahnya. Dia berkata sesuatu padaku.

“Kenapa sih selalu jalan di belakang? Kan diminta untuk mendampingi. Artinya jalan di samping, beriringan, bukan di depan, bukan pula di belakang. Ya, Bun?”

Aku mengangguk. [ ]

Comments (3)

Sepasang-sepasang

Langkah kakiku tidak pernah berhenti. Mereka diciptakan sepasang untuk saling beriringan. Saling melengkapi satu sama lain. Begitu pula bagian tubuh lainnya yang banyak diciptakan berpasangan untuk saling bahu-membahu mengerjakan amanahnya sebagai ciptaan Sang Khalik.

Kesepuluh jariku tidak pernah berhenti menari di atas keyboard barang satu hari. Mereka diciptakan sepasang untuk saling mengisi bagian-bagian sesuai fungsinya masing-masing. Begitu pula bagian tubuh lainnya yang banyak diciptakan berpasangan untuk saling melengkapi tugas kerja mereka masing-masing yang diciptakan untuk membantu manusia untuk beribadah.

Begitu pula mataku. Ada sepasang. Alis mataku ada sepasang. Lubang hidungku ada sepasang. Bibir di mulutku ada sepasang. Pipiku ada sepasang. Dan hampir seluruhnya bagian luar tubuh manusia diciptakan simetris. Memiliki aksis sebagai tanda bagian kanan dilengkapi dengan bagian yang sama di sebelah kiri.

Mengapa ada sepasang-sepasang seperti itu? [ ]

Leave a Comment

Rasa [2]

Air mataku mengenangi separuh mataku. Kali ini bukan hanya senyum yang menghiasai wajahku. Tapi air mata itu pun ikut menghiasi. Masih berlabel rasa syukur.

Leave a Comment

Posisi 1 2 3

Tiba di Balikpapan kembali. Memenuhi kewajiban yang selama ini tertunda setelah menyelesaikan kewajiban lain di kota Bandung. Memenuhi posisi untuk belajar bekerja kembali. Dan mengetahui posisi setiap orang di sini.

Ada kalanya saya hanya ingin mendengarkan orang mengeluarkan keluh kesah mereka tanpa perlu meng-flor-kan hal itu pada atasan saya. Ada kalanya saya merasa perlu mendengarkan mereka menceritakan semua hal yang terjadi ketika posisi saya sedang tidak ada di Balikpapan. Tapi saya bukan orang yang pasif. Saya perlu mengeluarkan apa yang ada di kepala saya. Saya orang yang reaktif ketika suatu masalah diceritakan oleh Back to Back saya baik itu saya dukung atau tidak. Saya hanya merasa bahwa saya perlu membaginya.

Dan entah kenapa hari ini rasanya semua kepala saya terisi sangat penuh. Bukan dalam artian negatif. Tapi entah ada sesuatu yang menahan apa yang akan saya keluarkan dari dalam kepala saya ini. Seperti tersendat dan hanya membuat saya tertegun. Berpikir berulang kali kenapa hal seperti ini saja tidak bisa dikomunikasikan langsung. Mengapa semua hanya berupa monolog, bukan dialog. Satu hal yang membuat saya sendiri tidak habis pikir dengan posisi-posisi mereka yang seharusnya bisa menyelesaikan ini.

Dan kembali ketika saya hanya bisa menanggapinya sedikit dan membaginya sedikit, saya hanya bisa tertegun karena merasa ada yang menahan dikeluarkannya apa yang ada di kepala ini. Bertanya sendiri, apakah otak ini baru pada posisi kopling 0 (nol) untuk hanya menerima, kopling 1 hanya untuk menanggapi sesaat, atau posisi lainnya. Karena rasanya dia sudah berteriak di dalam ingin segera menginjak kopling 5.

My brain need to be … spill it out.

[di tengah ketidakpuasan batin saat menerima informasi]

Leave a Comment

Ibu dan Bunda

Panggilan yang paling aku sayangi pada seseorang hingga saat ini adalah panggilan pada ibu. Ibu. Demikian dengan sederhananya panggilan itu menjadi sebuah panggilan yang paling berarti bagiku dan kuharap bagi beliau.

Banyak panggilan yang dapat diberikan pada orang yang telah melahirkan kita ke dunia ini. Ibu, Bunda, Mama, Mamah, Mami, Mum, Mom, Muti, Mamak, Mamaw, Enyak, Mbok, Pun Biang, apa lagi ya? Ada yang mau menambahkan?

Namun bagiku, panggilan terbaik padanya adalah Ibu saja. Walau aku juga punya panggilan sayang lain padanya, yaitu Mum dan Muti. Menurutku itu adalah bahasa terindah yang mengikatkan antara seorang ibu dan anaknya.

Kemaren ada seseorang yang tiba-tiba menggelitik keinginanku kembali untuk dipanggil seperti itu juga. Tapi karena menurutku Ibu hanya ada satu bagiku, bila saatnya tiba bagiku, aku ingin anak-anakku kelak memanggilku Bunda. Entahlah. Tidak pernah terpikir untuk dipanggil dengan sebutan lain. Rasanya Ibu dan Bunda adalah dua pilihan terbaik.

Aneh. Padahal aku tidak pernah memintanya untuk menyebutku seperti itu. Tapi tiba-tiba saja kata panggilan itu muncul begitu saja di udara tanpa diminta, tanpa terpikir, dan tanpa diduga. Hingga – jujur – membuat aku terdiam. Mengingat tidak pernah ada yang mengusik masalah ini barang sekali pun. Dan benar, aku hanya bisa termenung sesaat hingga akhirnya kembali sadar dengan sejuta pikiran. Ini sungguh aneh.

Tulisan ini aku tulisan dengan keisengan semata di tengah-tengah membaca hasil analisis contoh tanah dari Mas Okki – back to back aku di site. Karena menurut sahabatku dan aku, sesuatu yang terlintas tiba-tiba tidak akan muncul lagi. Dan seperti kebiasaanku, aku akan mengabadikannya dalam beberapa goresan tinta – beberapa ketikan kata di keyboard dan membuatnya menjadi salah satu moment hikmah yang Allah ajarkan padaku melalui dunia ini.

Untuk Ibu yang hanya ada dua saat ingin aku bersamanya, now and forever:

“As you know, Mum, how much I love you and how much I adore you. Now and forever, insya Allah.”

Dan … mungkin untuk seseorang yang baru saja membuat aku menulis ini. Terima kasih ya Allah, for giving me such person who cares of me and … love me.

Comments (2)

Still a Friend of Mine

You know as true as trees are tall
And autumn leaves do fall
Oh, it sometimes rains in paradise
And even the warmest heart can turn to ice

I know it happend to us all
Every kind of people fall
And after all the tears are gone
Do we have the heart to carry on

Chorus:
Here and now, still somehow
Still a friend of mine, oh you’re still a
friend of mine
Still a friend of mine, you’re still a friend
of mine
Still a friend of mine, oh you’re still a
friend of mine
Oh

To think of all the times I hurt you
And never thought it through
Oh, I treated you so badly baby
Could such a cruel heart ever be free

I know it happens to us all
Every kind of people fall
Oh, and after all is said and done
Do we have the heart to carry on

Chorus

I know as long as I’ve got you
And we do the things we do
The next time baby
That our love breaks down
I’ll do the best that I can
To turn it around

Chorus

Time and time and time again
I’m gonna be right here for you baby
Seasons come and seasons go
Gonna be right here for you

Leave a Comment

Liburan dan Motivasi [Part 2]

Kembali, liburan aku off kerja 2 hari menjadi salah satu waktu yang aku tunggu-tunggu dan menjadi motivasi untukku bekerja selama 5 hari di lapangan. Hehehe. Tapi jangan salah, aku giat dan banyak belajar kok selama bekerja. Menyelesaikan kewajiban adalah yang utama. Hak mengikuti. Yang penting kewajiban. (Sepertinya aku pernah mengatakan hal ini pada rekan2ku).

 

Off minggu ke-2

Yup. Pada off minggu ke-2 ini [14-15.03.2009] aku kembali menginap di Wika. Jumat malam adalah salah satu hari yang aku nantikan karena (walaupun oke, aku belum mandi – intermezo: males banget mandi di Senipah, airnya itu …) dari pulang kerja langsung berangkat ke Balikpapan! Hore! Walau ketika sampai kantor, ada rapat dadakan dulu. Rapat suatu masalah yang terjadi sejak bulan November 2008 – boro-boro aku baru juga dateng udah ikut nyemplung. Membaca situasi dan diperjelas oleh Mas Okky (rekan sesama Supervisor) dan adalah orang namanya Mas Imam (Hehehe), membahas mengenai masalah ini. Karena saat itu ada salah satu rekan Supervisor kita yang mengambil keputusan yang merembet panjang dan panjang … sampai … beberapa hari sebelum aku menulis ini. Hahaha. Yah, lupakanlah.

 

Nah, terus setelah rapat dadakan ini ya … dianter ke Wika dan ya … oh ya … aku berkunjung ke kostan lama aku di Prapatan Atas. Kangen! It was like de javu! Dan kami – ehm, aku ke sanalah berbincang sebentar. Lalu segera balik karena sudah malam dan lain suatu hal lain yang lain (Hahaha, belum bisa menceritakan kejadian gaib ini). Dan ya su … malam berdiskusi lebar lagi kayak biasa.

 

Nah, enaknya Kakak lagi off juga pas aku off adalah karena Kakak-Mba nganter aku subuh dari Balikpapan ke Senipah. Jadi enak.

 

Off minggu ke-3

Ohya, salah satu hobi aku ke Balikpapan adalah karena aku bisa bermain dengan Lyla. Keponakan aku yang ngegemesin. Hehehe. Cerita di minggu ini apa, ya? Sepi. Ada yang pulang kampung …

 

Off minggu ke-4

Hanya ke Balikpapan 1 hari dan menginap di Prapatan. Berhubung menyusahkan orang terus di Wika dan Lyla masuk RS. Huhuhu. Ponakanku …

Nah, ini pertama kalinya aku diem sendiri di kostan. Ohya, intermezo – aku sudah pindah ke kostan yang baru lhooo – ya karena satu dan lain hal di kostan yang lama. Diem di kostan adalah day mare! Karena kerasa panas!

 

Off pada waktu yang dipercepat

Berhubung ada sesuatu di kantor dan SDM kantor dan lain-lain (Ada yang mau pindah kerja, ada yang istrinya ngelahirin, ada yang training di Bandung – jahat, dan lain-lain), maka off ku dipercepat karena sabtu-minggu aku harus menggantikan posisi yang kosong. Jadilah.

 

Dua hari ini kembali menginap di Prapatan. Menemukan suatu kebiasan baru Mba2 aku. Yaitu makan dan makan dan makan. Salah satu hal yang tidak bisa aku ikuti karena taulah … aku kan gak suka makan … huhuhu … tapi aku senang J (Walau dimulai dengan pagi yang kacau – tapi terima kasih ya Allah, karena aku bisa mengeluarkan seluruh unek-unekku dan ngerasa lebih plong karena banyak hal beberapa minggu belakangan. Thank you, Mas! J). [02.04.2009].

Comments (1)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.