Spring

)

One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.

[Autumn to Spring on 08.08.2008]

Advertisements

Comments (2)

Bento

Hari ke-10. Bento. Bekal khas Jepang. Tapi jujur saya bisa dibilang mungkin belum 10x bikin bento buat kakak karena alhamdulillah sekolah kakak menyediakan makanan halal. Biasanya kalau ada event saja. Karena SD kakak dekat dengan dormitori internasional, maka sekolah kakak sangat terbuka dan menfasilitasi banyak hal bagi siswa internasional salah satunya menu halal. Bahkan sampai ada meeting sama sekolah, lho! Masya Allah luar biasa pokoknya sekolah kakak.
Nah, terus mau cerita apa atuh kalau jarang buat bento? Hahaha. Ya, bento buat kalau jalan-jalan atau piknik, lah. Udah mah hemat, tentunya nggak ragu kehalalannya. Kalau jalan, kami biasanya bawa bento jadi kadang makan di taman yang deket-deket tempat tujuan. Kalau piknik ya tentulah sudah pasti. Selain itu juga bekal yanda dan saya di kampus.

Bentonya bikin apa? Macem-macem. Yang paling gampang ya onigiri isi macem-macem. Kalau gak nemu tempat, bisa sambil makan duduk di sepeda. Onigiri teh sejenis lontong isi bentuk segitiga. Memang makanan paling praktis dan padat gizi, hehe. Alhamdulillah sampai sekarang kami sekeluarga seneng banget beginian. Di mana ada taman di sana gelar tiker dan makan, hihi. Pasti kangen nanti. Apalagi warteg di mana-mana gampang mau makan. Hihi.

Tapi inget bento jadi inget ibu saya. Saya nggak punya uang jajajn karena ibu rajin membuatkan saya bekal setiap hari. Huhuuu. Jadi kangen. Sekian sharing hari terakhir 🙂

Leave a Comment

Sepeda 2nd Hand Shop!

Hari ke-9. Selain Book Off, yang nghits di mari adalah 2nd Hand Shop, alias 2nd Street, alias Recycle Shop. Seperti yang sudah diulas sedikit di cerita Book Off, kita bisa jual dan beli barang-barang. Harganya bisa drop banget atau kalau masih bagus pisan maintenance-nya harganya masih lumayan. 

Hampir semua mainan kakak dan adik produk toko-toko jenis ini. Dan yang paling kece adalah sepeda gear kesayangan kakak. Setelah dapat 200 bintang Ramadhan, kakak dan yanda keliling toko mulai dari toko sepeda beneran sampai toko 2nd. Ada 6 toko, lah katanya. Di sini kakak juga belajar membandingkan banyak hal. Mulai cencu saja harga, tapi juga belajar detil sepeda. Dari sepeda yang model gina gini gitu (tanya yandanya, jangan saya). Qodarullah, 2nd Shop depan apato saya setelah sekian lama kami bolak balik nanyain sepeda, akhirnya ada juga! Waktu survey, harga baru kata yanda 19000¥. Alhamdulillah walau 2nd, kami dapat 6000¥. Malah kakak jadi belajar banyak. Cari minyak buat rantai, beli lampu buat di sepeda, dan bertanggung jawab dengan kunci sepeda – yang masih nempel juga 😂. 

Bener kalau sabar mah, rezeki nggak kemana. Insya Allah awet 4 tahun ke depan, ya, kak. Menemani gowes kece kita kemana pun. 

Leave a Comment

Bus v.s. SEPEDA

Hari ke-8. Ngebut. Supaya dapet badge (jujur banget. Karena ternyata 10 hari belakangan saya kudu ngajar exchange student sama panen data, haha). Kembali ke materi tentang cerdas finansial. Kali ini sebenarnya antara cerdas finansial dan fitrah jasmani kakak yang udah jagoan gowes sepeda mendaki gunung lewati lembah seperti hari ini yang telah berhasil gowes 15 km! 

Ketika kami mau berangkat ke rumah Tante Raditz yang ternyata di ujung bukit sana (hahaha, asli ni kota sakamichi banget!) kakak semangat banget naik sepeda. Walau berhenti-berhenti karena suhu feels like 38 dan nanjak mantap! Dikira pas mau lanjut ibu ajak belanja plus jalan-jalan dia akan milih naik bus atau kereta. Ternyata! Jreng jreng! Dia mau gowes, lah! Masya Allah. 

Leave a Comment

Barang Lungsuran 

Hari ke-7. Karena banyaknya siswa internasional yang datang silih berganti, sekolah kakak sudah biasa meminjamkan barang-barang sekolanya. Mulai dari study tools, life bag, baju olahraga, pianika, persiapan buat disaster, dan tentunya tas sekolah anak SD Jepang yang terkenal itu; randoseru.

Karena kami juga tidak akan lama di sini, maka kami meminjam semua barang tersebut, kecuali yang memang harus beli seperti barang habis pakai. Contohnya pensil warna, cat air, dan lain-lain.

Namun suatu hari sepulang sekolah, kakak bertanya, “Bu, aku kok belum dapet tas buat nyimpen barang sama piano?” Saya bertanya memang belum dibagi Sensei? Dia jawab belum. Lalu beberapa hari kemudian, dia bilang lagi, “Bu, aku udah dapet dari kokusai shitsu. Tapi itu barang kakak kelas yang dulu. Kenapa aku gak punya yang baru kayak teman aku?”

.

.

.

Di situ saya mulai berdiskusi dengan kakak. Ternyata selain bukan baru, juga karena barang dia tidak seragam dengan teman-teman sekelasnya yang semuanya dibeli berupa barang baru di hari jualan sekolah. Di mana saat itu saya tidak membeli setelah berdiskusi dengan suami dan banyak teman-teman yang terlebih dahulu anaknya masuk SD. Alhamdulillah sekarang kakak sudah paham dan tetap percaya diri. Dia sudah paham bahwa yang penting fungsinya, dia tidak akan sekolah sampai lulus SD di sini, akan kembali ke Indonesia, dan uangnya bisa ditabung buat yang lain. Peluk kakak.

Leave a Comment

Sepeda vs Bus

Hari ke-6. Setelah punya sepeda ber-gear 3×6 sendiri (Cie cieee), setiap hari kakak inisiatif nanya kapan kita akan ke Seiyu – nama swalayan di sini. Atau jika sudah ada yang abis, dia akan inisiatif nanya kapan beli, nanti dia akan mengantar ibu. Hihi, senang rasanya ada yang mau nemenin belanja.

Sebelum sebelumnya, jika kami akan belanja, pilihannya adalah naik bus (atau kalau jauh naik subway) atau dibonceng. Ya kalau emak bapaknya lagi nggak pegel, kita gowes santai boncengin anak dua. Tapi kalau cuaca lagi kurang kece, maka kami akan naik bus.

2018-06-29-PHOTO-00006537.jpgSaat punya sepeda baru hasil mengumpulkan bintang, kakak bilang, `Aku mau ngerasain gimana capenya ibu kalau bonceng aku naik sepeda ke mana-mana`. Huhuuu, terhuraaa! Eh, terharuuu!

Walaupun baru sejak masuk SD tiap naik bis kakak bayar (pakai kartu anak sekolah yang setengah harga), tapi kakak udah tau kalau naik sepeda bisa lebih hemat pengeluaran. Hihi, alhamdulillah. Terima kasih, Sayang!

Leave a Comment

Book Off

Hari ke-5. Di sini, orang Jepang benar-benar menerapkan sistem 3R yang dipelajari dulu yakni Reuse, Reduce, Recycle. Nah, ada toko namanya Book Off di mana orang bisa bertransaksi jual beli barang yang sudah dipakai. Mungkin sama kaya Pasar Gedebage atau Banceuy di Bandung dan beberapa toko barang bekas. Tapi ada bedanya karena kadang kalau di sana, barangnya suka udah kucel (kalau baju). Sedangkan di sini, bener-bener seperti baru karena ingat jargon orang Jepang `Jangan menyulitkan orang lain` yang diterapkan di segala aspek.

Nah, kalau beli mainan, saya pasti ajak kakak ke Book Off. Dia bisa milih mainan yang limited edition alias paling hanya ada 1-3 barang, hehe. Alhamdulillah kakak juga mengerti bahwa ibu belum bisa membelikan mainan baru. Dia juga, kadang saya suka sedih, selalu bertanya terlebih dahulu, `Ibu, ini mahal, nggak?` sambil dia bandingin harganya. Dia lalu akan belajar memilih beli 1 tapi lebih mahal atau beli 2 tapi harganya tidak mahal dan barangnya kecil.

Alhamdulillah, sampai saat ini semua mainan robot-robotannya hasil berburu di Book Off semua, hehe. Terima kasih, Sayang, sudah bantu ibu.

Leave a Comment

Menabung “Bintang”

Hari ke-4. Padahal harusnya hari ke-7 atau 8. Baiklah. Cemilan Rabu kali ini adalah tentang “Mengajari Anak Menabung”. Tapi kali ini saya akan sekilas cerita tentang menabung yang lain, berkenaan dengan Ramadhan lalu. Juga karena saya baru sadar kakak sudah lama tidak menabung uang seperti di Indonesia dulu. Hmmm.

Sekilas Ramadhan lalu di kota Sendai, Miyagi, Tohoku, Jepang ini; sekolah kakak merupakan salah satu sekolah yang mensupport dan menghargai siswanya untuk melaksanakan ibadah agamanya. Salah satunya adalah dengan memberi waktu dan tempat terpisah ketika teman-teman sekelasnya makan siang. Bahkan saat tugas mempersiapkan makan pun, diizinkan tidak ikut. Tapi selebihnya sama, kegiatan olahraga seminggu 3x tetap diikut dengan semangat. Dan keukeuh nggak mau minum air atau berbuka.

Karena apa?

Teori reward yang masih pro kontra ini menjadi salah satu cara saya memperkenalkan giatnya beribadah. Untuk anak seusia kakak yang masih belajar tidak pamrih (apalagi ikhlas, sampai emaknya gede juga masih) cara ini masih efektif hingga suatu saat nanti dia paham “why” beribadah bukan hanya untuk mengejar reward (atau pahala).

Jadi jawabannya karena dia mengejar (pahala dari Allah) dan bintang dari emaknya yang bisa ditukar dengan reward berupa sepeda 18 gigi! Hehe. Kegiatan menabung bintang ini dia peroleh dari beberapa ibadah seperti shalat 5 waktu, tarawih, shaum, ngaji, sedekah, membantu orang tua, sampai berangkat sekolah tepat waktu. Berdasarkan kesepakatan yang dibuat, dia akan memperoleh rewardnya bila menabung 200 bintang.

Di mana cerdas finansialnya? Karena saat ini kakak belum pegang uang, maka metode mengumpulkan bintang dan menyusun strategi untuk mendapat bintang ini adalah salah satu pendekatan untuknya belajar bahwa untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan, harus berusaha nabung dulu.

Leave a Comment

Older Posts »