Spring

)

One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.

[Autumn to Spring on 08.08.2008]

Advertisements

Comments (2)

Jadwal di Rumah

Iya, saya memang baru bisa menemani full anak-anak setelah kami pulang dari kampus dan menjemput kedua anak kami dari hoikuen. Sehingga jadwal di rumah baru bisa jalan dari jak 7-10 malam saja, di kala wikdey. Sedih? Ada sedihnya, ada tidaknya.

Ternyata eh ternyata, berkat evaluasi kewarasan dengan adanya tugas Kemandirian Bunsay ini, kami jadi evaluasi ceklisan dan jadwal harian kakak! Ditambah dengan winter vacationnya TPA, jadi banyak tugas-tugas yang bisa mandiri dilakukan oleh si kakak. Dengan dibersamai tentunya. Bisa sama bapaknya kalau emak lagi tugas nyusuin adik, sama emaknya, atau sama keduanya.


Tantangan pisan sekolah di sini. Karena kakak harus bisa balapan dengan dirinya sendiri agar kemampuannya terus bertambah. Juga mengimbangin dengan teman-teman di Ina. Ganbare, kak!

Leave a Comment

Giliran diantar-jemput Ibu

Aku mau diantar Ibu!

Setiap pagi terjadi rebutan siapa yang akan diantar ibu. Setiap Senin dan Kamis, karena ada kuliah pagi, saya tidak mengantar siapa-siapa. Sedangkan hari Selasa, keduanya diantar saya. Di hari lain dan jadwal pulang sekolah, kakak yang udah paling pandai bernegosiasi paling cepat membuat permintaan untuk juga dijemput ibunya. Alasannya hanya satu, “Karena aku, kan, sayang banget sama Ibu!”

Apa hubungannya coba? 😅

Alih-alih menjawab “Terima kasih, kak,” tapi saya lebih sering menjawab, “kak, gantian. Kan, Ibu harus ketemu gurunya adik juga. Gantian.”

 Dilanjutkan dengan negosiasi lainnya. Lalu saya akan bilang, “Kalau kakak rewel, Ibu nggak mau.” Di mana saya sebenarnya sangat tidak suka ancaman. Apalagi yang nggak nyambung. Padahal sepertinya jawaban pertama sudah oke. Tapi mungkin nadanya kurang oke.

Nada! Intonasi!

Saya sadar bahwa intonasi sebuah kalimat itu pengaruh pisan pada ketertarikan rasa yang diterima. Misal kita bilang “terima kasih” tapi ketus dengan bilang “nggak boleh” tapi halus, jelas arti yang disampaikan malah menjadi berbeda dengan yang diucapkan.

Mungkin di situ letak kesalahan saya kalau tidak waras dan terburu-buru. Sesungguhnya mereka hanya butuh waktu, bukan ketergesa-gesaan seperti kita orang dewasa. Mungkin mereka juga hanya mau tahu bagaimana ibunya menanggapi permintaan mereka. Dan mungkin saat itu si ibu sedang diuji teori belajar komunikasi produktifnya 😅

Intinya, di akhir sharing 2 minggu menulis tugas BunSay IIP ini, komunikasi itu belajar tiada henti. Kadang bisa dilaksanakan, kadang tidak. Dan ketika tidak, jujurlah pada diri sendiri bahwa kita salah sehingga bisa mengevaluasi diri sendiri. Menjadi lebih baik bagi anak-anak dan diri sendiri. Tidak terjebak dalam urusan hanya antar-jemput semata yang merupakan salah satu pewarna pagi hari. Ingat, pagi hari adalah charging semangat bagi anak-anak dan tentunya diri sendiri 🙂

Dan ingat! Ucapkan terima kasih, peluk dan cium mereka agar baterai-nya lebih kuat 🙂

Leave a Comment

Belajar untuk “Belajar”

Bahkan sudah dewasa begini pun, otak suka belibet ketika akan mengutarakan apa yang di otak ketika biasa memakai bahasa Indonesia, tinggal di Jepang & bicara dengan guru sekolah kakak tapi malah pakai bahasa Inggris, namun kosakata di otak bukan translate-an Indonesia-Inggris tapi Indonesia-Jepang. 

Ketika medical check up ke sekolah kakak, para orang tua siswa asing didampingi oleh guru bahasa Inggris. Sebenarnya bisa saja bicara bahasa Jepang. Tapi karena Pak Guru bicara bahasa Inggris, ya tentu nggak mau sok-sok-an. Mana pula masih belajar.

Eh, ternyata, otak dan mulut tidak sinkron! Saya jadi ingat bahwa belakangan ini kakak juga belajar banyak bahasa. Mulai latihan baca bahasa Indonesia, ya juga percakapan kecil bahasa Inggris dan Jepang, juga baca Iqro; dan eh, si emak masih juga nggak sabar ketika si anak kebingungan dan lupa-lupa. Hmmm. Di mana hatimu, Bu! Padahal sungguh tantangan besar buat kita orang dewasa untuk belajar, tapi malah menuntut lebih juga pada anak. Ini salah besar. 

Saya ingat bahwa seharusnya membandingkan anak itu dengan usianya yang berbeda. Melihat progress terhadap dirinya. Jangan sampai membandingkan dengan yang lain apalagi dengan orang tuanya di masa lalu! Jangaaan pernah! Hal pertama yang harus dipelajari dari belajar adalah menurut saya belajar untuk belajar itu sendiri. Artinya, tujuan dari belajar itu apa. Dan setiap anak punya cara belajar yang berbeda. Jangan sampai kita menyamakan belajar kita pada belajar anak.

Keesokan harinya, ketika curhat pada teman di kelas, dia bilang bahwa bagi kakak, tinggal di negara yang bukan mothertongue-nya saja sudah sulit. Cari cara terbaik untuk dia belajar. Tugas orang tua untuk belajar cara mengajar yang baik bagi anak agar dia belajar dengan senang. Jangan sampai jadi tertekan. Have fun! *note to myself sekali.

Agak tidak nyambung dengan judulnya. Ini lagi-lagi hanya kontempelasi pikiran random di sela-sela melihat anak-anak orang (mahasiswa lain) yang lagi belajar di perpustakaan. 

They learn by their way 🙂

Leave a Comment

Komunikasi Pagi Hari

Judulnya berat. Karena jujur saya masih PR sekali untuk hal ini. PR dalam hal membangunkan anak-anak dan tetap membuat mood mereka happy, disertai dengan saya yang membangunkan mereka dengan mood yang tanpa emosi karena saya sendiri terlambat ke kampus. Padahal ke kampus nggak ada finger print. Tapi kenapa rasanya lebih harus tepat waktu daripada ke kantor. Atau sama saja. Intinya pagi hari adalah di mana komunikasi para ibu teruji 💪🏼

Seperti tadi pagi. Pada hari Sabtu. Saya membebaskan anak-anak bangun jam berapa saja kalau weekend. Tapi karena futon kakak basah, walhasil saya keluar tanduk. Padahal semalam sudah bangun ke toilet. Ternyata setelah saya evaluasi diri pagi ini, seharusnya saya nggak marah banget. Tapi karena saya terlambat bangun juga dan jadwal ke kampus terlambat, eh, anak kena getah. Ibu macam apa saya.

Mana pula ketika saya sampai kampus (ini weekend malah ke kampus bukannya ke festival baloon Osaki atau main di rumah), saya malah buka FB! Sebenarnya buka messanger karena ada pesan masuk. Tapi karena sudah lama nggak buka FB, tergoda juga. Eh, halaman timeline saya sungguh menohok!


Saya menulis pesan motivasi buat diri saya sendiri 3 tahun yang lalu. Tahun pertama saya kembali bekerja. Tentang pagi yang menyenangkan adalah salah satu modal utama untuk menjalani sebuah hari. Heuheu, sungguh menohok jika membaca tulisan diri sendiri yang berbeda dengan kenyataan. Sungguh pengingat yang nyata!

Sudah hari kesekian tantangan komunikasi produktif Bunda Sayang IIP, tapi komunikasi saya sama anak-anak masih jauuuh. Kalau lagi waras, semua berjalan baik. Dan kalau lagi nggak waras, tau sendiri. 

Alhamdulillah banyak sekali masukan dan teguran dari sekitar yang membuat saya ingat bahwa komunikasi ini never ending homework pisan 🙂 semoga hari Minggu besok bisa lebih baik lagi setelah membaca tulisan diri sendiri ini.

Leave a Comment

Refreshing = Charging Ruhiyah

Setelah Sabtu ke Tagajo dan mengenalkan kakak dengan bencana Tsunami dan anak-anak yang terkena, hari ini kakak mengawali hari dengan gesit! Dia bangun lebih awal dari ibunya (yang masih nyusuin sebenernya mah). Tapi layak pisan diapresiasi dan diacungi jempol! 

Begitu pun ketika maghrib (sekarang sebelum jam 5!) tadi dijemput bersama adik, kakak gesit membereskan peralatannya dan juga nggak pakai rewel ketika harus membawa tentengan tas sekolah, sepatu, dan buku pinjaman. Tadi pun, tetangga bilang, kemarin Rafa cakep banget pas makan sambil main, dia mengajak anaknya makan dulu baru bermain. Buat saya, hal-hal seperti ini walau kecil tapi sungguh menenangkan hati. 

Sepanjang perjalanan nggowes dari sekolah kakak ke rumah, kakak dan adik saling berbagi makanan; juga bercerita. Hari ini, subhanallah tidak ada “omelan” emak sama sekali. Alhamdulillah.

Menutup malam ini dengan syukur, karena kedua anak kooperatif sekali walau Yandanya sedang tidak ada di rumah. Membuat emaknya yang juga lelah ng-lab menjadi tenang di kala mendengar cerita dari anak-anak sepanjang perjalanan, makan malam, dan ditutup baca buku sebelum tidur.

Refreshing yang bermakna dan bukan sekadar liburan itu, benar-benar charging ruhiyah. Banyak pasokan ruhiyah yang bisa saling didiskusikan dan membuat anak-anak lebih mudah paham dan mendapat contoh pengalaman dibanding kicauan orang tuanya, hehe.

Be a good man, dear 😘

Leave a Comment

Beberes atau Biarin?

Sejak pindah ke apato baru, kakak punya kamar sendiri. Dengan adanya daerah teritorial dia sendiri ini, terkadang, eh seringnya, terjadi perseteruan dengan si adik yang usianya terpaut 4,5 tahun dengannya.

Sepulang bermain dengan tetangga, dia mendapati lego keretanya tidak sesuai dengan kondisi ketika sebelum dia pergi. Dia langsung marah sambil nangis. Menyalahkan ibu dan yandanya yang hari ini jadwal beberes. Padahal nggak juga disentuh. Karena letaknya di atas drawer, bukan di tatami. Jadi tentu bukan salah sang ibu yandanya yang baru nge-vacuum. 

Akhirnya setelah semua tenang. Hosss hosss, serasa lari maraton kalau udah ada marah-marah, hehe. Kami pun berdiskusi. Jadi kakak itu mau kamarnya nggak dibantuin bebersih atau biarin aja?

Waktu marah dia keukeuh biarin aja. Tapi setelah reda, tentulah mungkin sadar kalau acak-acakan nanti kotor dan bisa muncul alergen-alergen beserta tidak sesuai motonya kebersihan sebagian dari iman; maka akhirnya diambil hasil rapat berupa tetap dibantu ibu beberes. Yeaaah!

Memang ibu teh sok gatel lihat yang pabalatak alias berantakan dan pengen beberes. Tapi apa itu baik? Atau harus libatkan anak? Atau biarin?

Well, jawabnya ada di ujung langit. Eh. Jawabnya tentu dari diskusi langsung dengan si yang punya kamar 🙂 kadang keputusan ortu tidak selalu yang terbaik bagi perasaan si anak. Maka mari dikomunikasikan dulu.

Leave a Comment

Memberi Pilihan

“Kakak, mau makan apa?” “Kakak, mau makan telur atau ayam?”

Bertanya atau memberikan pilihan adalah salah satu hal yang selalu kami lakukan untuk kakak sejak usianya mungkin 3 tahun. Seperti teori yang disampaikan di kelas BunSay, kami sadar belajar memutuskan adalah salah satu hal yang harus bisa dilakukan. Supaya nggak terbiasa apa-apa diladeni atau terdikte atau bahkan nggak sadar kalau semua serba ditentukan/ dibantu/ tersetting, jadi nggak kudu banyak mikir.

Padahal otak si anak kudu mesti distumulus terus. 

Nah, sabtu kemarin, kami sekeluarga ikut acara volunteer ke Tagajo. Selepas itu, karena lapar luar biasa, akhirnya makan dulu. Mulanya, setelah selesai acara, kakak sudah semangat sekali ke perpustakaan Tagajo. Sesuai briefing di malam hari sambil bikin agar-agar buat kegiatan. Tapi kemudian tiba-tiba sudah jam 3. Padahal kami juga berencana ke Matsushima untuk tour light up gitu di sana. Setelah diskusi yang cukup alot, eh, kakak sendiri yang memutuskan akan ke Matsushima saja. Dia ingin napak tilas ke jembatan panjang yang menghubungkan dengan salah satu pulau seperti ketika quality time sama Yanda dulu. Padahal dia awalnya keukeuh pengen ke perpus.

Alhasil, dia pun ternyata sangat berpendirian teguh dengan pilihannya bahkan marah-marah karena kami jalannya (menurut dia) kurang cepat karena takut si jembatan keburu ketutup. Alhamdulillah, dia berhasil istiqomah dan memenuhi pilihannya.


Di cerita lain, ketika festival cahaya dimulai, dia pun alhamdulillah istiqomah dengan pilihannya walau harus antri panjaaang sekali. Pendiriannya yang kuat (atau keras kepala, hehe) alhasil berbuah semua rencananya terlaksana.

Well, memberi pilihan agar dia mampu memilih dan bertanggungjawab atas pilihannya, sungguh menantang emosi, hihi. Be a great leader, son! 😘

Leave a Comment

Older Posts »