Spring

)

One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.

[Autumn to Spring on 08.08.2008]

Advertisements

Comments (2)

Ramadhan Pertama Aa di Sendai

Kata teman-teman yang pada sekolah di luar negeri, Ramadhan yang jatuh di musim panas di belahan bumi utara terasa sangat lama. Kalau di Indonesia (dan negara lain yang terletak di khatulistiwa) konstan kurang lebih 13,5 jam, di utara bisa sampai ada yang 22 jam! Apalagi kalau negara-negara Skandinavia atau Kutub Utara sana! Nggak kebayang. Di kota Sendai, yang letaknya ada di utara pulau Honshu, Ramadhan tahun lalu kurang lebih 16,5 jam. Tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Tapi yang spesial dari tahun 2018 lalu adalah Ramadhan pertama Aa di kelas 1 SD.

Shaum pertamanya belum sahur jam 2 subuh. Masih sarapan pagi seperti biasa. Tapi setelah itu dia tidak makan dan tidak minum. Bagaimana di sekolah? Bagaimana di jidoukan (daycare usia SD/ after school club)?

Alhamdulillah, seperti pernah dibahas di tulisan sebelumnya, SD Kunimi Sendai adalah salah dua SD yang memiliki banyak siswa internasional. Ketika jam makan siang tiba, yang biasanya Aa (jika giliran) piket mengambil stroller makanan dan membagikannya kepada teman-teman, dia dan teman-teman muslim lainnya akan berkumpul di ruang kelas international (Kokusai Shitsu). Di sini mereka akan shalat berjamaah dan bermain bersama-sama. Dan ternyata, kata Shutaro Sensei mereka tetap juga bercakap-cakap dengan bahasa Jepang, dududu.

Pulang sekolah, di buku penghubung orang tua dan jidoukan, saya biasa menulis jika Aa terlihat lapar atau lelah, dipersilakan menawari minum. Tapi kata Sensei-nya, Aa selalu menolak. Selain itu, tahun lalu, alhamdulillah masih ada Bunda Aira yang mengizinkan Aa belajar bersama di apartemennya setiap dua hari seminggu (kadang lebih, huhu maaf merepotkan). Jadi lebih semangat puasa. Apalagi dengan adanya TPA saat Ramadhan, membuat anak-anak berlomba-lomba. Walau ya mungkin tidak pernah saling ngejekin ‘Kamu udah batal, siah, ya! Batal batal!’ 😀

Untuk menyemangati ibadah shaum dan lainnya, kami membuat “Papan Bintang Pencapaian”. Alhamdulillah sekarang mah sudah banyak, ya, lembar aktivitas ibadah untuk anak-anak dan lembar kegiatan anak-anak Ramadhan. Tahun lalu kami bikin list-nya sendiri dari berbagai referensi, salah satunya dari FamiliaKreativa-nya Teh Devi-Kak Yan yang kece beserta bukunya yang kami import, hihi. Juga terinspirasi dari salah seorang teman yang menggunakan amplop-amplop kecil dengan tugas tambahan di setiap hari. Dan tentunya berbagai referensi dari berbagai negara.

55500

Cara mainnya mudah. Jika mengerjakan amalan tertulis di papan, maka tinggal menempelkan bintang. Warna dan ukuran bintangnya berbeda-beda, di mana poinnya juga berbeda. Tugas harian tambahan dalam amplop (yang lebih pada kegiatan muamalah), juga memiliki nilai bintang tersendiri. Tapi jelas paling besar bintangnya adalah shalat dan shaum.

Saat itu, kami berjanji jika Aa mendapat poin 200 bintang, maka akan dibelikan sepeda. Setahun lamanya di sini, kami belum membelikan kendaraan kesayangannya selama di Indonesia. Jadi Aa pasti semangat banget. Nggak perlu sering-sering ke Kotsu Koen (Taman Lalu Lintas) untuk main sepeda, hihi. Dan beberapa kesepakatan lainnya agar menjadi penyemangat.

Suatu hari Aa bercerita, “Bu, kemarin Aa bilang ke Ichika-kun kalau Islam itu seru. Ada bulan kita nggak usah makan. Dapat pahala dan hadiah. Terus dia bilang asyik sekali.” 😀 alhamdulillah Aa tidak malu dan bangga dengan apa yang dilakukannya. Saya kadang khawatir dengan dirinya yang berbeda di kelas.

48344Salah satu hal yang membuat kami bangga juga keinginannya yang kuat untuk tidak minum ketika pelajaran olahraga. Katanya dia masih kuat. Padahal itu musim panas. Musim panas di Jepang itu panasnya terik dan lengket. Dan ternyataaa, festival olahraga (Undokai SD) itu masya Allah bertepatan dengan Ramadhan! Delapan jempol dari Ibu dan Yanda buat Aa. Gurunya sampai memastikan apa tidak apa-apa? Karena ada 3 lomba yang diikutsertakan. Tapi Aa keukeuh mau mencoba, walau pada akhirnya berbuka.

Semangatnya untuk shaum pertama kali di musim panas dan saat festival olahraga adalah salah satu hal yang membuat saya terharu. Sambil berteriak ‘Ganbareee!’ saya rada mewek terhura, hihi. Semoga Allah memudahkan Ramdhan tahun ini. Karena sudah kelas 2, jam pulang sekolah lebih panjang.

Dan teruntuk anak-anak yang tinggal di negara minoritas muslim, tetap semangat! Tetap berani menunjukan jati diri Islam! Dan untuk para keluarga, berikanlah dukungan terbaik dari segi apapun. Sandang pangan papan, eh, makanan bergizi yang lebih lama tersimpan di dalam tubuh seperti protein, sayur dan buah ketimbang gorengan misalnya. Kasih semangat terus, apalagi bagi anak-anak yang baru mulai. Kalau di Indonesia biasa dikasih amplop Rp 1000/ hari shaum misalnya, kreatiflah lagi 😀 Dan catatan buat kami para ibu di luar rumah, semoga dimampukan selalu mem-bersama-i anak-anak dengan kegiatan yang tidak kalah kreatif dan berkualitas. Doa yang kencang tentu nomor SATU.

Selamat menyambut dan mengisi bulan Ramadhan 🙂

___________________________________________________________________________________________

Ditulis di tengah-tengah eksperimen.
Sendai, April 2019
Untuk berperan serta dalam Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia

Leave a Comment

Tantangan Belajar Shalat

Cup!
Si Ganteng tiba-tiba mencium singkat pipiku saat aku masih riweuh mengganti popok dan baju Adik.
“Bu, Aa berangkat sekarang! Ittekimaaasu!*
Assalamualaikum-nya mana?” saya berseru.
Assalamualaikum!”

Jam 8.15 pagi, apalagi sebelumnya, adalah waktu paling hectic di apato kami. Dimulai dari bangun tidur, ke toilet, wudhu, shalat, lalu terjadi sedikit perselisihan apakah boleh tidur lagi setelah shalat subuh atau boleh nonton TV sambil nunggu ibu masak atau sekadar menghangatkan masakan hasil batch cooking weekend kemarin, lalu merapikan tempat tidur hingga akhirnya makan, ganti baju, dan gosok gigi. 

Selama tinggal di sini, selama hari kerja mulai dari jam 8.30 kira-kira kami semua sudah beraktivitas di luar apato*. Suami atau saya mengantar Adik dulu ke Hoikuen* lalu berangkat ke kampus. Jam 6 sore (bisa lebih awal atau lebih lambat, bergantung pada eksperimen di lab) anak-anak kami jemput kembali. Selama melanjutkan studi, waktu kebersamaan alias quality time yang hanya 2 jam di pagi hari, 4 jam di malam hari, dan weekend; atau saat kabur insidental demi liburan bersama, merupakan suatu tantangan tersendiri bagi kami untuk mengisinya.

Alhamdulillah selama kami diberi amanah melanjutkan studi, mendapat kesempatan pula mengikuti kelas online dari Institut Ibu Profesional (IIP) melalui materi-materi kece di kelas Bunda Sayang yang didahului dengan matrikulasi. Benar-benar membantu kami tetap dalam jalur pengasuhan yang baik, insya Allah. Terlebih, ada PeeR besar bagi kami untuk tetap menjaga aqidah dan ibadah anak-anak di negara minoritas ini.

Tantangan dan Komunitas

“Wahai, Rafa, anakku. Kini usiamu ketujuh. Ada pesan dari Nabi. ‘Tuk disampaikan padamu. Sayang … sayang … Nabi berpesan padamu. Sayang … sayang … shalatlah yang lima waktu.” (Cuplikan lagu dari film Syamil dan Dodo).

Tahun lalu, menginjak usianya yang ke-7, mulai menjaga shalat menjadi tantangan bagi Aa Rafa dan tentunya kami sebagai orang tua. Ketika berusia di bawahnya, kami mengajari shalat dengan memberi contoh (saja). Melaksanakan shalat berjamaah dengan mengeraskan semua bacaan shalat, masih memberi pilihan mau ikut shalat berjamaah atau tidak, memberi reward bintang yang bisa ditukar dengan hadiah (rezeki anak sholeh) di akhir bulan; merupakan salah satu cara kami mengajari shalat. Kini metode itu pun masih terus dilakukan, tapi tetap saja kami merasa kurang. Karena Aa hanya bisa shalat berjamaah dengan kami di waktu Subuh, Maghrib, dan Isya. Ketika jam sekolah?

Salah satu hal yang membuat saya bersyukur tinggal di sini, ibu-ibu kurang lebih satu visi dalam membimbing anak. Sepulang sekolah, di luar libur musim dingin, ada Taman Pendidikan Al-Quran yang dibimbing oleh teman-teman yang memiliki amanah di rumah. Sangat terbantu sekali menjaga pelajaran keislaman, IQRO, dan hapalan Aa. Selain itu, ada pula komunitas online Forum Silaturahmi Muslimah yang memberi pelajaran Tahsin untuknya. Saya jadi benar-benar merasakan bahwa “It takes a village to rise children” itu benar adanya. Selain keluarga sebagai fondasi, komunitas adalah hal yang penting bagi anak-anak.

Shalat berjamaah di Kotsu Kouen (Taman Lalu Lintas)

Untuk shalat, sebenarnya masya Allah di SD Kunimi Sendai sini memberikan waktu dan ruangan untuk melaksanakan shalat, atau bahkan berganti baju olahraga. Alhamdulillah tahun ini anak-anak Indonesia akan berada di semua jenjang yang berbeda mulai dari SD kelas 1 hingga kelas 6, masing-masing satu murid. Mereka yang di atas 10 tahun sudah bisa mandiri shalat. Tapi memang yang berusia di bawahnya, masih belum. Dan kami masih terus sounding berusaha memupuk rasa percaya diri Aa untuk mandiri shalat di sekolah.

“Aku maunya kalau sama-sama,” pernah Aa berujar demikian. Dia ingin shalat kalau di sekolah ada temannya. Kami paham.   

Doa dan Harapan dalam Menjawab Tantangan

Usianya kini bukan lagi di bawah 7 tahun yang menurut teori parenting masih ada di posisi yang masih kecil di mana yang berkembang otak kanannya. Kini memasuki usia hati-hati dan waspada di mana selain keluarga menjadi contoh, namun juga mulai memberi banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang akan bermanfaat bagi masa depannya. Terdengar berat. Namun teringat banyak materi parenting salah satunya dari IIP yang menjadi rutinitas sebelum tidur, yang juga kami terapkan untuk menyemangatinya terus, yaitu dengan bedtime stories. Salah satu sarana untuk memperkuat jati dirinya sebagai seorang muslim melalui membaca buku atau dongeng sebelum tidur.

img-1052-1

Gazebo umum di Matsushima, Jepang

Selain itu, kami juga sering menyengajakan jalan-jalan setiap akhir pekan. Minimal dalam sebulan harus ada jalan-jalan. Selain untuk refreshing dan bermain sambil bertafakur dan belajar banyak nilai-nilai dari lingkungan sekitar, suami juga mengenalkan pada Aa bahwa shalat bisa di mana saja. Tidak perlu malu dengan jati dirimu!

Saya teringat dengan banyak ucapan dari orang lain, “Enak, ya, tinggal di luar negeri. Enak, ya, sering jalan-jalan terus,” dan enak lainnya. Betul saya merasakan selama dua tahun ini mendapat banyak enak kemudahan dalam membesarkan anak. Kebiasaan baik, yang seandainya bisa disebut akhlak, lebih banyak dipelajari Aa Rafa dari lingkungan sekitarnya. Hal-hal kecil seperti memberi salam, menjaga kebersihan, mengatur waktu, kemandirian, dan lainnya yang bukan hanya teori doang, tapi teraplikasikan dalam hidup. Seperti prinsip ibu Jepang untuk tidak mengganggu orang lain dan menghargai orang lain. Namun ….

Namun sebagai muslim, bukan hanya itu. Aqidah nomor satu. Di situ tantangan nomor satu kami dalam mempersiapkan anak laki-laki yang mungkin akan akil baligh di sini. Di situ tantangan nomor satu kami untuk membimbingnya menjaga shalatnya, menjaga ibadahnya, menjaga apa yang dimakannya. Di situ tantangan kami untuk mendidiknya menjadi seorang muslim, seorang pemimpin. Bukan hanya di rumah, tapi di mana pun dia berada.

Bahwa sesungguhnya setiap keluarga punya tantangan sendiri dalam memelihara, mendidik, dan mengasuh keluarganya. Bahwa sesungguhnya mengasuh sebuah keluarga adalah suatu peran yang sangaaat penting. Dan semoga, di mana pun bukan hanya di negara minoritas, baik di negara mayoritas sekalipun, kita sebagai orang tua dimampukan untuk memberi bekal terbaik bagi anak-anak dalam menjaga aqidah dan ibadahnya. Hingga kelak ketika dia ber-“Ittekimaaasu!”, dia sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.


*Ittekimaaasu : saya berangkat
*Apato : apartemen
*Hoikuen : daycare, sekolah untuk anak usia di bawah SD

Jumat, Sendai, 19 Januari 2019
Ditulis untuk Sayembara Menulis IP Asia 2019: Ibu Profesional Nurturing Family
Rumah Belajar Literasi, Ibu Profesional Asia

Comments (2)

Wisata Naik Kereta Murmer

April 2018 lalu adalah liburan musim panas pertama kakak. Kalau di Indonesia, sekolahan libur panjangnya pas libur semester, di sini kira-kira ketika puncak musim panas. Memang cuma buat anak sekolah doang, buat emak bapaknya nggak, huhuhu. Tapi tenang, bisa diatur dan yang penting pekerjaan di lab sudah tuntas.

Nah, di Jepang ini ada tiket kereta murah meriah kalau lagi libur musim panas. Selain musim panas, ada juga buat musim semi dan musim dingin. Nama tiket kereta murah ini adalah seishun 18kippu (dibaca: seishun juhachi kippu) atau juhachi kippu saja. Harganya 11.850 Yen untuk 1 paket yaitu 5 tiket di mana dapat digunakan oleh seorang dalam lima hari, atau lima orang dalam satu hari, atau bisa dipecah-pecah sesuai kebutuhan. Misal kami bertiga (berempat plus adik yang masih gratis karena belum SD) beli 2 paket dipakai pulang pergi yang artinya dari 10 tiket, habis dipakai 6 tiket. Sisanya 4 tiket lagi bagaimana? Bisa dijual kepada orang lain, atau dipakai pada perjalanan berikutnya pada tenggang masa tertulis.

Kenapa disebut murmer?
Sebelumnya perlu diketahui bahwa tiket kereta ini hanya untuk pemakaian kereta biasa. Kalau di Indonesia mah KRL. Bukan kereta limited ekspres, kereta wisata, apalagi kereta shinkansen! Tapi jangan khawatir, lho, karena kereta yang bisa dipakai ada dari utara Jepang sampai selatan Jepang. Dilayani oleh Japan Railway alias JR, semua rute pasti dilewati. Memang jatuhnya akan lamaaaaa sekali. Tapi kalau dinikmati mah pasti menyenangkan dan tidak terasa.

Seperti ini contoh perbandingannya. Jika naik shinkansen, dari kota kami berada di Sendai hingga ke Tokyo hanya dibutuhkan waktu 2,5 jam; bahkan bila naik shinkansen hikari yang tercepat hanya 1,5 jam saja karena tidak berhenti-berhenti di kota besar; namun harganya kurang lebih 12.000 Yen. Kemudian jika naik bis, dengan biaya 4.000-6.000 Yen, dibutuhkan waktu 5-6 jam saja. Nah, kalau pakai kereta JR yang ngeteng berganti kereta di berbagai kota karena jalurnya nggak lurus seperti jalur shinkansen, maka dibutuhkan waktu 9 jam!

IMG_9227.JPG

Ikon Hirosaki

Buat kami yang suka berpetualang naik kereta lewat desa-desa dan melihat pemandangan serta mencoba berbagai jenis kereta, ini seru banget! Alhamdulillah akhirnya setelah merancang rencana, kami kesampaian juga mencoba tiket ini. Kami memutuskan untuk berpetualang ke provinsi paling utara pulau Honshu yaitu Aomori! Sedikit lagi menuju Hokkaido.

Paling mudah memang liburan di taman. Di mana-mana hampir di setiap sudut ada saja taman bermain. Taman kota besar dengan permainan yang kece pun, tidak sulit ditemukan. Sekiranya sudah empat taman kota yang masih belum bosan juga dikunjungi kakak dan adik karena ada permainan ninja wariornya, hihihi. Selain itu juga main di sungai adalah salah satu tempat favorit. Sambil pasang tenda di pinggir sungai, ibu bawa kompor portable, ngampar pakai tiker plastik beli di Daiso 100 Yen saja; sudah bikin anak-anak bahagia banget. Museum juga sudah terjelajahi. Mungkin hampir semua tempat kece di kota Sendai sudah habis dijelajahi satu tahun kemarin. Maka kini kami mencanangkan, “Mari bertualang lebih jauh! Jreng jreng!”

Rezeki banget dari Allah, rencana kami yang ingin ke Aomori saat Nebuta Matsuri terkabulkan! Sensei (guru) teman yang baik hati menawarkan sebuah kamar di rumahnya untuk dijadikan homestay selama 3 hari saat kami berpetualang ke sekitar Aomori! Nebuta Matsuri ini adalah festival yang sangat terkenal di Tohoku, atau mungkin di Jepang. Guru Bahasa Jepang ibu bilang, kalau ke Jepang, sekali saja setidaknya tontonlah Nebuta Matsuri. Apalagi di Aomori banyak tempat wisata.

Akhirnya hari itu pun tiba. Karena kakak lagi keranjingan naik sepeda ke mana-mana, akhirnya kami putuskan naik sepeda ke Sendai Station. Sebelum berangkat kami briefing anak-anak dulu. Bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Kurang lebih akan memakan waktu 10 jam, lebih jauh dari ke Tokyo.

Wah, lama bangedz, Bu! Yoi! Oleh karena itu, untuk perjalanan panjang ini kami sama-sama mempersiapkan apa-apa saja yang harus dibawa. Kira-kira sebagai berikut:

IMG_9425.JPG


Di Warasse Museum

  1. Bekal! Biasanya orang Jepang menyebutnya bento. Kami biasa bawa nasi kepal alias onigiri yang diisi macam-macam. Bawa berbagai jenis gorengan dalam plastik, pokoknya makanan yang tidak gampang basi. Berikutnya adalah cemilan! Pokoknya makanan kudu musti nomor 1 dipersiapkan soalnya bakalan tantangan buat cari makanan halal di lokasi baru.
  2. Baju. Hahaha. Ini cerita paling bodor. Jadi qodarullah perkiraan cuaca saat kami masih di Sendai berubah dengan cuaca ketika kita sampai karena ada badai di selatan saat itu. Jadi yang seharusnya musim panas itu panas bin hareudang karena Aomori di tepi laut, tahunya malah dingiiin! (Asli lebih dingin dibandingkan musim gugur saat ini). Bahkan teman yang tinggal di sana pun kaget dengan perubahan ini. Alhamdulillah tapi karena ada teman bisa pinjam jaket untuk anak-anak.
  3. Buku! Ini buat anak-anak saya penting pisan karena mereka jurig buku pisan.
  4. Nah, karena sudah ancang-ancang perjalanan 10 jam, maka ibu meminjam nintendo dari teman, hahaha. In case mereka bosan. Selain itu tentulah mainan robot-robotan kakak dan si keluarga anpanman punya adik.

Hal lain yang perlu dibriefing-kan kepada anak-anak, terutama kakak yang sudah besar adalah waktu transfer. Kadang ada yang waktu transfernya lama sekitar setengah jam, ada juga yang hanya sebentar. Waktu itu kami kalau tidak salah ada satu stasiun yang waktu transfer kereta hanya 10 menit saja. Jadi setelah turun dari kereta, harus segera lari-lari pindah ke jalur kereta lain yang kudu nyebrang jembatan dulu. Seru pisan! Nah, masya Allah-nya di Jepang ini, detail jadwal itu bisa dilihat di website hyperdia. Asli nggak ada telat 1 menit pun. Sangat akurat.

IMG_9442.JPG

Bercanda di kereta

Perjalanan 10 jam memang terlihat sangat lama. Apalagi setelah tiga hari berpetualang di Aomori mulai dari Hirosaki sampai ke Asamushi. Tapi kereta dari Aomori ke daerah Akita, lalu sebelum ke daerah Iwate, melewati pedesaan dan jenis kursi keretanya adalah yang saling berhadapan, jadi mereka suka duduk ngampar di antara bangku, hahaha. Kalaupun kursinya tipe KRL Jakarta, karena kereta jalur pedesaan, penumpangnya sedikiiit sekali. Sehingga anak-anak bisa berlarian di sepanjang gerbong kereta. Seru-seruan saat memasuki terowongan. Nyanyi-nyanyi sambil makan – di mana ibu dan yanda yang kudu nyapu remahan yang jatuh, hahaha. Pokoknya alhamdulillah selama 10 jam itu dibawa senang. Memang ada saatnya ketika jam pulang kerja dari kota Morioka ke Sendai, penuh sekali dan anak-anak sudah habis energinya dan menjadi rewel. Tapi alhamdulillah setelah ketiduran dan tiba kembali di Sendai, mereka bahagia lagi bahkan kakak masih semangat gowes pulang ke rumah.

Memang 18kippu ini tidak ada children fare. Makanya ketika akan menggunakan, bandingkan terlebih dahulu harga biasa untuk anak dengan 18kippu yang hitungannya perorang adalah 2.370 Yen dalam sehari.

Alhamdulillah dengan budget terbatas kami bisa wisata naik kereta ke utara Jepang. Walau sejak saat itu kakak jadi nggak mau makan onigiri dari konbini lagi (secara yang aman hanya onigiri salmon, hahaha). Insya Allah kalau liburan panjang lagi mau berpetualang ke selatan pakai 18kippu lagi. Selamat berlibur!

Mengingat kembali Agustus 2018,
Oktober 2018

Comments (1)

Media Edukasi Fitrah Seksualitas

Hari ke-5. Materi ke-3. Giliran mba Arlini dan saya sendiri untuk presentasi kali ini. Tema yang kami angkat adalah “Media Edukasi Fitrah Seksualitas”.

Berlatar dari pornografi dan pornoaksi pada anak-anak, suatu lembaga non-profit bernama SEMAI 2045 hadir. SEMAI 2045 itu apa ya?

Tahun 2045 nanti adalah 100 tahun Indonesia merdeka. Tapi merdeka itu apa sih?
Sebuah lembaga non profit yang didirikan oleh Teh Elma Fitriani dan kini diketuai oleh suami Teh Indri (Inday) inimengajak kita untuk melakukan pengasuhan yang baik, benar & menyenangkan. Berlatar dari permasalahan anak-anak yang terjadi terutama dalam hal pornografi dan pornoaksi, maka lembaga ini mengajak kita semua untuk menjadi pahlawan/ HERO bagi anak-anak kita. Mulai dari diri kita!
Gimana caranya? Salah satu yang dikenalkan dari SEMAI adalah lagu “Ini Tubuhku” dan “Sentuhan” (link menyusul). Selain itu tim SEMAI juga share beberapa media seperti untuk menggambar dan buku bacaan. Semuanya lengkap di website semai2045.org.

Memanfaatkan media yang ada di rumah, suami dan saya membuat game yang diadaptasi dari beberapa board game seperti ular tangga, 5pilar, board game boboiboy dan lainnya. Kemudian menyisipkan majic card dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi kali ini.

Berikut cara bermainnya:

1 ular tangga. Menggunakan dadu. Letakan tulisan majic card pada beberapa kotak. Jika dapat menjawab, boleh bermain lagi satu putaran. Jika tidak, diam di tempat.
2 ular tangga tanpa ular dan tangga. Tanpa dadu. Setiap kotak ada pertanyaan. Jika benar, maju 1 langkah; salah, mundur 1 langkah.

Ataaauuu untuk anak lebih besar, seperti kartu boboiboy berikut: Pada kartu pertanyaan, tulisan jika benar, kamu maju 3 langkah dan mendapat pahala 1; jika salah, kamu mundur 1 langkah dan tidak mendapat apa2. Bilang tidak tau atau tidak mau menerima tantangan, diam di tempat. Pemenang adalah yang sampai lbh awal atau pahala paling banyak.

Mengajarkan matematika, mengambil keputusan & strategi juga selain belajar materi.

Well, edukasi tidak harus selalu serius, tapi bisa menyenangkan sambil bermain dengan anak. Selamatkan gEnerasi EMas IndonesIA!

Leave a Comment

Kekerasan Seksual pada Anak-anak

Hari ke-4. Materi ke-2 disampaikan oleh mba Angie, mba Dede & mba Indri. Temanya tentang kekerasan seksual pada anak-anak.

Mengangakat kisah seorang teman yang mengalami hal dengan tema ini, maka menanamkan pendidikan mengenai fitrah seksualitas merupakan informasi penting yang perlu didapatkan oleh anak. Sebagai bagian dari pola asuh yang baik, orang tua perlu terlibat dalam pendidikan anak, termasuk memberikan pemahaman dan berdiskusi secara terbuka dengan Si Kecil tentang fitrah seksual pada anak.

Anak perlu memahami dan mengenali tubuhnya sejak dini. Selain untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuhnya, upaya itu juga untuk melindungi anak dari kejahatan seksual. Jika dilakukan dengan tepat, pendidikan fitrah seksualitas ini justru akan memperluas pemahaman dan menjadi dasar anak untuk mengambil keputusan seputar seksualitas di masa yang akan datang. Dan ketika ternyata (inalillahi) sudah mengetahui bahwa anak telah menjadi korban pelecehan/kekerasan seksual, maka orang tua harus bisa mengontrol diri supaya anak tidak semakin terpuruk. Berikut beberapa cara menyikapi pelecehan seksual pada anak:

– *Ajak anak untuk berbicara*

Bila melihat anak dalam kondisi tertekan, ajak anak untuk berbicara. Biasanya anak akan bercerita untuk melihat reaksi orang tua terhadap kejadian yang mereka alami. Ketika anak sudah mulai bercerita, usahakan untuk tetap tenang dan dengarkanlah dengan cermat. Jangan menyalahkan atau menyela perkataan anak, sebab hal ini dapat mencegah anak untuk bercerita lebih lanjut.

– *Berikan waktu*

Tidak semua anak dapat menceritakan kejadian buruk ini dalam waktu yang cepat. Jika anak belum siap untuk bercerita, berikanlah anak waktu agar ia dapat menenangkan diri dan tunggulah sampai anak siap untuk bercerita.
– *Berikan dukungan*

Dukungan dapat Anda berikan dengan memercayai seluruh perkataan anak dan yakinkan mereka bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan mereka. Jelaskan bahwa menceritakan kejadian itu kepada Anda merupakan tindakan yang tepat.

Pelecehan/kekerasan seksual pada anak adalah tindakan yang melanggar hukum. Jika mencurigai anak menjadi korban pelecehan seksual, orangtua bisa meminta bantuan dokter atau konselor untuk menelusuri lebih lanjut kondisi anak. Jika anak terindikasi kuat mengalami pelecehan seksual, orangtua perlu melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait, seperti kepolisian dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), untuk mendapatkan penanganan secara hukum. Itulah peran kita sebagai masyarakat agar tindak kejahatan ini bisa semakin ditekan penurunan nya. Dan terakhir, WASPADA.. WASPADA..

Leave a Comment

Mengenalkan pendidikan seks pada anak di negeri minoritas muslim

#GameLevel11
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#FitrahSeksualitas
Hari ke-3. Masih dengan materi yang disampaikan oleh mba Gita dan mba Anggie yang super lengkap! Kali ini tentang mengenalkan pendidikan seks pada anak di negeri minoritas muslim. Pas banget! Kebetulan mba Gita dan saya sedang tinggal di Jepang saat ini. Berikut pemaparan dari presenter pertama Kelas Bunsay Batch 3 LN ini:
Berbagi cerita tentang kakak yang sekolah di SD Kunimi (Kunimi Shougakko), Aoba-ku, Sendai-shi, Miyagi-ken (lengkap!). Alhamdulillah sekolah ini sangat menghargai keberagaman. Salah satunya karena sekolah ini ada di zona dormitori internasional! Selain dari adanya guru internasional dan makanan halal (ingin menulis tentang ini suatu hari nanti), sekolah ini juga menghargai penggunaan jilbab bagi siswa perempuan.
Ketika waktu berganti baju olahraga dan pelajaran berenang, siswa diizinkan berganti terpisah di ruang kesehatan (tempat pada shalat juga ini – atau di ruang internasional) sehingga tidak bercampur. Pakaian olahraga yang ada 2 jenis, pendek dan panjang, juga diperbolehkan memilih. Misal musim panas pada pakai yang pendek, anak-anak muslim dan yang pengen atau alergi, bebas memakai yang panjang.
Di sekolah juga kasus bully (ijime) sekecil apapun walaupun verbal dan apalagi yang menyangkut harassment ya, pasti langsung ditindak.
Masya Allah, bersyukur sekali kakak bisa berada di sekolah yang sangat menghargai keberagaman dan menganut nilai-nilai kebaikan di tengah negara minoritas muslim.

Leave a Comment

Pendidikan seks dalam Perspektif Islam

#GameLevel11
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#FitrahSeksualitas
Hari ke-2. Masih membahas pemaparan yang disampaikan mba Gita dan mba Anggie kemarin, selanjutnya adalah mengenai pendidikan seks dalam perspektif Islam.
Lengkap sekali materi yang disampaikan! Saya tidak tambahkan apa-apa untuk materi ini karena sudah ciamik 😀 Semoga bisa disampaikan dengan bahasa yang kece pada anak-anak. Bismillaaah!

Leave a Comment

Older Posts »