Spring

)

One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.

[Autumn to Spring on 08.08.2008]

Advertisements

Comments (2)

Padat Merayap

Alhamdulillah Allah masih memberikan amanah pada kami sekeluarga melalui jadwal yang padat merayap sejak bulan Oktober ini. Di mana saat ini suami alhamdulillah sudah resmi menjadi student dan kami sama-sama berjuang sekolah lagi setelah sekian lamaaaaa sekali.

Di kala kami sekolah, tentunya seperti halnya di Indonesia, anak-anak ‘sekolah’ juga. Hari Rabu lalu, karena ada kelas sampai lebih dari Maghrib, Ayra terlambat dijemput melebihi jam 6. Ditegur karena tidak apply extended time. Tapi alhamdulillah karena termasuk no income, tidak dikenakan charge, namun memang seharusnya mengisi aplikasi dulu. Dan mungkin hal ini akan kami gunakan sehari dalam seminggu. Maafkan kami, Nak.

Di hari selanjutnya, setelah kelas selesai, harus lanjut riset, lanjut kelas lagi; seringkali sampai lupa waktu sholat dan makan. Sehingga sholat suka mepet. Padahal juga sudah dipanggil-panggil dari lantai 7. Dan makan pun, terakhir kali adalah jam 7 pagi. Hingga akhirnya baru makan jam 9 malam.

Sama seperti hari Jumat ini ketika harus ujian bahasa Jepang, pergi ke fudosan alias rent property, ke kampus Kawauchi, balik lagi ke Aobayama, balik lagi ke bawah, jemput anak-anak, persiapan masak dwibulanan PPIS besok sambil tahsin. Belum selesai, masih lanjut SKP! Demi masa sekali!

Hingga akhirnya sekarang saya bisa mengerjakan SKP, tapi diuploadin Prima karena server down terus di rumah. Lalu makan indomie! Penting! Meluruskan kaki sambil menulis ini dan dikagetkan dengan alarm jishin alias gempa bumi 3 SR yang subhanallah peringatannya dari 8 detik sebelumnya hingga 3 detik dan selanjutnya.
Menutup hari ini, alhamdulillah masih bisa menjalankan amanah satu per satu dan semoga tidak ada pihak yang terdzalimi seperti anak-anak yang hanya makan nugget dan terpaksa menyerahkan anak-anak main di luar jam 8-9 seketika Yandanya baru saja pulang orientasi, heuheu, maaf ya, Nda. Supaya bisa babantu nyicil motongin bahan-bahan masakan untuk besok.

Sekian untuk hari ini. Ternyata bisa juga menjadi ninja Hatori mendaki gunung lewati lembah naik sepeda selama 2 bulan ini. Semoga semua sehat selalu. Dan otsukare semuanya untuk hari ini!

Comments (1)

Best Friend

ODOP 4

Hari ini pertama kali saya mendapat notifikasi dari FB tentang pertemanan dan saya men-share-nya. Seumur-umur FB-an belum pernah share menu ini, hihi. Dan ternyata 6 menit sebelumnya, si sahabat saya ini udah share duluan, hihihi.

Si adik pernah membuat list pertanyaan-pertanyaan di sini. Salah satunya adalah:

9. One of your very best friends in your life?
Aviasti Pratiwi Andayani

Simple. Jawabannya cuma satu itu aja. Because she will always be my person.


Dimulai dari se-SMP sampai lekat banget dari ospek SMA (2001!), hihi. Tidak ada yang bisa diucapkan selain rasa syukur atas takdir Allah mempertemukan kita 😘

Leave a Comment

Anak-anak dan Jepang (1)

ODOP 3

Tinggal di Sendai, mirip-mirip sama kehidupan kami sebelumnya di Indonesia. Hanya beda bahasanya saja. Hahaha. Dan mungkin ini cocokologi bahwa antara kota Bandung dan Sendai banyak persamaannya. Seperti kode telepon yang sama-sama 022. Juga lokasinya yang berada di dataran tinggi. Sehingga hawanya 11-12 dengan Bandung (atas).

Berbeda dengan negara berkembang yang ongkos tenaga kerjanya murah, di negara-negara maju, mempekerjakan orang itu biayanya mahal. Seperti misalnya di sini tidak ada pembantu alias ART. Sehingga semua mengandalkan supporting system yang dibuat untuk mengasuh anak-anak di kala orang tua bekerja dengan adanya nursery school (hoikuen) untuk anak di bawah usia SD; dan children hall (jidoukan) untuk anak SD.

Karena setiap pagi dan sore saya mengantar anak-anak ke hoikuen, maka Jepang sebagai salah satu negara yang angka kelahirannya rendah, tidak saya rasakan sama sekali. Para orang tua, baik ibu, bahkan bapak, mengantar anak-anaknya dengan berjalan kaki, berstroller, dan bersepeda. Paling salut sama yang naik sepeda dengan boncengan depan belakang plus ditambah ngegendong di depan/belakang. Di sini naik sepeda sudah kayak sirkus saja. Justru malah motor hanya boleh ditumpangi oleh satu orang saja! Di lab saya, Sensei pun anaknya 3. Assistant Prof pun wanita dan beranak 2, juga mempercayakan anaknya ke hoikuen. Kondisi di sekitar saya ini jadi membuat saya nyaman dan tenang karena kota ini tidak terlalu stereotype Jepang.
18446814_10212194033782047_6929880443370520983_n

Tapi jangan salah. Situasi ini juga banyak kok di temui di Indonesia. Apalagi buat mereka yang biasa beraktivitas antar anak-anak ke daycare, ngantor, jemput anak-anak, lalu quality time bersama. Ganbare, semuanya!

Leave a Comment

37,5 Derajat Celcius

ODOP 2

Aira-chan no mama desu ka? Ima, Aira-chan no ondo wa san ju nana ten go-do ijō desu.

Kemarin, kali pertama saya di telepon oleh Hoikuen Ayra karena suhu tubuhnya di atas 37,5 derajat celcius (lagi, sejak Sabtu lalu). Persis seperti dorama [37,5-do no namida]. Di sini, jika suhu tubuh anak di atas 37,5 derajat saja, maka orang tua harus segera menjemputnya. Peraturan ini pertama kali saya tahu saat interview ke sekolah anak-anak.

Menyekolahkan anak sejak usia 3 bulan (atau kurang sedikit karena waktu melahirkan yg terlambat 2 minggu) sudah menjadi keputusan suami dan saya karena tidak ada yg bisa membantu saat itu. Berbeda dengan anak pertama kami, saat itu saya memutuskan untuk di rumah dulu dan kembali bekerja ketika usianya 2,5 tahun; anak kedua kami sudah sekolah sejak usia 2,5 bulan saat di Indonesia.

Berbeda culture antara Indonesia yang lebih kekeluargaan, di Jepang aturan bersifat mengikat. Dulu, jika Oma (panggilan sayang kami untuk kepala Daycare Puspiptek) mengontak saya bahwa suhu Rafa di atas 37,5 bahkan 38, Oma selalu bilang, “Tenang saja, mba Sansan, udah tidur dan diurut sama Mak Tini. Makannya juga habis.” Hal ini membuat hati lebih tenang. Dan setelah saya menengok Rafa, Oma juga bilang, “Tenang saja, sebentar lagi pulang.” Sehingga saya tidak membawa pulang Rafa lebih awal dan kembali ke kantor yang jaraknya dekat karena sekompleks. Kemarin, ketika saya menerima telepon, saya langsung gowes turun gunung dari kampus ke sekolah Ayra.

Memang kalau demam awal sebagai peringatan akan sakit, kami sebagai orang tua masih mempertimbangkan menunda sebentar sebelum menjemput pulang. Tapi kalau memang infeksi penyakit, tentunya jangan memasukan anak ke daycare karena akan menulari anak yang lain. Seperti pernah 2015 lalu Rafa tidak masuk 3 minggu karena teman-temannya bergantian cacar air sedangkan saya sedang hamil. Jadi daripada beresiko tertular, kami memilih tidak masuk.

Berbeda dengan di sini, dengan peraturan yang lebih ketat, bukan hanya karena infeksi penyakit, demam pun ketika baru 37,5 sudah harus dijemput. Jika sakitnya tidak parah seperti flu batuk, maka masih diizinkan masuk dan jika ada obat, maka harus mengisi lembar isian pemberian obat. Terlebih jika infeksi penyakit, ketika akan masuk kembali maka harus mengisi lembar isian yang menyatakan telah sembuh oleh orang tua dan dokter.

Perbedaan sistem kekeluargaan dan aturan ini ada kalanya membuat saya lebih tenang. Karena di sini, jika anak sakit, benar-benar akan ditolak masuk oleh sekolah. Tidak ada tawar menawar kalau “hanya sakit biasa” apalagi tentang izin dan cuti yang sudah habis. Semua kembali pada tanggung jawab memiliki anak. Namun ada kalanya saya kangen juga dengan toleransi yang tinggi di Indonesia.

Saya sangat bersyukur sekali anak-anak merasakan ber-daycare di Indonesia apalagi dengan Oma yang sudah belasan tahun di Jepang sehingga banyak mengadopsi culture di sini. Dengan begitu, anak-anak bisa cepat beradaptasi dan saya pun bisa mempercayakan anak-anak lebih cepat. Terlepas saya masih suka pakai google translate untuk baca-tulis otayori di sini, hihi.

Karena kejadian kemarin, saya jadi kangen sekali dengan Oma, Bunda, mak Tini, bu Yani, mba’e Fitri, mba Yus, nek Dina, teh Is. Semoga mereka sehat selalu dan bisa bertemu lagi, tidak hanya lewat video call.

Sendai,

Ibu Rafa & Ayra yang ngetik di hape sambil menyusui & baca persiapan Seminar Senshin untuk hari Jumat. Mari kita ganbarimashou untuk sehat!

Leave a Comment

MAU

ODOP 1

MUKADIMAH

Insya Allah minggu ini akan mulai ikut grup yang selama ini selalu membuat saya bertanya-tanya, “Apa, sih, ODOP itu? Kok, banyak yang posting dengan hastag ODOP?” Alhamdulillah rasa penasaran itu hilang setelah akhirnya ikut Kulwap Teh Elma dan Teh Shanty.

Ternyata minggu ini sudah memasuki setoran #ODOPfor99days Minggu ke-38. Sudah lebih dari setengah jumlah minggu dalam setahun. Untuk saya, bulan ini adalah menuju setengah tahunnya kami sekeluarga berada di lingkungan baru. Setelah memutuskan untuk sama-sama berhijrah sekolah lagi ke sini, kami memulai banyak masa adaptasi yang Alhamdulillah luar biasa.

Untuk saat ini, mungkin saya hanya akan “menulis” satu tulisan dalam waktu seminggu karena ada deadline Seminar tanggal 22 September depan. Jadi seminggu ini, waktu menulis saya akan saya luangkan untuk “menulis” yang lain dulu.

ISI

Akhir September ini, akan tepat 6 bulan kami berempat berada di sini. Qadarullah, kami sekeluarga mendapat kesempatan untuk tinggal di kota Sendai, Jepang. Saya mulai kuliah sejak April lalu, sedangkan suami mulai kuliah Oktober ini. Anak-anak pun, sama halnya dengan keseharian di Indonesia, mengisi aktivitasnya di daycare atau hoikuen setiap hari Senin-Jumat.

Mungkin sekarang sudah banyak yang berkesempatan sekolah atau tinggal di luar negeri (untuk menemani pasangan). Jadi ceritanya sudah biasa bagi beberapa orang. Dan biasanya yang di Jepang akan bilang bahwa di Jepang “enak” dan “harus bisa mandiri” jika dibandingkan dengan di Indonesia karena “semua mengurus sendiri” dan anak-anak bisa mandiri karena sudah sekolah sejak kecil.

Hmmm …

Di sini saya kadang ingin berkomentar. Bahwa sebenarnya hal di atas bisa dilakukan pula di Indonesia jika ada kemauan keras. Ya, MAU! Saya ingat salah satu pelajaran dari Matrikulasi IIP adalah bukan bisa atau tidak bisa, tapi MAU atau tidak MAU. Seperti halnya di Jepang (dan negara lain), situasi di mana harus bisa mandiri dan semua mengurus sendiri juga dapat dilakukan di Indonesia. Banyak teman-teman dan juga saya melakukan hal tersebut. Yaitu tidak memiliki Asisten Rumah Tangga (ART) atau dibantu pihak keluarga besar.

Tunggu dulu! Ini bukan sombong atau apa, tapi karena kebutuhan psikologis yang membuat kami sekeluarga memilih untuk seperti ini. Setelah tiga tahun di rumah bersama Rafa, akhirnya saya memutuskan untuk kembali bekerja dengan syarat yang saya buat sendiri, yakni adanya supporting system yang kece. Qadarullah, di kompleks kantor saya ada daycare juga dan selama 3 tahun terakhir kemarin, sebelum pindah ke sini, Rafa beraktivitas di sana; bersama adiknya kemudian yang berbeda hampir 5 tahun darinya.

Ketika interview beasiswa LPDP lalu, ketiga juri bertanya tentang bagaimana kamu bisa hidup di negara asing tanpa bantuan keluarga besar dan pembantu? Demikian kira-kira pertanyaannya. Saya jawab bahwa selama ini saya tidak pernah hidup dengan keadaan seperti itu. Sehingga saya yakin bahwa kami juga akan bisa bertahan hidup berempat seperti biasanya.

2015-02-12 17.13.38

[Mandiri mencuci milik sendiri, Serpong, 2014]

Lalu tentang mandiri. Menurut saya hal itu tidak hanya bisa diperoleh di negara maju. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Jangan menyalahkan negara. Tapi MAU mulai dari diri sendiri, dari keluarga kita sendiri. Memang berat jika lingkungan tidak mendukung. Tapi yakinlah bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan tidak harus ke luar negeri dulu, dong!

Rempong? Pasti. Sebelum berangkat ke kantor dan pulang kantor masih harus berjibaku dengan urusan rumah tangga. Tapi suami dan saya berkomitmen untuk melakukannya bersama-sama. Apakah selalu terlaksana dengan baik semuanya? Tentu tidak! Pasti ada kekurangannya. Malah banyak. Seperti tumpukan baju yang beres dicuci itu, hahaha. Tapiii, Alhamdulillah dengan kemauan untuk melakukan semua bersama, membuat kami bahagia.

Saya yakin setiap orang punya cara masing-masing. Tapi tidak dengan menyalahkan kondisi dan membandingkan. Sesungguhnya ke-“enak”-an (bukan keenakan, ya!) alias kebahagiaan itu diciptakan oleh kita sendiri.

Selamat MAU menjalani hari dengan bahagia!

Leave a Comment

NHW#9: Bunda sebagai Agen Perubahan

Tidak pernah sekalipun kedua orang tua saya melarang saya untuk kembali ke rumah ketika saat itu saya memutuskan untuk di rumah dulu setelah melahirkan anak pertama. Saat itu saya baru saja sidang Magister dan revisi ketika akhirnya melahirkan Rafa. Tidak ada niat untuk kembali bekerja ke lapangan. Tidak ada hal lain yang saya pikirkan kecuali merawat anak saya sendiri.

Masa lalu yang traumatis membuat saya takut memiliki asisten rumah tangga sehingga “di rumah” menjadi keharusan, bukan pilihan. Ketika keluarga besar, tetangga-tetangga, dan teman mempertanyakan ngapain lulusan S2 diam di rumah, kedua orang tua saya tidak menanyakan hal itu sama sekali. Mereka hanya bertanya, kalau kamu kerja, Rafa sama siapa? Saya yakin ada waktunya ketika saya akan kembali ke luar. Dan ketika waktunya tiba, saya sudah harus punya supporting system yang kece bagi kami sekeluarga.

Bukan karena perempuan maka saya setuju dengan jargon ini, bahwa “Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi.” Why? Karena madrasah pertama seorang anak adalah ibunya. Harusnya mah para perempuan itu sekolah yang tinggi karena akan mendidik anaknya; bukan hanya sekedar urusan apa sih dulu itu, dapur kasur dan sumur? Lupa saya. Jadi saya mah setuju sekali perempuan sekolah setinggi-tingginya. Akhirnya akan di rumah atau bekerja, itu mah urusan masing-masing keluarga da setiap keluarga punya kondisi masing-masing. Tapi yang utama adalah berpendidikan!

Dengan berpendidikan, saya yakin kita jadi punya keinginan, apa yang ingin dicapai, passion, si tujuan greget yang ingin dicapai. Kalau kita mengerjakan sesuai dengan passion itu, saya pikir rasa empati kita akan tumbuh. Semakin banyak hal yang dipelajari, insya Allah jadi semakin kita “ngeh” dengan keadaan sekitar. Kalau sudah begitu, berdasarkan ilmu dalam IIP:

Passion + emphaty = social venture.

Apaan sih social venture? Dalam Materi IIP, disebutkan bahwa keadaan ini dibuat untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan social yang berkelajutan. WOW! Berat juga ternyata kandungan makna di dalamnya. Dulu pertama saya kenal sustainability karena mengambil mata kuliah itu. Saat itu si sustainability alias bekelanjutan ini dibentuk dari segitiga ekonomi-sosial-lingkungan; dan saya ingin mengambil peran dari sisi lingkungan. Dengan bantuan mikroorganisme yang kece.

Mengenai apakah passion duluan atau empati duluan yang datang, saya pikir bisa salah satunya bergantian atau keduanya. Untuk saya, saya mengejar passion saya karena saya suka kemudian jadi melihat berbagai masalah yang bisa diselesaikan melalui ilmu saya. Atau mungkin sebaliknya, melihat masalah yang ada kemudian mendalami passion saya. Keduanya tidak masalah. Mungkin bisa dijabarkan seperti berikut:

Minat Hobi Ketertarikan Skill, hard, soft Isu sosial Masyarakat Ide sosial
Membaca

Meneliti

Berbagi ilmu melalui pengajaran

Senang memperoleh input baru, senang note taking Sejak kuliah dan mengenal bakteri, saya selalu berpikir untuk bisa memanfaatkan si kecil satu ini menjadi sesuatu yang besar. Banyaknya manfaat microorganism sel tunggal ini dalam bidang makanan, kesehatan, lingkungan, dan industry; membuat saya ingin berperan melalui cara yang lain. Diamanahi bergerak di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi membuat saya perlahan belajar bukan hanya sekedar meneliti namun juga bisa dibagi dan dimanfaatkan. Sebaik-baiknya adalah yang bermanfaat. Karena saya ingin bisa lebih focus dengan rumah, saya ingin sekali mempunya jasa konsultan jasa lingkungan yang berbasis bioteknologi.
Senang story telling dengan anak-anak dan berbagi ilmu Bercerita pada anak-anak Mengisi acara anak-anak dan bercerita untuk menghibur mereka Selain itu, saya juga ingin bisa punya TK atau daycare sehingga bisa tetap dekat dengan anak-anak.

Mungkin passion saya yang senang membaca, membawa saya untuk terus banyak mempelajari banyak teori, salah satunya dengan kelas IIP ini. Dari beberapa jurnal dan pelatihan yang saya ikuti, dan juga diskusi-diskusi di ITBMH, membuat saya tidak mau ketinggalan. Lalu dari banyak teori itu bagaimana? Tentunya setelah dikaji mana yang cocok dengan keadaan kami, kami laksanakan. Kami berkomitmen untuk tidak mengikuti saja apa kata orang tua dulu, semua harus ada dasarnya. Dan di sinilah kami setelah tujuh tahun ini mempraktekan banyak hal dari apa yang kami pelajari dan dengan adanya mereka dan tantangan yang kami hadapi, passion untuk terus belajar dan empati dengan keadaan yang dinamis, membuat kami menjadi sekarang ini.Dalam ranah pendidikan di luar rumah, hal itu rasanya kok sangat ingin dicapai sampai-sampai saya ada di tahap doctoral seperti ini. Tapi untuk ranah di dalam keluarga kecil kami bagaimana? Saya tentunya tidak mau kalah dari ibu-ibu lain yang mampu membuatkan kurikulum bagi anak-anaknya. Apalagi saya senang sekali membacakan buku dan ber-story telling pada anak-anak. Bergabung dengan ITB Motherhood sejak menikah dulu, hingga kemudian berkenalan dengan SEMAI dan Yayasan Kita dan Buah Hati dari teman-teman semasa kuliah membuat saya jadi terpacu untuk banyak belajar parenting dan dual parenting bersama suami. Baik ketika saya di rumah selama tiga tahun, hingga kemudian kembali ke luar rumah tiga tahun belakangan ini.

Semoga dari ini semua, kami mampu memberi manfaat sosial dengan baik, di dalam keluarga terutama, dan di lingkungan. Sebagai seorang ibu, saya ingin menjadi agen perubahan melalui rumah, juga berperan aktif di daycare (ketika dulu di Indonesia, dan berharap juga di sini) dan juga melalui bidang profesional saya sebagai peneliti/ perekayasa. Dan semua itu diawali dengan belajar dari hal apapun 😊 Never stop learning!

“Dan sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat!”

 

Leave a Comment

NHW #8: Misi Hidup dan Produktivitas

Alhamdulillah, kali ini bisa mengerjakan NHW di awal karena tadi pagi Ayra sudah bisa trial di daycare baru. Dalam NHW kali ini, sekali lagi ditekankan bahwa “Rezeki itu pasti, kemuliaan harus dicari” dan semua itu harus dibarengi dengan kesungguhan!

Dalam NHW ini, dipelajari tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Salah satu cara menerapkan teknis tersebut adalah dengan memilih aktivitas pada kuadran SUKA dan BISA. Saya akan memilih aktivitas membaca dan menerapkan. Karena dua hal ini berkaitan erat dengan dua ruang saya yakni: di rumah di mana saya selalu membacakan buku pada anak-anak kemudian bersama-sama mempraktekannya; dan ruang di laboratorium/ kampus di mana saya juga harus membaca paper dan jurnal sebelum saya mempraktekkannya berdasarkan metode yang ada. Memang kalau dipikir-pikir simple. Tapi hingga ke tahap ini, cukup panjang karena diperlukan kesungguhan untuk selalu MAU belajar. Dan hingga saat ini, MAU itu tidak selalu ada. Maka kemauan itu harus selalu saya jaga dan buat agar tidak tersesat di tengah jalan.

Selanjutnya, mari menjawab pertanyaan “BE DO HAVE” ini:
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)

Saat ini tentunya saya ingin menjadi peneliti yang baik yang bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya lakukan sehingga bermanfaat untuk banyak orang. Melalui ilmu yang dipelajari hingga menjadi peneliti, saya juga ingin menjadi ibu yang mampu “meneliti” dan memperhatikan anak-anak hingga tidak kekurangan haknya.

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

Jika diamati, semua itu cenderung ke arah luar. Tapi jika ke arah dalam, ke keluarga, saya ingin bisa menerapkan ilmu sabar di laboratorium juga di rumah. Tentunya hal ini tantangan besar karena di kampus saya berhadapan dengan orang-orang yang sudah mature dan berada dalam bidang yang tidak jauh berbeda. Selain itu juga saya berhubungan dengan mikroorganisme alias makhluk yang gak keliatan dan tidak bisa bicara tapi saya harus paham mereka mau apa. Di sisi ini, saya harus belajar lebih sabar ketika saya berhadapan dengan anak-anak di rumah. Jika saya mampu bersabar di lab, dan juga mempresentasikan ilmu saya; di rumah seharusnya saya harus bisa sabar menghadapi anak-anak dan bisa melakukan pembelajaran bersama. Karena tentunya suami selalu mengingatkan bahwa saya bukan peneliti dan pembelajar dan pengajar di luar rumah saja, tapi yang utama di rumah.

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

Untuk mencapai itu semua, saya ingin memiliki kemampuan sabar dan manajemen waktu yang baik. Sehingga saya tidak akan dzalim terhadap waktu di rumah bersama anak-anak. Demi amanah PhD ini, saya harus berangkat pagi dan pulang malam. Menjemput anak-anak di daycare dan mereka hanya bermain dengan saya sebelum tidur, pagi hari, dan weekend. Apakah itu cukup? Di situ saya ingiiiiin sekali bisa memiliki waktu yang berkualitas dengan mereka. Saya ingin punya banyak waktu dan ikatan yang kuat dengan mereka.

 

Selanjutnya, untuk produktif, maka ada dimensi waktu yang harus dilihat. Akan bagaimana nanti ke depan? Berikut 3 pertanyaan yang dapat membantu kita mengukur apa yang ingin dicapai:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Pertanyaannya simple. Tapi jawabannya berat sekali, hehe. Dalam kurun waktu kehidupan kita, saya, kami ingin bisa mencapai kehidupan yang bahagia. Klise memang. Saya ingin kebahagiaan ini dapat tercapai baik dengan cara yang sederhana maupun melalui pembelajaran dari mana pun kapan pun siapa pun. Saya sangaaat berharap anak-anak kelak punya keinginan untuk selalu menuntut ilmu dalam hal apapun dan tidak pernah lelah di dalamnya. Sehingga melalui pengalaman yang banyak, mereka, kami bisa sama-sama belajar untuk menjadi individu yang lebih baik.
2. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

Dalam 5-10 tahun ke depan, saya ingin bisa menyelesaikan program doctoral dan post doc saya. Suami saya pun bisa menyelesaikan PhD nya dan bisa segera bekerja lagi baik di bidang akademisi dan professional sehingga dia bisa kembali disibukkan dengan pekerjaannya di lapangan yang menurut saya lebih membuatnya senang karena bisa langsung praktek. Kami pun berharap mendapat kesempatan lagi untuk tinggal di negara lain dan belajar hal baru. Semoga ilmu kami bisa bermanfaat untuk orang lain.

Tentunya bagi anak-anak, semoga mereka saat itu banyaaak memperoleh banyak pengalaman yang diisi dengan iman dan taqwa. Karena tinggal di negara non-muslim, kami berharap mereka bisa mengejar ketertinggalan mereka dalam bidang agama, dan bisa bersaing lebih baik dalam banyak hal.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Nah, pertanyaan ini lebih dapat terukur bagi saya, hehe. Satu tahun ke depan, kami berharap kami sudah kerasan di sini. Saat ini kami baru 4 bulan berada di sini. Semoga tahun depan, saya sudah bisa menjalankan riset dengan baik dan mendapat data yang banyak sehingga saya bisa mempublish penelitian saya. Saya ingin bisa keliling dunia untuk mengikuti conference untuk membagi ilmu saya. Untuk suami saya pun demikian.

Untuk anak-anak, doa saya yang sangaaat panjang; salah satunya semoga mereka sudah jauh kerasan bisa hidup di sini, jauh lebih jago cas cis cus, anak pertama saya juga sudah kece dan jago sekolahnya; dan tentunya bisa catch up dengan taman pendidikan Al Quran di sini, pun dengan Bahasa Indonesia. Intinya, satu tahun ke depan, kami sudah settle di sini. Semoga semua sudah senaaang dan tenaaang dengan aktivitas di sini. Bismillaaah!

Di akhir materi IIP diingatkan bahwa “Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu, BERUBAH atau KALAH!” Sesuai dengan NHW#6 saya, bahwa “Saya sudah berjalan sejauh ini, bukan untuk kalah.” Ganbarimashooou!

Sendai-shi, Tohoku, Jepang – kami yang masih terus bersama belajar beradaptasi 🙂

Leave a Comment

Older Posts »