Spring

)

One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.

[Autumn to Spring on 08.08.2008]

Comments (2)

(Prioritas) Dinas ke Luar

Mulai bulan September sampai Desember nanti, akan terjadi silih berganti orang-orang yang pergi keluar negeri. Saya mencoba untuk mematikan semua media sosial terlebih dahulu dan memohon kepada Allah untuk terus diberikan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalankan hidup saya di kantor. (Opo iki). Terdengar lebay, tapi sesungguhkan ini memang cukup berat. Tsaaah ~

Kesempatan itu memang datang terus menerus di kantor saya ini. Ke Jepang, Jerman, dan Taiwan. Ketiganya ditawarkan selama 2,5 tahun ini. Tapi kesempatan itu belum menjadi rezeki saya. Rezekinya ada yang lain atau disimpan buat nanti. Mungkin Allah ingin saya berangkat bersama keluarga, bukan sendiri ๐Ÿ™‚ Ayo, bilang AAMIIN!

Berhubung tugas dinas itu kalau bukan 2 minggu (tidak termasuk PP) dan 2 bulan, maka untuk ibu yang diamanahi dua orang anak ini, dengan salah satunya masih berumur 3 bulan, bukanlah suatu perkara mudah dalam memutuskan. Terlebih lagi, kami berempat hidup benar-benar berempat tanpa bantuan asisten rumah tangga dan keluarga (besar). Jadi prioritas pertama kami selalu kembali kepada kedua anak unyu kami.

Rekan-rekan di kantor selalu sangat menyayangkan pilihan saya ini. Soalnya saya yang suka ngajuin proposalnya dan katanya mba San yang paling rajin. Howek-howek. Agak gimana gitu nulisin ini sendiri, ahahaha. Tapi da kumaha. Ada yang lebih prioritas (saat ini) daripada training-training itu. Sampai akhirnya saya mulai agak kesal karena hampir semua orang nggak ngerti dengan pilihan saya hingga si saya marah dikit.

“Coba kalian teh mikir ada di posisi saya. Anak masih 3 bulan, masih butuh ASI dari ibunya. Stok ASIP? Banyak. Udah 3 tray. Pake susu formula kalau nggak cukup? (tidak usah dibahas). Terus siapa yang jaga anak-anak? Orang tua semua masih pada bekerja. (Ada yang nyaut, “Masa udah 2 kali batal berangkat terus, Mba?”). Coba kamu, *** (menyebut nama salah seorang teman), kamu mau nggak ngurus anak kamu sendirian bangun malem, pagi anter ke daycare, etc etc? (Dia jawab, “Nggak mungkin lha, Mba. Saya kerja. Susah bangun malem.”) See? Coba kamu ada di posisi suami saya ngurus 1 anak dan 1 bayi.”

Beralih ke anggota tim yang cewek-cewek. “Siapa sih yang nggak mau ke Jerman? Saya sampai ambil A1 tahun lalu demi ke sana dan juga karena mau apply sekolah (walau belum dapet juga). Saya teh di sini mencoba ikhlas dan sabar. Tapi kalau terus-terusan kalian seperti ini, berat juga kepikiran terus. Cik atuh bantu saya. Saya doain ajalah kalian. Supaya suatu saat berada di posisi saya. Di kondisi saya. Merasakan jadi ibu.” (Agak ngamuk ceritanya, ehehe).

Kenapa jadi curcol.

.

.

.

Suami dan saya alhamdulillah saling dukung pisan. Dan beliau juga nggak ngelarang saya berangkat. Tapi kita sama-sama harus cari jalan keluarnya. Buat kami, saling mendukung untuk kemajuan satu sama lain itu penting. Dan skala prioritas bagi kami juga penting. Kalau tidak, mana mungkin suami dukung saya suka dinas beberapa hari hingga seminggu abroad dan menjadi family man yang kece yang bisa ngurus anak sendiri tanpa ada saya atau pun orang lain yang bantu.

Tapi untuk kesempatan yang menurut kami agak lama (bagi si bayi) ini, insya Allah belum saatnya. Insya Allah nanti kami akan abroad bersama untuk 4 tahun. AAMIIN! Dasvidanya! Auf widersehen! Au revoir!

.

Semoga jadi ladang ibadah membuka kesempatan buat orang lain. Itu. Kata suami saya, sih. Saya mah lemot ambil hikmah. ๐Ÿ˜€

.

Lalu ada tambahan. Awas jangan sampai riya! Ahaha. Yuk, mari, rezeki mah nggak akan ke mana, katanya. ๐Ÿ˜€

Leave a Comment

New Daily!

Agustus datang! Sebentar lagi saya masuk kantor lagi setelah cuti melahirkan. Hari ini hari pertama bagi kami bertiga untuk mulai adaptasi sebelum tanggal itu datang.

Mengingat dulu saya full time di rumah hingga Rafa 2,5 tahun; bulan Agustus ini benar-benar tantangan baru untuk saya dikala harus bekerja saat si bayi belum juga 3 bulan.

Buat saya, perintilan perang persiapan ber-ASIP ini sungguh membuat saya dag dig dug khawatir memikirkan kalau ini gimana kalau itu gimana. Apalagi weekend ini harus mendengarkan si bayi nangis-nangis saat suami mencoba memberikan ASIP lewat botol. Bagaimana dengan nanti di Daycare (DC). Bisakah kami?

Alhasil hari ini si adik start adaptasi di DC berbekal 1x porsi mimi. Dia akan di sana selama jam sekolah kk. Jam setengah 11 akan saya jemput. Duh, itu selama perjalanan pulang saya kembali mikir ini itu. Tapi harus ingat support dari Ibu, Oma, sepupu & ibuibu kece Itbmh supaya jangan mikirin terus. Kalau ibu rungsing, bayi juga ikut merasakan. Yakin dan percaya bahwa dia bisa! Saya bisa! Kami bisa!

Jadilah otak yang lagi waras dan belajar positif menghadapi ini menjadi bersyukur. Dulu pas masih di rumah, pengen kerja lagi. Sekarang udah kerja, masih suka galau ingin kembali ke rumah.

Bahasan ini memang udah basi sih tentang emak di rumah, bekerja (di kantor, di rumah, di lab, etc). Tapi saya benar-benar merasa bersyukur merasakan dua kondisi berbeda. Dan saya pasti akan sangat kangen masa-masa mengantar anak sekolah seperti ini lalu bisa pulang ke rumah sebentar untuk nyuci baju, nyuci piring, masak, dan pekerjaan IRT yang sungguh tak pernah habis; lalu siang jemput anak. Santai? No! Banyak tugas yang harus dikerjakan. Plus sekarang kan ada gembolan baru.

Jadilah saya bertekad pasti bisa! Toh banyak ibuibu bekerja lainnya yang tetap bisa memberi ASI 2 tahun lebih walau bekerja.

Sing sehat anak-anak! Insya Allah ada rezeki lain dari keseharian kita yang seperti ini. Ibu sayaaang kk & adik :*

Leave a Comment

Encourages You to be YOU!

โ€œIf you only do what you can do, youโ€™ll never be more than you are now,โ€ Master Oogway.

Image result for oogway

Hari Sabtu kemarin, akhirnya setelah โ€œsibukโ€ ikut PK-LPDP (belum sempat nulis juga, padahal udah janji) dan menyusun dokumen kerekayasaan yang juga masih belum kelar sampai sekarang (banyak, bo!), kami bertiga memutuskan untuk mengisi weekend minggu ketiga Maret kami dengan menonton Kung Fu Panda 3 (walau sudah ketinggalan zaman katanya). Horeee!

Walau diawali dengan lupanya pin kartu Blitz dan kehilangan potongan harga nonton, nonton kali ini tetap seru, hehe. Buat saya sendiri sih, yang awalnya nggak suka Kung Fu Panda 1 (duluuu pisan nonton sama Avi, karena kekonyolan si Po dan desa yang hanya dihuni oleh 3 spesies hewan, hahaha) dan Kung Fu Panda 2 (via laptop), Kung Fu Panda 3 ini cukup menyentuh hati saya. Padahal sepanjang cerita seperti biasa di bioskop saya selalu ngoceh tanpa berhenti cerita sama Rafa, tapi film anak-anak ini sukses membuat saya mewek, ahahaha. Antara memang pesan yang disampaikan sangat menyentuh, atau faktor hormon ๐Ÿ˜€

Jadi ceritanya si Po disuruh jadi guru sebagai Ksatria Naga. Shifu menyampaikan sama si Po bahwa itu tugas dari Master Oogway yang memberi quotes di atas itu. Bahwa kamu harus menjadi diri kamu; yang sesungguhnya membuat pusing maksudna naon, sih? Biasanya mah kan orang teh suka bilang, โ€œPengen jadi seperti si Xโ€ atau โ€œBe your selfโ€ (yang tanpa upgrading โ€“ baca: teuteup males); tapi ini disuruh menjadi โ€œThe real youโ€.

Teringat dengan Talent Mapping Abah Rama, di sana minat dan bakat kita dipetakan yang hasilnya pasti ada beberapa hal yang membuat kita berpikir, โ€œOoh, saya ternyata begini. Oh, ternyata bener saya suka ini tapi gak pernah dikembangkan.โ€ Dll ooh lainnya.

Si Po ini teh juga baru sadar kalau dirinya bukan Po biasa. Bahkan teman-temannya juga ga percaya kalau si Po kumaha carana bisa jadi guru. Hingga ketika di Desa Panda, dan dia kepepet untuk menyelamatkan desanya, dia sadar bahwa semua orang punya potensi alias si minat dan bakat kayak Talent Mapping itu. Dan potensi itu teh, somehow orang lain bahkan diri sendiri nggak sadar ini teh annoying atau buat apa, sih? Yang ternyata ketika difasilitasi sesuai dengan peruntukannya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri yang potensinya jadi tergali, tapi juga bagi orang lain yang merasakan (awalnya ke-annoying-an itu) menjadi kerennya karakter unik.

Nah, berhubung saya emak-emak, yang udah 2 tahun di luar rumah, saya teh jadi merasakan 2 tahun ini saya tidak serajin memfasilitasi dan menstimulus minat & bakat Rafa yang selama 2,5 tahun di awal hidupnya sangat pesat. Si yang namanya multiple intelligent itu tidak saya dokumentasikan lagi dan merasa daycare sudah cukup memfasilitasi. Tapi ternyata belum. Masih banyaaak sekali potensi anak kita yang masih belum tergali dan kadang membuat ortu suka nggak sabar. Padahal mah percayalah sampai anak 7 tahun, itu kelakuan anak refleksi elu banget wahai ortu! Buah contoh dan didikan alias cermin pola pengasuhan.

Nah, sebelum semakin ngalor ngidul, saya teh jadi berpikir, apakah saya udah bener-bener mengeluarkan YOU-nya the real YOU Rafa selama 4,5 tahun ini atau tentunyaaa masih banyak PR besar sebagai orang tua untuk membimbing anaknya โ€œbe more than they are nowโ€. Yang pasti ini perkembangan tiap anak berbeda ya capaiannya apa, sesuai potensi (seperti di film yang mana si Po mengajari cara kung fu yang berbeda pada bayi panda yang suka bak pao dengan sepupunya yang suka jumping dari tempat tidur, atau yang suka guling-guling, sampai yang bisa nari itu, dan juga om-nya yang ternyata pelukannya bisa meremukan pohon). Daaan bukan dibandingkan dengan anak lain. Catet! Bandingkan itu dengan diri mereka sendiri kemajuannya dari waktu ke waktu.

Dan selfnote deui, yang membuat saya mewek adalah sebesar-besarnya usaha yang dilakukan, pasti akan ada kegagalan, dan ketika semua keluarga Panda featuring papa Angsa mengumpulkan chi mereka untuk membantu si Po, yang saya analogikan dengan DOA, maka ITU! Sebesar-besarnya usaha kita, tetaplah doa adalah yang utama.

Dalam sejumlah hadits, Rasulullah menegaskan bahwa doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang akan dikabulkan. Doa yang tidak akan ditolak oleh Allah Azza wa Jalla.

ุซูŽู„ุงูŽุซู ุฏูŽุนูŽูˆูŽุงุชู ู…ูุณู’ุชูŽุฌูŽุงุจูŽุงุชูŒ ู„ุงูŽ ุดูŽูƒู‘ูŽ ูููŠู‡ูู†ู‘ูŽ ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏู ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูุณูŽุงููุฑู ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุธู’ู„ููˆู…ู

โ€œTiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa musafir dan doa orang yang dizholimi.โ€ (HR. Abu Daud; hasan)

ุซูŽู„ุงูŽุซู ุฏูŽุนูŽูˆูŽุงุชู ู„ุงูŽ ุชูุฑูŽุฏู‘ู ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏู ุŒ ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูุณูŽุงููุฑู

โ€œTiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.โ€ (HR. Al Baihaqi; shahih)

Saya peluk Rafa sambil nonton dan berdoa dalam hati agar Allah selalu menjaganya dan membantunya menjadi anak yang penuh keberkahan bagi orang lain dan dirinya in a good ways always. Howaaa *mewek

Dan sekali lagi di malam hari setelah kami ng-gramed dan ada insiden ingin globe tapi ga ada duit, saya hanya bisa berdoa agar Allah memampukan kami agar selalu menjadi orang tua yang pandai meng-encourages anak-anak kami kelak menjadi diri mereka yang berakhlak dan berilmu pengetahuan. Bismillaaah! Amanah yang luar biasa ๐Ÿ™‚

Comments (1)

Silaturahmi (Ujug-ujug)

Saat ikut suami mudik ke Semarang, seperti kebiasaan sebelumnya, pagi-pagi yang dicari adalah langganan soto Semarang. Padahal makan soto bisa di mana saja, sih. Tapi beliau selama 4 hari di sana selalu ingin sarapan soto. Jadilah soto selalu menjadi menu sarapan yang kemudian membuatnya tidak mau makan soto lagi di Serpong. Hahaha.

Ini bukan mau membahas soto. Tapi salah satu pemandangan yang saya temukan ketika sedang makan soto. Tiba-tiba seorang ibu-ibu yang sedang makan soto di depan saya bersama keluarga besarnya, soalnya banyak sampai satu meja panjang sendiri dia tempatin, serta merta memeluk seorang lelaki yang baru datang bersama istri dan tiga orang anaknya. Saya spontan ikutan kaget. Dan entah kenapa saya otomatis melihat ke arah istri si bapak yang baru datang. Tampak bingung.

“Mas Sarwo (nama disamarkan), kan? Pah, ini Mas Sarwo!” seru si ibu yang ujug-ujug meluk suami orang. Kita beri nama Bu Yu.
“Eh, Mas Sarwo!” sekarang suami Bu Yu ikut-ikutan berhambur dan merangkul bahu Mas Sarwo.
“Mba Yu! Mas Yu!” Mas Sarwo yang mulanya berekspresi kaget langsung sumringah. “Bu, ini Mba dan Mas Yu, teman ayah selama di (disamarkan) Kalimantan.” Sang istri pun sepertinya juga sudah kembali ingatannya dan wajahnya ikut sumringah.
… dan seterusnya.

Saya terus mencuri dengar obrolan mereka yang seru sekali. Keluarga Yu dan keluarga Sarwo sudah lama sekali tidak bertemu tampaknya. Saya kurang menangkap apa mereka dulu teman sekolah atau teman kantor atau tetangga. Mereka saling menyebutkan nama anak temannya, “Wah, ini Yuda, sudah besar, terakhir ketemu kamu masih SD, sekarang sudah tinggi.” Anak-anak mereka saling mencium tangan dan bersalaman dengan yang seumuran. Lalu di waktu yang singkat itu di tengah-tengah yang satu baru selesai makan soto dan yang satu lagi baru pesan, mereka saling bertukar kontak dan berfoto-foto. Seru sekali. Karena mereka, saya jadi senyum terus sepanjang hari.

Saya lalu bertanya pada suami, kok nggak ketemu teman-teman sekolah SMA 3 Cabang (Pusat tentu Bandung – apa sih)? Ternyata mereka kumpulnya Sabtu, sementara kami baru turun dari kereta Minggu subuh. Sayang sekali. Baru beberapa bulan ini, suami punya WA grup teman-teman SMA. Dia senang sekali. Sampai nggak di-mute itu grup. Saya jadi iri. Karena saya agak ansos dan hanya punya beberapa sahabat dekat. Dan kami semua sudah tidak ada yang di Bandung lagi. Ya, akhirnya kami semua malah keluar dari Bandung. Grup WA tentu ada beberapa. Saya senang sekali sejak melahirkan jadi punya teman sharing di media sosial. Tapi bagaimana pun, teman nyata tidak akan bisa tergantikan. Dan menurut saya, sharing di media sosial tentu memiliki chemistry yang berbeda dengan saat kopi darat. Well, saya sangat menantikan jika suatu saat saya bisa seperti cerita keluarga Yu dan Sarwo di atas. Ujug-ujug ketemu. Sampai saat ini sih belum pernah yang ujug-ujug. Selalu direncanakan ngumpul.

Bahkan, ketika direncanakan pun, sering kali tidak terealisasi. Ihiks.

Silaturahmi

Suami saya selalu bilang pada saya yang katanya ansos tergeneralisasi kayak yg lain (maksutnyaaa), bahwa silaturahmi itu ya jangan hanya sama sahabat dekat atau teman yang sudah dikenal saja, tapi juga dengan tetangga dan banyak orang lainnya yang tidak kita kenal. Dia selalu yakin bahwa silaturahmi itu membuka banyak pintu rezeki. Ya mudah bagi dia yang gaul bicara seperti itu, hahaha, ups. Tapi deep in side my heart, I do believe, kok ๐Ÿ™‚ Hanya mungkin karena si saya ini introvert, jadi agak susah. Tapi tentu saya akan berusaha. Sampai detik ini saya masih WA-an dengan tetangga di Cilebut dan tentu dengan banyak teman walau ya itu hanya lewat media sosial. Banggaaa. Tapi alhamdulillah banget. Buat saya, atau para wanita kebanyakan, sharing dengan sesama itu sungguh charging ruhiyah banget, hehe. Walau hanya sekadar kirim icon rodentia di WA ๐Ÿ˜€

Akhir kata dari tulisan ini, sebenernya saya mau nulis ini untuk sahabat SMA saya yang udah susah di-track bahkan ke adik-adiknya pun. Semoga dia membaca. Terakhir kami kumpul waktu itu di Cicendo. Sudah lama sekali. Lengkap. Demi ngumpul, kami rela nungguin jam kosong bu dokter Summer. Hihi. Semoga suatu hari, salah satu dari kita ujug-ujug ketemu tanpa disengaja dan berhaha-hihi lagi. Can’t wait.

#tapi saya nggak akan serta merta meluk, koook ๐Ÿ˜€

Leave a Comment

Random 13.07.15 #2: JANGAN BIARKAN VIBRASI ANDA DIKENDALIKAN ORANG LAIN

JANGAN BIARKAN VIBRASI ANDA DIKENDALIKAN ORANG LAIN

Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya cemberut.
Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu.
Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu.
Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya:
โ€œHei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?โ€
Sahabatnya menjawab : โ€œLho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain.โ€
โ€œTapi dia melayani kita dengan buruk sekali,โ€ bantah orang pertama. Ia masih merasa jengkel.
โ€œYa, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.โ€
Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi.
Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.

Coba renungkan:
Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain..?.
Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu..?.
Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita, menentukan cara kita bertindak..!
Berusahakah untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.

โ€œPemenang kehidupanโ€ adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat”.

#dari suami ๐Ÿ™‚

Leave a Comment

Random 13.07.15

Allah memang Maha Adil. Setelah pagi ini Pak K*bid manggil saya untuk bikin TOR (lagi) dan berdiskusi banyak hal. Tapi yang saya tangkap hanya:
1. Reorganisasi bulan Agustus depan. Menentukan Unit mana yang akan kamu pilih untuk tahun depan. Pilih 3. Dan dia sudah yakin saya akan pindah dari sini. #
2. Saya nggak bisa lolos DAAD karena saya belum lulus Monbusho #

Suami saya tercinta bilang, katakan hal ini pada beliau:
“Terima kasih, Pak. Justru karena itu saya jadi lebih semangat mengejar DAAD.” Itu namanya tes mental. Bukan suatu kegagalan. Hal pertama: tetap berpikir positif, kedua: asumsikan bahwa itu adalah challenge untuk saya. Karena tidak ada sesuatu yang susah. Setiap hal harus dimulai dari langkah kecil. Ketiga: keep cool & calm. Jangan dipengaruhi oleh orang lain atau jangan biarkan orang lain mengatur langkah dan cita-cita kita. ๐Ÿ™‚

And in my not humble opinion, pemimpin yang baik itu adalah mereka yang bisa melihat potensi staf-nya dan tidak sembarangan mendistribusikan pekerjaan apalagi menjatuhkan staf; karena setiap orang punya potensi yang berbeda-beda dan setiap beasiswa punya karakter yang berbeda pula.

#akan saya buktikan hasil IBT saya yg lebih besar dari dia itu dan sertifikat bahasa Jerman saya nanti kelak dan bukti sekolah dengan usaha mencari beasiswa sendiri
#saya kangen ex-saya … ๐Ÿ˜ฆ
#dan jadiย merindukan diskusi-diskusi sekolah dengan ex-saya dan Pak D*r
#dan saya tetap akan positive thinking dengan pekerjaan saya tercinta

Ini ex-nya itu ex-di atas ya … Bukan ex-yang lain ๐Ÿ˜€

Sekian dan siap mudik besok!!! Ganbarimashou! ๐Ÿ™‚

Leave a Comment

Random 10.07.15

Di kantor saya sedang ada yang baru punya anak. Cowok. Itu yang suka banget ngomongin gaji. ๐Ÿ˜€

Saya udah ngebeliin dia buku-buku kehamilan dan parenting pas pameran. Juga udah nyuruh beli buku Baby Book Dr. Sears. Udah punya akhirnya. Tapi yang ditanyain itu selalu pertanyaan yang ada jawabannya di 5 jilid buku oke itu. Pleus kalau dikasih tau bawaannya suka kembali ke Mitos Orangtua Zaman Dahulu – bukan bermaksud nggak sopan dan tidak hormat dengan ilmu yang dimiliki oleh generasi sebelumnya, tapi pada dasarnya saya orang yang butuh Scientific Prove. Jadi selalu ada pegangan jurnal atau buku. Dan buat saya, apapun yang dilakukan orang lain kepada anaknya ya silakan saja, asal bukan ke anak saya. Pleus saya akan menyampaikan kalimat, “Kalau saya, berdasarkan ABC, saya akan …”. Nggak pernah saya bilang, “Kamu harus …” atau “Itu salah.” Saya yakin semua orang punya “yang terbaik” bagi anaknya baik itu benar atau salah – da tanggungjawab jatuh ke orang tua.

Tapiii, beberapa hari ini si cowok itu selalu bilang kalau pendidikan ke anak itu harus dipaksa. Dan selama ada mertua dia akan tetap tidur kalau anaknya yang belum sebulan itu nangis – walau udah saya ceritakan tentang pengalaman baby blues baik dari saya maupun teman. Tapi ya itu, dia keukeuh dan tetap minta pendapat. Sampai saya angkat kaki saja sih kalau sudah begini. Ngapain emosi. Toh anak dia pertanggungjawaban dia di hadapan Allah kelak.

Ini jadi ghibah.

Sekian dulu. Sebelum meledak karena sekarang dia keukeuh lagi tentang hal lainnya.

Comments (1)

Older Posts »