Spring

)

One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.

[Autumn to Spring on 08.08.2008]

Comments (2)

NHW#9: Bunda sebagai Agen Perubahan

Tidak pernah sekalipun kedua orang tua saya melarang saya untuk kembali ke rumah ketika saat itu saya memutuskan untuk di rumah dulu setelah melahirkan anak pertama. Saat itu saya baru saja sidang Magister dan revisi ketika akhirnya melahirkan Rafa. Tidak ada niat untuk kembali bekerja ke lapangan. Tidak ada hal lain yang saya pikirkan kecuali merawat anak saya sendiri.

Masa lalu yang traumatis membuat saya takut memiliki asisten rumah tangga sehingga “di rumah” menjadi keharusan, bukan pilihan. Ketika keluarga besar, tetangga-tetangga, dan teman mempertanyakan ngapain lulusan S2 diam di rumah, kedua orang tua saya tidak menanyakan hal itu sama sekali. Mereka hanya bertanya, kalau kamu kerja, Rafa sama siapa? Saya yakin ada waktunya ketika saya akan kembali ke luar. Dan ketika waktunya tiba, saya sudah harus punya supporting system yang kece bagi kami sekeluarga.

Bukan karena perempuan maka saya setuju dengan jargon ini, bahwa “Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi.” Why? Karena madrasah pertama seorang anak adalah ibunya. Harusnya mah para perempuan itu sekolah yang tinggi karena akan mendidik anaknya; bukan hanya sekedar urusan apa sih dulu itu, dapur kasur dan sumur? Lupa saya. Jadi saya mah setuju sekali perempuan sekolah setinggi-tingginya. Akhirnya akan di rumah atau bekerja, itu mah urusan masing-masing keluarga da setiap keluarga punya kondisi masing-masing. Tapi yang utama adalah berpendidikan!

Dengan berpendidikan, saya yakin kita jadi punya keinginan, apa yang ingin dicapai, passion, si tujuan greget yang ingin dicapai. Kalau kita mengerjakan sesuai dengan passion itu, saya pikir rasa empati kita akan tumbuh. Semakin banyak hal yang dipelajari, insya Allah jadi semakin kita “ngeh” dengan keadaan sekitar. Kalau sudah begitu, berdasarkan ilmu dalam IIP:

Passion + emphaty = social venture.

Apaan sih social venture? Dalam Materi IIP, disebutkan bahwa keadaan ini dibuat untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan social yang berkelajutan. WOW! Berat juga ternyata kandungan makna di dalamnya. Dulu pertama saya kenal sustainability karena mengambil mata kuliah itu. Saat itu si sustainability alias bekelanjutan ini dibentuk dari segitiga ekonomi-sosial-lingkungan; dan saya ingin mengambil peran dari sisi lingkungan. Dengan bantuan mikroorganisme yang kece.

Mengenai apakah passion duluan atau empati duluan yang datang, saya pikir bisa salah satunya bergantian atau keduanya. Untuk saya, saya mengejar passion saya karena saya suka kemudian jadi melihat berbagai masalah yang bisa diselesaikan melalui ilmu saya. Atau mungkin sebaliknya, melihat masalah yang ada kemudian mendalami passion saya. Keduanya tidak masalah. Mungkin bisa dijabarkan seperti berikut:

Minat Hobi Ketertarikan Skill, hard, soft Isu sosial Masyarakat Ide sosial
Membaca

Meneliti

Berbagi ilmu melalui pengajaran

Senang memperoleh input baru, senang note taking Sejak kuliah dan mengenal bakteri, saya selalu berpikir untuk bisa memanfaatkan si kecil satu ini menjadi sesuatu yang besar. Banyaknya manfaat microorganism sel tunggal ini dalam bidang makanan, kesehatan, lingkungan, dan industry; membuat saya ingin berperan melalui cara yang lain. Diamanahi bergerak di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi membuat saya perlahan belajar bukan hanya sekedar meneliti namun juga bisa dibagi dan dimanfaatkan. Sebaik-baiknya adalah yang bermanfaat. Karena saya ingin bisa lebih focus dengan rumah, saya ingin sekali mempunya jasa konsultan jasa lingkungan yang berbasis bioteknologi.
Senang story telling dengan anak-anak dan berbagi ilmu Bercerita pada anak-anak Mengisi acara anak-anak dan bercerita untuk menghibur mereka Selain itu, saya juga ingin bisa punya TK atau daycare sehingga bisa tetap dekat dengan anak-anak.

Mungkin passion saya yang senang membaca, membawa saya untuk terus banyak mempelajari banyak teori, salah satunya dengan kelas IIP ini. Dari beberapa jurnal dan pelatihan yang saya ikuti, dan juga diskusi-diskusi di ITBMH, membuat saya tidak mau ketinggalan. Lalu dari banyak teori itu bagaimana? Tentunya setelah dikaji mana yang cocok dengan keadaan kami, kami laksanakan. Kami berkomitmen untuk tidak mengikuti saja apa kata orang tua dulu, semua harus ada dasarnya. Dan di sinilah kami setelah tujuh tahun ini mempraktekan banyak hal dari apa yang kami pelajari dan dengan adanya mereka dan tantangan yang kami hadapi, passion untuk terus belajar dan empati dengan keadaan yang dinamis, membuat kami menjadi sekarang ini.Dalam ranah pendidikan di luar rumah, hal itu rasanya kok sangat ingin dicapai sampai-sampai saya ada di tahap doctoral seperti ini. Tapi untuk ranah di dalam keluarga kecil kami bagaimana? Saya tentunya tidak mau kalah dari ibu-ibu lain yang mampu membuatkan kurikulum bagi anak-anaknya. Apalagi saya senang sekali membacakan buku dan ber-story telling pada anak-anak. Bergabung dengan ITB Motherhood sejak menikah dulu, hingga kemudian berkenalan dengan SEMAI dan Yayasan Kita dan Buah Hati dari teman-teman semasa kuliah membuat saya jadi terpacu untuk banyak belajar parenting dan dual parenting bersama suami. Baik ketika saya di rumah selama tiga tahun, hingga kemudian kembali ke luar rumah tiga tahun belakangan ini.

Semoga dari ini semua, kami mampu memberi manfaat sosial dengan baik, di dalam keluarga terutama, dan di lingkungan. Sebagai seorang ibu, saya ingin menjadi agen perubahan melalui rumah, juga berperan aktif di daycare (ketika dulu di Indonesia, dan berharap juga di sini) dan juga melalui bidang profesional saya sebagai peneliti/ perekayasa. Dan semua itu diawali dengan belajar dari hal apapun 😊 Never stop learning!

“Dan sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat!”

 

Leave a Comment

NHW #8: Misi Hidup dan Produktivitas

Alhamdulillah, kali ini bisa mengerjakan NHW di awal karena tadi pagi Ayra sudah bisa trial di daycare baru. Dalam NHW kali ini, sekali lagi ditekankan bahwa “Rezeki itu pasti, kemuliaan harus dicari” dan semua itu harus dibarengi dengan kesungguhan!

Dalam NHW ini, dipelajari tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Salah satu cara menerapkan teknis tersebut adalah dengan memilih aktivitas pada kuadran SUKA dan BISA. Saya akan memilih aktivitas membaca dan menerapkan. Karena dua hal ini berkaitan erat dengan dua ruang saya yakni: di rumah di mana saya selalu membacakan buku pada anak-anak kemudian bersama-sama mempraktekannya; dan ruang di laboratorium/ kampus di mana saya juga harus membaca paper dan jurnal sebelum saya mempraktekkannya berdasarkan metode yang ada. Memang kalau dipikir-pikir simple. Tapi hingga ke tahap ini, cukup panjang karena diperlukan kesungguhan untuk selalu MAU belajar. Dan hingga saat ini, MAU itu tidak selalu ada. Maka kemauan itu harus selalu saya jaga dan buat agar tidak tersesat di tengah jalan.

Selanjutnya, mari menjawab pertanyaan “BE DO HAVE” ini:
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)

Saat ini tentunya saya ingin menjadi peneliti yang baik yang bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya lakukan sehingga bermanfaat untuk banyak orang. Melalui ilmu yang dipelajari hingga menjadi peneliti, saya juga ingin menjadi ibu yang mampu “meneliti” dan memperhatikan anak-anak hingga tidak kekurangan haknya.

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

Jika diamati, semua itu cenderung ke arah luar. Tapi jika ke arah dalam, ke keluarga, saya ingin bisa menerapkan ilmu sabar di laboratorium juga di rumah. Tentunya hal ini tantangan besar karena di kampus saya berhadapan dengan orang-orang yang sudah mature dan berada dalam bidang yang tidak jauh berbeda. Selain itu juga saya berhubungan dengan mikroorganisme alias makhluk yang gak keliatan dan tidak bisa bicara tapi saya harus paham mereka mau apa. Di sisi ini, saya harus belajar lebih sabar ketika saya berhadapan dengan anak-anak di rumah. Jika saya mampu bersabar di lab, dan juga mempresentasikan ilmu saya; di rumah seharusnya saya harus bisa sabar menghadapi anak-anak dan bisa melakukan pembelajaran bersama. Karena tentunya suami selalu mengingatkan bahwa saya bukan peneliti dan pembelajar dan pengajar di luar rumah saja, tapi yang utama di rumah.

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

Untuk mencapai itu semua, saya ingin memiliki kemampuan sabar dan manajemen waktu yang baik. Sehingga saya tidak akan dzalim terhadap waktu di rumah bersama anak-anak. Demi amanah PhD ini, saya harus berangkat pagi dan pulang malam. Menjemput anak-anak di daycare dan mereka hanya bermain dengan saya sebelum tidur, pagi hari, dan weekend. Apakah itu cukup? Di situ saya ingiiiiin sekali bisa memiliki waktu yang berkualitas dengan mereka. Saya ingin punya banyak waktu dan ikatan yang kuat dengan mereka.

 

Selanjutnya, untuk produktif, maka ada dimensi waktu yang harus dilihat. Akan bagaimana nanti ke depan? Berikut 3 pertanyaan yang dapat membantu kita mengukur apa yang ingin dicapai:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Pertanyaannya simple. Tapi jawabannya berat sekali, hehe. Dalam kurun waktu kehidupan kita, saya, kami ingin bisa mencapai kehidupan yang bahagia. Klise memang. Saya ingin kebahagiaan ini dapat tercapai baik dengan cara yang sederhana maupun melalui pembelajaran dari mana pun kapan pun siapa pun. Saya sangaaat berharap anak-anak kelak punya keinginan untuk selalu menuntut ilmu dalam hal apapun dan tidak pernah lelah di dalamnya. Sehingga melalui pengalaman yang banyak, mereka, kami bisa sama-sama belajar untuk menjadi individu yang lebih baik.
2. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

Dalam 5-10 tahun ke depan, saya ingin bisa menyelesaikan program doctoral dan post doc saya. Suami saya pun bisa menyelesaikan PhD nya dan bisa segera bekerja lagi baik di bidang akademisi dan professional sehingga dia bisa kembali disibukkan dengan pekerjaannya di lapangan yang menurut saya lebih membuatnya senang karena bisa langsung praktek. Kami pun berharap mendapat kesempatan lagi untuk tinggal di negara lain dan belajar hal baru. Semoga ilmu kami bisa bermanfaat untuk orang lain.

Tentunya bagi anak-anak, semoga mereka saat itu banyaaak memperoleh banyak pengalaman yang diisi dengan iman dan taqwa. Karena tinggal di negara non-muslim, kami berharap mereka bisa mengejar ketertinggalan mereka dalam bidang agama, dan bisa bersaing lebih baik dalam banyak hal.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Nah, pertanyaan ini lebih dapat terukur bagi saya, hehe. Satu tahun ke depan, kami berharap kami sudah kerasan di sini. Saat ini kami baru 4 bulan berada di sini. Semoga tahun depan, saya sudah bisa menjalankan riset dengan baik dan mendapat data yang banyak sehingga saya bisa mempublish penelitian saya. Saya ingin bisa keliling dunia untuk mengikuti conference untuk membagi ilmu saya. Untuk suami saya pun demikian.

Untuk anak-anak, doa saya yang sangaaat panjang; salah satunya semoga mereka sudah jauh kerasan bisa hidup di sini, jauh lebih jago cas cis cus, anak pertama saya juga sudah kece dan jago sekolahnya; dan tentunya bisa catch up dengan taman pendidikan Al Quran di sini, pun dengan Bahasa Indonesia. Intinya, satu tahun ke depan, kami sudah settle di sini. Semoga semua sudah senaaang dan tenaaang dengan aktivitas di sini. Bismillaaah!

Di akhir materi IIP diingatkan bahwa “Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu, BERUBAH atau KALAH!” Sesuai dengan NHW#6 saya, bahwa “Saya sudah berjalan sejauh ini, bukan untuk kalah.” Ganbarimashooou!

Sendai-shi, Tohoku, Jepang – kami yang masih terus bersama belajar beradaptasi 🙂

Leave a Comment

NHW#7 : Tahapan Menuju Bunda Produktif

Prolog: Ternyata File NHW 7 sudah ada di komputer laboratorium dan saya lupa menyelesaikan dan mensubmitnya. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk mengejar ketertinggalan di sela-sela halangan yang datang selama seminggu kemarin, mulai dari handphone yang rusak, mengurus sekolah anak-anak, riset, dan ujian di kampus. Semoga masih bisa  terus belajar lewat IIP ini 🙂

NHW#7 : Tahapan Menuju Bunda Produktif

Dalam NHW kali ini, digunakan tool Talents Mapping Abah Rama. Sebelumnya saya sudah pernah mengikuti hal ini saat diterima di BPPT dengan tes yang lebih lengkap dan dibahas langsung. Kurang lebih hasilnya masih sama seperti 3 tahun yang lalu, hehe. Tapi ada beberapa yang berubah, sih. Berdasarkan pengalaman yang sudah ditulis di NHW#1-6, juga kehidupan saya sehari-hari, saya memang tipikal yang banyaaak sekali berpikir. Mungkin itu kenapa saya sangat suka belajar dan sebisa mungkin menularkan hal itu kepada anak-anak. Never ending learning. Dan dalam hal apapun.

Berikut saya lampirkan hasil Talent Mapping saya. Mungkin karena sifatnya personal, saya tidak akan membahasnya dari cara pandang saya sendiri. Tapi yang bisa saya ceritakan, di mana amanah saya saat ini adalah sebagai peneliti – dan tentunya seorang ibu yang masih meraba-raba dalam membuat kurikulum anak-anak agar tidak melupakan pelajaran di Indonesia; insya Allah saat ini saya sedang berada di jalur yang cukup saya inginkan. Di mana sebagai peneliti/ perekayasa, dibutuhkan beberapa hal yang saya miliki. Dan saya pun insya Allah mengaplikasikannya di rumah untuk meneliti bagaimana supaya di rumah juga memberikan hasil yang kece, walau saat ini saya sedang super keteteran, hiks.

TM

Di NHW ini pun, kami diminta menuliskan kuadran aktivitas sbb:

Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA

Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi andaTIDAK BISA

Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA

Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

Kuadran 1

Saya suka membaca lalu menelitinya lalu melakukannya. Hal ini saya terapkan juga dalam mengajari anak di rumah. Tidak hanya kegiatan sehari-hari di lab.

Jadi secara umum kesukaan saya riset dan mengajar.

Kuadran 2

Saya suka melihat keadaan rapi dan teratur, tapi saya sering tidak ada waktu melakukannya, sehingga mungkin lama kelamaan saya suka jadi “ah, sudahlah”.

Saya juga suka melakukan hal berbau seni untuk refreshing, tapi tidak mahir.

Kuadran 3

Saya tidak suka beberes, tapi saya bisa, hahaha. Da kewajiban mungkin, ya.

Kuadran 4

Hm, cukup sulit … biasa karena tidak suka, maka tidak bisa atau sebaliknya.

Apakah saya produktif dengan BAHAGIA?

Jika dilihat dari hasil talent mapping di atas dan di st30_Sandia Primeia, di mana saya adalah tipe yang suka menganalisis, lalu meng-arrange satu persatu, kemudian membuatnya, mungkin di sini insya Allah sudah sesuai dengan aktivitas saya saat ini yang merupakan perekayasa (peneliti) di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Indonesia; yang sedang mengemban amanah untuk melanjutkan studi PhD. Ini memang sulit, tapi harus. Dan apakah saya bahagia melakukan ini?

HARUS!

Suami dan saya telah berkomitmen bahwa kami akan menjalani dual parenting bersama walau pada akhirnya 3 tahun terakhir ini saya kembali bekerja, itu pun kami lakukan setelah anak pertama kami sudah 3 tahun dan semoga saat itu saya tidak kehilangan Golden Age-nya. Tapi bagaimana dengan anak kedua kami dikala dia lahir dan tumbuh di mana saya sangat sibuk karena di usianya yang belum 1 tahun, saya harus melaksanakan PhD. Bahagiakah dengan keproduktifan ini?

Suami saya bilang, kebahagiaan itu harus diciptakan. Jadi saat saya sibuk dan stress pun, tolooong jangan bebankan itu pada anak-anak. Memang susah. Dan sampai saat ini saya masih belajar. Karena jujur beban sekolah ini rasanya sangat berat dibanding beban bekerja dulu. Mungkin karena kami berempat beradaptasi bersama di Jepang dan semuanya mulai berkesibukan masing-masing. Saya di lab, suami pun; dan anak-anak kembali ke daycare seperti di Indonesia dulu di daycare kantor; tapi kali ini di dunia berbahasa baru. Ganbarimashou!

Selain tiga kekuatan di atas, saya juga dinyaatakan educator, evaluator, strategist dan visionary. Mungkin ini selain berkaitan dengan aktivitas saya, sebagai ibu, kerap kali saya tidak ingin kehilangan waktu dengan anak-anak sehingga saya selalu mengupgrade kurikulum kami di rumah. Saya dan suami bergantian menyusun apa-apa saja yang bisa kami ajarkan pada mereka agar tidak lupa dengan Indonesia. Dan setiap harinya kami evaluasi.

Saya kadang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga yang bisa ikut suami bekerja atau sekolah ke luar negeri. Tapi qodarullah, saya yang harus sekolah dan juga tetap menjadi ibu terbaik bagi mereka. Apakah saya bahagia? Saya harus bahagia. Karena dengan bersyukur maka Allah akan menambahkan rezeki. Insya Allah 🙂

Sendai-shi, Tohoku, Jepang. Ditulis di laboratorium di kala hujan deras 🙂

Leave a Comment

NHW#6: Menjadi Manager Handal

RUTINITAS. Sebuah kata yang menujukan “serasa” sibuk banget padahal monoton. Mungkin. Seperti halnya ketika dulu harus bekerja dari jam 8 pagi hingga 4 sore. Tapi saat itu masih cukup banyak waktu dari jam 4 sampai 10 malam, sejak menjemput anak-anak di daycare kantor sampai mereka tertidur. Pagi dan malam masih sempat menyuapi mereka. Tapi rasanya sekarang yang menurut saya dalam tiga bulan ini belum monoton karena masih dalam tahap eksplorasi di laboratorium, lebih kekurangan waktu dibandingkan saat di Indonesia. Ketika saya berangkat, anak-anak sering belum bangun, dan ketika pulang, ujug-ujug sudah jam 8. Artinya saya hanya punya waktu 2-3 jam saja bersama mereka. Lalu saya harus bagaimana? Apakah berhenti? Sementara kami berempat hidup di sini dari beasiswa ini.

Baiklah, berdasarkan NHW#6 kali ini, “Menjadi Manajer Handal” – tentunya bersama suami yang selalu support, saya akan coba menuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting.

Karena anak-anak masih waiting list masuk daycare dan suami masih belum rutin ke laboratorium, maka walau saya banyak kekurangan waktu, tentunya nomor 1 adalah rumah. Anak-anak. Keluarga. Rumah. Tapi sejak pindah ke sini, dengan jam kerja yang panjang dan tidak tentu ini, saya merasa kewalahan sekali. Terutama untuk catch up pelajaran kakak di Indonesia dan di sini. Saya tidak ingin dia melupakan pelajaran di Indonesia, sehingga kadang saya malah lebih kepikiran stimulus apa lagi yang bisa saya titipkan pada suami atau ketika giliran saya di rumah, agar dia tetap ter-drill setiap harinya. Dan … waktu bermain dengannya!

Nomor 2. Dan mungkin bias apakah ini nomor 1 atau nomor 2. Riset PhD saya. Karena saat ini kami sedang tugas belajar di luar, maka kewajiban utama kami di sini adalah belajar dan riset. Terkadang sulit sekali membagi waktu saat ini. Di kala harus di rumah, di kampus, belanja, ke dokter, dan hal lainnya. Memang di Indonesia pun kami melakukan semuanya berempat saja. Tapi entahlah, mungkin karena waktu yang cenderung lebih “full” di sini, rasanya semua terasa kurang waktu. Dan itu membuat saya labil karena harusnya saya sibuk dengan anak-anak bukan dengan peliharaan saya di lab.

Nomor 3. Pekerjaan rumah tangga. Bagaimanapun, saya istri dan ibu. Walau kami saling membagi tugas berdua, rasanya saya masih keteteran di sini. Sementara ibu-ibu yang lain sempat membuatkan bento untuk anak-anaknya, saya boro-boro. Bekal ya biasa saja.

Kadang saya merasa mendzalimi anak-anak. Tapi suami dan keluarga saya selalu mengingatkan bahwa “Saya sudah berjalan sejauh ini, bukan untuk kalah.” Jadi bismillah semoga bisa mengerjakan semuanya dengan baik.

3a4347025b38367ffbcf73c77b79fd70--ivf-failure-victory

Dan tentunya dengan mengeliminasi aktivitas yang tidak penting, seperti … SATU: ngecek hape ketika di rumah. Ini benar-benar mulai saya disiplinkan bahwa begitu masuk ke apato, saya harus menyembunyikan hape di tas. Jangan sampai waktu saya yang sama anak-anak udah mah ngan saeutik, lalu dicuri juga sama si hape.

DUA: Nonton. Si sayah the jarang banget nonton. Tapi belakangan saya suka nonton sambil nyusuin si adik. Dulu sambil nyusuin bisa sambil bacain buku si kakak. Tapi sekarang kok tidak lagi ya? Bertanya pada diri sendiri. Padahal di rumah the waktu buat mereka aja. Tapi saya multitaskingnya malah untuk diri sendiri. Padahal udah full me time untuk diri sendiri di lab. Perlu dievaluasi jenis multitasking saat menyusui ini.

TIGA. Apa ya … mungkin segala hal yang di mana saya kadang masih sibuk sendiri di rumah tanpa melibatkan anak-anak. Jangan lagi. Harus kembali seperti di Indonesia saat banyak mendelegasikan dan bekerja sama dengan anak-anak. Apa mungkin karena waktu di rumah lebih sedikit tapi malah pengen menyelesaikan semua sendiri, tapi justru ketika ada waktu panjang di Indonesia dulu, bisa waras bekerja sama dengan si kakak yang “babantu” dalam banyak hal. Hm, ini harus dievaluasi juga. Melibatkan anak-anak, kelak akan sangat membantu dalam banyak hal.

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

Sejak April lalu … jawabannya adalah di kampus. Dulu masih dengan bangga bisa menjawab kegiatan di rumah. Sekarang jujur, tidak di rumah lagi. Dan saya, kami, tetap harus bisa menfasilitasi anak-anak kami agar terus maju dan berkembang. Ganbatte!

Ah, satu lagi. Cut off time! Kadang sulit sekali ya kalau sudah asyik dengan suatu kegiatan lalu menanti-nantikan pekerjaan lainnya. Noted to my self bahwa harus ada cut off time ini. Semoga dengan demikian, semua ter-manage dengan lebih baik lagi. Bismillah!

Sendai, Juli 7, 2017 – saat sedang waras di sela-sela studi literatur

Comments (1)

NHW#5: Belajar Cara Belajar

Fitrah belajar sejak lahir. Mungkin kalau melihat anak-anak, tahapannya adalah sebagai berikut, di mana juga ternyata dipraktekan dalam melaksanakan riset disertasi, lho. (Gambar di ambil dari FP FB Quin)

Sandia - Belajar

Semua orang rasanya fitrahnya ada penasaran. Penasaran dengan hal di sekitarnya. Dan dari sini saya belajar jangan pernah mematikan rasa penasaran ini pada diri anak-anak kita. Kadang kita yang nggak sabar dengan menghentikan rasa tanya dan penasaran mereka dengan menyudahi dan tidak memfasilitasi mereka. Karena lahir dari keluarga yang suka belajar dan terus belajar, hal ini sangat penting bagi kami.

Terkait dengan quote dari Materi NHW#5 ini bahwa “Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan,” adalah benar. Kita bisa saja memaksakan agar bisa, tapi belum tentu bisa suka. Alangkah baiknya jika diawali suka, lalu jadi bisa. Karena itu akan menggali si bakat dan juga si minat. Setidaknya tidak ada keterpaksaan dalam melakukan suatu hal. Disebutkan pula bahwa ada hal yang perlu dipelajari yaitu: (1) belajar hal berbeda, (2) cara belajar yang berbeda, dan (3) semangat belajar yang berbeda.

Semakin berada di status baru saya ini, semakin saya merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Dan malah membuat saya belajar anak-anak harus tidak hanya “belajar” tapi melakukan apa yang mereka sukai. Kalau ternyata mereka bisa sampai tahap ini tidak apa-apa. Kalau ternyata mereka senangnya pada passion keminatan mereka, tidak apa-apa juga. Toh yang penting halal dan bermanfaat. Tentang dia mau jadi apa dan bagaimana, kami selaku orang tua hanya bisa menfasilitasi dan tidak boleh memaksa.

Mungkin sekian dulu NHW#5. Pada tahapan ini, saya justru jadi banyaaak belajar pada anak-anak. Bahwa filosofi dari belajar ini adalah ketertarikan. Dan ketertarikan itu tidak boleh dimatikan. Ini yang harus dijaga pada diri anak-anak. Dari rasa tertarik dan penasaran, dari situ kita belajar bagaimana caranya belajar.

Leave a Comment

NHW#4 dan Aliran Rasa(-nya)

Mengerjakan NHW#4 ini jujur tidak mudah. Mungkin saya sudah sangat terlambat mengerjakannya di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa banyak baik di kampus maupun di rumah. Entah ini hanya excuse atau bukan, tapi adaptasi status baru menjadi mahasiswa kembali ini benar-benar menyita waktu dan tenaga.

Judul NHW#4 ini adalah mendidik dengan kekuatan fitrah di mana dilakukan evaluasi terhadap 3 tugas sebelumnya. Berikut saya coba jabarkan sedikit pemahaman saya dari tugas ini yang jauuuh dari apa yang saya tangkap sepertinya setelah membaca review-nya.

Pertama. Evaluasi NHW#1 tentang jurusan ilmu yang dikuasai. Jika jawabannya harus ilmu parenting, tentu semua ibu, semua orang tua, ingin jago dalam hal ini. Siapa yang tidak ingin jadi yang terbaik dalam mengasuh anak-anaknya. Sebelumnya saya menuliskan ingin bisa ilmu sabar dan manajemen waktu – jika tidak salah. Ini merupakan hal penting bagi semua ilmu. Apakah ilmu saya sendiri saat ini saat menempuh riset doctoral yang bukan ilmu parenting, ataukah ilmu parenting sendiri yang tidak ada universitasnya tapi harus terus dipelajari Karena merupakan merupakan suatu kewajiban bagi setiap insan, ibu, orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan keluargar. Saya justru banyak memikirkan hal ini saat mengerjakan tugas, tapi tidak mampu menuliskannya. Atau senggang? Rasanya saya kangen sekali saat senggang. Salut kepada ibu-ibu yang menemukan banyak waktu senggang. Rasanya mau ambruk badan. Dan di sinilah saya sekarang terbaring sendiri bisa mengetik sementara anak-anak jalan-jalan Bersama Yandanya. Jadi apakah saya masih mau ganti jurusan? Menjadi Ahli Ibu dan Anak Karena jawaban dari review NHW#4 adalah itu?

Kedua. Evaluasi NHW#2 tentang konsistensi check list. Yang pasti saat ini suami dan saya masih sama-sama terus belajar untuk bisa menjadi dual parenting terbaik bagi anak-anak. Apalagi kami harus bergantian ke kampus dan menjaga anak-anak. Mengenai hal ini, kami terus saling mengevaluasi. Cukup subhanallah menginjak 3 bulan pertama kami di negara baru ini.

Ketiga. Evaluasi NHW#3. Tentunya sebagai orang tua, kami ingin menjadi orang tua dengan model yang baik bagi anak-anak. Istilahnya inspirator. Jika kemudian kami harus menerapkan tahapan ilmu yang harus dikuasi sebagai orang tua sebagai berikut, maka dapat ditulisakan sebagai berikut: (saya mungkin tidak akan menuliskan ibu saja, Karena tugas parenting menjadi kewajiban kami berdua – terlebih saat ini saat saya lebih banyak di lab dibandingkan suami), well, tidak ada situasi yang bisa disamaratakan bagi setiap kondisi, kan.

(1)Orang tua sayang, (2) orang tua cekatan, (3) orang tua produktif, (4) orang tua shaleh/ shalehah. Keempat pencapaian ini adalah akhlak yang tentunya harus terbangun terlebih dahulu bagi setiap insan. Sehingga kemudian bisa menjadi inspirasi bagi anak-anaknya. Bukan hanya sekadar diada-adakan Karena harus menulis ini. Tentunya semua harus dimulai dari diri sendiri. Seperti juga yang disebut sebagai 0 KM-nya.

Lalu mau mulai kapan? Insya Allah sudah mulai dijalankan di mana evaluasinya dilakukan setiap saat, seperti halnya ketika mengikuti IIP ini. Banyak hal yang harus dipelajari.

Berkaca dari review, ketika harus melihat kondisi sekarang, jujur semuanya jauh dari kondisi yang tentunya diharapkan berupa ibu di rumah dan tidak mensubkontrakan anak-anak. Ini kondisi yang sangat-sangat berat bagi kami Karena kenyataannya jauh dari itu. Lalu apakah ingin berubah? Pertanyaanya kembali, “apakah ini salah?” “apakah jalan yang saya ambil salah?” atau kemudian “apakah saya tidak harus bersunggung-sungguh dengan apa yang saya pilih dan berubah harus saklek dengan kondisi yang diharapkan?” Sampai saat ini saya, kami, pun masih bertanya-tanya namun juga tetap melaksanakan semua ini dengan penuh kesungguhan Karena yang paham kondisi yang terjadi pada keluarga kami adalah kami sendiri.

Kalau ditanya aktivitas apa saja yang disukai? Jelas saya sangat suka kalau bisa di rumah. Tidak perlu pumping ASI di kampus, bisa menyusui langsung, bisa membacakan buku selalu untuk kakak. Semua tidak perlu disubkontrakan pada orang lain. Semua untuk anak saya, akan saya lakukan sendiri.

OK, mari kita menjawab hasil review NHW#4:

  1. Jurusan ilmu secara global: (jika harus ini tentu akan saya tulis) Pendidikan anak dan keluarga – di samping kewajiban saya menyelesaikan sekolah saat ini – yang saya ambil jauh dari sebelum mengikuti IIP. Tapi apa saya berarti tidak belajar tentang anak dan keluarga? Tentu saja tidak. Anak-anak dan keluarga nomor SATU.
  2. Tentukan NOL KM kami: menurut kami, kami sudah mulai harus membaca sebelum menikah. Tapi kalau dilihat sekarang sudah berapa banyak jam terbang? Well, itu masih jauh dari target kami berdua. Karena usia pernikahan kami akan menginjak 7 tahun, dan mungkin kami belajar 1-2 jam setiap harinya untuk ilmu ini, maka jika perhitungannya 20 tahun lagi kami baru bisa selesai belajar, rasanya akan lebih lama lagi Karena belajar tidak akan pernah henti.
  3. Tahun pertama bekerja lagi setelah 3 tahun di rumah, saya hampir menangis setiap saat mengantar anak saya ke daycare. Kalau jam terbang saya sebagai ibu tidak terhitung selama 3 tahun 3 tahun berikutnya ini, apakah bisa digeneralisasi kalau seorang ibu jauh dari apa yang ada dalam teori? Apa berarti saya gagal jadi ibu?
  4. Sampai detik ini, saya jadi bingung kalau harus menulis rentang waktu dan mata pelajaran yang harus di ambil. Yang jelas setiap hari, ketika di Indonesia ada banyak akses perpus di rumah, sekarang hanya bisa melalui artikel-artikel atau bahkan jurnal di internet. Konsisten belajar? Insya Allah. Never ending to study, apalagi untuk urusan anak-anak.

Mungkin ini dulu NHW#4 yang juga saya gabung dengan Aliran Rasa ☹

Leave a Comment

Sekolah (lagi)

Kamu seorang ibu dengan dua anak atau lebih? Masih ingin melanjutkan sekolah? Kamu pasti bisa!

Bagaimana caranya?

Karena sudah mengemban amanah dan status baru sebagai istri dan ibu, kali ini ketika memutuskan untuk sekolah kembali, tentu membutuhkan pertimbangan yang jauh lebih banyak. Semua harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Atau mungkin dari jauh-jauh tahun. Atau bahkan sebelum menikah 🙂

Hal pertama yang harus kamu penuhi adalah ridho dari suami! Ini paling penting. Karena dengan ridho darinya, yang dulu ridho dari orang tua, terutama ibu; maka perjalanan mau sekolah lagi ini insya Allah dipermudah banget sama Allah. And it happened!

Saya akan coba memberi beberapa sharing dari dari saya (mohon diingat bahwa hal ini dalam kondisi saya, tidak bisa digeneralisasi untuk semua wanita, istri, dan ibu. Karena semua orang punya kondisi masing-masing) 🙂

  1. Niat yang benar. Ini susah-susah gampang tapi kalau niatnya benar, insya Allah akan dimudahkan. Dan tentunya kudu istiqomah. Jangan salah, proses mau sekolah sampai dapat sekolah ini panjang, lhooo!
  2. Tadi itu yang utama, sebagai istri tentunya ridho dari sang suami tercinta.
  3. Susun rencana yang matang dengan berbagai rencana A, B, C. Jadi si sayah enggak akan begitu kecewa kalau plan A tidak tercapai
  4. Cari tempat yang sesuai. Kok tempat? Soalnya misalnya dalam jalan saya, saya pernah keukeuh ingin ke Eropa. Kalau tidak ke Jerman, harus bisa ke Inggris. Jadilah saya ngubek universitas di sana saja. Tapi terus selain negara dan universitas, karena saya bukan hanya akan hidup sendiri, saya harus memikirkan suami dan anak-anak. Tentang peran mereka dan akan bagaimana di negara tujuan. Karena saya ingin semua keluarga maju bersama, maka saya, kami, juga mencari universitas untuk suami. Kalau bisa kami dalam satu universitas. Nggak kebayang kalau harus LDM lagi.
  5. Biaya. Ada beberapa dan banyak negara yang mensyaratkan kita harus memiliki deposit mengendap selama sekian lama di buku tabungan kita. Untuk kasus ini, saya benar-benar mencari tahu berapa biaya yang harus dibawa untuk berangkat bersama keluarga. Tambahan 1 kepala dewasa dan 2 kepala anak-anak. Ternyata hampir beberapa negara menyebutkan angka yang tidak kecil. Sangat besar! Bahkan harga rumah saya saja lewat. Setiap hari di kantor saya browsing dengan kata kunci, “Membawa keluarga ke ….,” dengan entah sudah berapa negara saya catat di orgi saya. Mulai dari biaya dan juga kapan boleh bawa keluarga, proses imigrasinya, dan lain sebagainya. Alasannya hanya 1. Jika saya mau sekolah ke luar, maka keluarga juga harus sama-sama berangkat. Untuk kondisi saya.
  6. Bahasa. Karena saya keukeuh ke Jerman, si saya ya merelakan tabungan untuk kursus bahasa Jerman. Walau nggak jadi. Dan ya tidak masalah. Jangan lupa tes bahasa inggris. Siapkan waktu dan biaya. Ini penting karena saya weekday ke kantor, begitu pula suami. Jadi weekend kami bagi-bagi waktu. Qodarullah di sini malah kami baru kursus di sini, hihi.
  7. Social benefit. Karena membawa anak-anak, maka carilah negara yang udah kece masalah kesehatan dan sekolahnya. Pelajari sistem asuransinya, sistem sekolahnya, sistem pembiayaannya. Bisa tanya-tanya dari teman yang sudah ada di sana.
  8. Apalagi ya … akan saya update seiring waktu 🙂

Untuk pembiayaan di luar deposito dan biaya lainnya, mari kita berusaha keras memperoleh beasiswa. Bisa beasiswa dari professor, tempat yang dituju atau dari negara sendiri. Pastikan kamu membaca semuanya dengan baik dan menyiapkan semuanya dengan baik.

Karena status saya, saya saat itu hanya mengejar beasiswa DAAD dan LPDP. Kenapa? Karena ada Family Allowance-nya, hehe. Setelah bertahun-tahun browsing, rasanya hanya dua beasiswa ini yang lengkap. Untuk membawa keluarga. Walau pada praktiknya beasiswa apapun juga bisa dibantu dengan kita melakukan part time, baik di kampus maupun di luar kampus. Dan kembali ke gaya hidup. Insya Allah orang Indonesia mah bisa bertahan hidup lebih baik.

2017-06-07_14.48.28

Oiya, saat wawancara beasiswa, jujurlah!

Saat wawancara, saya sedang hamil 4 bulan. Saat memasukan aplikasi, saya belum tahu kalau saya hamil. Ini seru sekali saat wawancara, alih-alih membahas research plan, kondisi keluarga menjadi fokus wawancara. Terutama untuk suami dan anak-anak. Mereka banyak menekankan pada kondisi di Indonesia yang dimanjakan dengan pembantu dengan di luar yang harus apa-apa sendiri. Alhamdulillah karena sampai saat ini belum pernah ada pembantu, saya bisa meyakinkan juri pewawancara. Bahwa selama ini juga kami hanya ber-3 (sebelum adik lahir). Sama halnya di sini mengandalkan daycare. Pastikan juga bahwa kita tidak ada keraguan di dalamnya. Bahwa semua ini sudah diridhoi oleh suami. Sampai-sampai karena hampir semua pertanyaan menyudutkan saya, saya menjawab bahwa pertanyaan bapak/ibu juri itu adalah pertanyaan saya pada suami; dan inilah jawaban dari suami saya. Masya Allah.

Baiklah, itu dulu sharing dari saya. Semangat terus untuk belajar! 🙂

Leave a Comment

Older Posts »