Spring

)

One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.

[Autumn to Spring on 08.08.2008]

Advertisements

Comments (2)

Mengenalkan Fitrah Seksualitas Pada Anak

#GameLevel11
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#FitrahSeksualitas

Hari ke-1. Masya Allah tema dan tantangan kali ini sungguh menantang. Apalagi buat kami pada anggota Bunsay Batch 3 Luar Negeri yang tinggal di negeri minoritas. Berikut saya langsung tulis saja apa yang sudah disampaikan oleh mba Gita dan mba Anggie yang kece sebagai presenter pertama dalam tantangan ini.

   

Tahapan Mendidik Fitrah Seksualitas

Usia 0 -2 tahun: Dekatkan anak dengan ibunya. Pada usia 0-2 tahun, anak masih menyusu pada ibunya. Menyusui adalah pondasi penguatan konsepsi semua fitrah.

Usia 3-6 tahun: Pada tahapan ini penguatan konsepsi gender dengan penggambaran positif gender masing-masing. Anak laki-laki dan perempuan harus didekatkan dengan kedua orang tuanya. Indikator pada tahapan ini adalah anak dapat menyebutkan dengan jelas dan bangga dengan gendernya di usia tiga tahun.

Usia 7-10 tahun: Penyadaran potensi gender dengan aktivitas yang relevan dan beragam sesuai gendernya. Ayah mengajak anak laki-laki berperan dan beraktivitas sebagai laki-laki di kehidupan sosialnya. Termasuk menjelaskan tentang mimpi basah, fungsi sperma, dll. Ibu mengajak anak perempuan beraktivitas sebagai perempuan di kehidupan sosialnya. Dijelaskan tentang menstruasi, dll. Indikator pada tahap ini, anak laki-laki mengagumi ayahnya dan anak perempuan mengagumi ibunya.

Usia 11-14 tahun (pre aqil baligh): Tahap pengujian eksistensi melalui ujian di kehidupan nyata. Anak laki-laki didekatkan dengan ibunya dan memahami cara pandang perempuan (ibunya). Anak perempuan didekatkan dengan ayahnya dan memahami cara pandang laki-laki (ayahnya). Indikator pada tahapan ini adalah persiapan dan keinginan menjadi ayah bagi anak laki-laki dan menjadi ibu bagi anak perempuan.

Usia 15 tahun (aqil baligh): Penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga berperan keayahbundaan. Pada tahapan ini anak sudah dibebani beban syariah, dan berubah stastusnya menjadi mitra orang tua. Anak sudah siap berperan sebagai ayah dan bunda sejati.

Bersambung 🙂

Leave a Comment

Main rumah-rumahan

Hari ke-10. Apato kami alhamdulillah cukup luas dengan 3 kamar tidur. Setiap kamar, seperti apato Jepang pada umumnya memiliki kloset besar. Biasanya tempat nyimpen baju dan lain-lain di lantai atas, dan di lantai bawah untuk tempat futon dan perlengkapannya. Kebayangkah kloset ini? Seperti tempat tidur Doraemon di dalam lemari itu, lho!

Nah, anak-anak juga suka pisan main di dalam kloset sambil mendongeng sendiri seolah-olah menjadi tokoh buatan mereka. Entah kenapa lagi suka sama jenis-jenis obake anak-anak teh. Obake itu bahasa Jepangnya hantu. Pasti tau macam jenis hantu lucu Jepang kalau baca komik, anime atau seangkatan baca buku “Hantu di Sekolah” zaman SD dulu (saya tua mungkin, haha). Nah, kurang lebih begitu.

Jadi bukan sembarang main rumah-rumahan. Tapi kakak bikin latar dan narasinya sendiri sesuai apa yang ada di kepalanya. 

Luar biasa lihat anak-anak mengarang cerita sendiri begitu, hihi.

Leave a Comment

Ksatria Air

Hari ke-9. Jadi inget dulu ada buku dari kantor tentang menghemat air. Saya lupa tepatnya. Tapi seperti ini kira-kira hasil reka ulang kakak dan ibu.

Suatu hari tokoh Adi lagi nyuci sepeda, tapi airnya selalu lupa dimatikan, bahkan sampai dia selesai bermain sepeda bersama teman. Ketika pulang, jalanan sepi, banyak orang yang pingsan di jalan. Ternyata begitu pula dengan ibu, ayah, dan kucingnya. 

Tiba-tiba dari selang air yang dipakai tadi pagi, ada setetes air menetes dan berubah menjadi seorang ksatria air. Si ksatria minta tolong buat nyelamatin negerinya yang ternyata tempat asal mula air bersih berada.

Dari sini dimulai petualangan Adi dan ksatria air. Ternyata di negeri air ada raja yang jahat yang di mana sumber kekuatannya berasal dari air yang terbuang. Nah, dari kekuatan itu, dia memperoleh kekuatan lain untuk mengubah kolam air yang dialirkan ke bumi menjadi tercemar. Ksatria air tidak punya kekuatan ketika terserah air tercemar. Maka Adi dengan keyakinan yang kuat untuk mencegah tercemarnya air, mampu mengalahkan si raja air kotor. 

Akhirnya tentu hepi ending. Dan Adi, ketika pulang ke bumi lagi, tidak mau buang-buang air (yang akan mengalir ke negeri air kotor). 

Hehe, demikian. Latar ceritanya bagus. Keingetan tadi saat kami sedang beberes.

Leave a Comment

Origami

Hari ke-8. Kebiasaan beberapa malam membersamai anak-anak belakangan ini adalah membuat origami sambil ceceritaan. Kakak yang sudah lebih terampil bisa bercerita lebih banyak. Adik tidak mau kalah.


Seperti pada foto di atas, anak-anak berimajinasi sendiri tentang guguk, ikan dan strawberry cake. Dan jangan salah, mereka berdua saling berbalas ceritanya ceritanya pakai bahasa Jepang 😁 biarlah mereka relaks di malam hari dengan imajinasinya masing-masing.

Leave a Comment

Dongeng balas budi di Jepang

Hari ke-7. Teringat dengan dongeng yang selalu dibuat drama musikalnya di sekolah-sekolah, yg saya lupa judulnya, tentang balas budi.

Dimulai ketika sepasang kakek nenek sedang jalan di pematang sawah tiba2 menemukan patung di mana 1 dari 7 patung kehilangan topinya. Lalu karena kasian, si kakek memberikan topi bertaninya kepada patung tanpa topi supaya nggak keujanan.
Ketika tiba di rumah, ada hewan-hewan yang membawakan berbagai jenis pangan untuk keluarga si kakek nenek yang miskin itu. Katanya karena telah membantu “dewa” penjaga supaya nggak keujanan. 

Terlepas dari patung, anak-anak di sini bisa mengambil pelajaran tolong menolong ketika memerankan drama di depan sekolah. 

Leave a Comment

Bukan Dongeng

Hari ke-6. Sudah 3 hari sejak kakak masuk sekolah lagi sejak libur panjang musim panas. Tengah semester 1 dimulai dan PR pun dimulai lagi. Salah satunya adalah PR membaca setiap hari di mana orang tua harus menuliskan komentar pada kartu membaca. Setiap hari. Karena kakak mulai sibuk membaca buku lagi, kegiatan mendongeng agak berkurang karena kakak mulai capek buat PR. Plus ibu drop tepat, maafkan. Jadinya seminggu ini akan lebih sering ngobrol2 dan membacakan buku (daya mendongeng ibu juga menurun).

Kembali seperti sebulan lalu, kakak selalu seru bercerita tentang teman-temannya di sekolah. Hari ini, karena ibu tepar di rumah, begitu tiba di rumah, kakak langsung nyerocos cerita kegiatannya hari ini.

Memang bukan dongeng. Tapi komunikasi hari ini pun mantap gak abis-abis. Nice talk, Kak!

Leave a Comment

Komik Akhlak Al-Quran

Hari ke-5. Semalam menggunakan buku komik Akhlak Al-Quran untuk bahan bantu. Ceritanya tentang berkata jujur. Di sini saya bercerita bahwa jujur berkata tidak, tidak bisa, tidak tahu; adalah lebih baik daripada sok tau.

Saya tekankan bahwa menjawab tidak tahu itu tidak perlu malu. Justru harus ditanamkan. 

Bersambung

Leave a Comment

Older Posts »