Spring

)

One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.

[Autumn to Spring on 08.08.2008]

Comments (2)

NHW#5: Belajar Cara Belajar

Fitrah belajar sejak lahir. Mungkin kalau melihat anak-anak, tahapannya adalah sebagai berikut, di mana juga ternyata dipraktekan dalam melaksanakan riset disertasi, lho. (Gambar di ambil dari FP FB Quin)

Sandia - Belajar

Semua orang rasanya fitrahnya ada penasaran. Penasaran dengan hal di sekitarnya. Dan dari sini saya belajar jangan pernah mematikan rasa penasaran ini pada diri anak-anak kita. Kadang kita yang nggak sabar dengan menghentikan rasa tanya dan penasaran mereka dengan menyudahi dan tidak memfasilitasi mereka. Karena lahir dari keluarga yang suka belajar dan terus belajar, hal ini sangat penting bagi kami.

Terkait dengan quote dari Materi NHW#5 ini bahwa “Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan,” adalah benar. Kita bisa saja memaksakan agar bisa, tapi belum tentu bisa suka. Alangkah baiknya jika diawali suka, lalu jadi bisa. Karena itu akan menggali si bakat dan juga si minat. Setidaknya tidak ada keterpaksaan dalam melakukan suatu hal. Disebutkan pula bahwa ada hal yang perlu dipelajari yaitu: (1) belajar hal berbeda, (2) cara belajar yang berbeda, dan (3) semangat belajar yang berbeda.

Semakin berada di status baru saya ini, semakin saya merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Dan malah membuat saya belajar anak-anak harus tidak hanya “belajar” tapi melakukan apa yang mereka sukai. Kalau ternyata mereka bisa sampai tahap ini tidak apa-apa. Kalau ternyata mereka senangnya pada passion keminatan mereka, tidak apa-apa juga. Toh yang penting halal dan bermanfaat. Tentang dia mau jadi apa dan bagaimana, kami selaku orang tua hanya bisa menfasilitasi dan tidak boleh memaksa.

Mungkin sekian dulu NHW#5. Pada tahapan ini, saya justru jadi banyaaak belajar pada anak-anak. Bahwa filosofi dari belajar ini adalah ketertarikan. Dan ketertarikan itu tidak boleh dimatikan. Ini yang harus dijaga pada diri anak-anak. Dari rasa tertarik dan penasaran, dari situ kita belajar bagaimana caranya belajar.

Leave a Comment

NHW#4 dan Aliran Rasa(-nya)

Mengerjakan NHW#4 ini jujur tidak mudah. Mungkin saya sudah sangat terlambat mengerjakannya di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa banyak baik di kampus maupun di rumah. Entah ini hanya excuse atau bukan, tapi adaptasi status baru menjadi mahasiswa kembali ini benar-benar menyita waktu dan tenaga.

Judul NHW#4 ini adalah mendidik dengan kekuatan fitrah di mana dilakukan evaluasi terhadap 3 tugas sebelumnya. Berikut saya coba jabarkan sedikit pemahaman saya dari tugas ini yang jauuuh dari apa yang saya tangkap sepertinya setelah membaca review-nya.

Pertama. Evaluasi NHW#1 tentang jurusan ilmu yang dikuasai. Jika jawabannya harus ilmu parenting, tentu semua ibu, semua orang tua, ingin jago dalam hal ini. Siapa yang tidak ingin jadi yang terbaik dalam mengasuh anak-anaknya. Sebelumnya saya menuliskan ingin bisa ilmu sabar dan manajemen waktu – jika tidak salah. Ini merupakan hal penting bagi semua ilmu. Apakah ilmu saya sendiri saat ini saat menempuh riset doctoral yang bukan ilmu parenting, ataukah ilmu parenting sendiri yang tidak ada universitasnya tapi harus terus dipelajari Karena merupakan merupakan suatu kewajiban bagi setiap insan, ibu, orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan keluargar. Saya justru banyak memikirkan hal ini saat mengerjakan tugas, tapi tidak mampu menuliskannya. Atau senggang? Rasanya saya kangen sekali saat senggang. Salut kepada ibu-ibu yang menemukan banyak waktu senggang. Rasanya mau ambruk badan. Dan di sinilah saya sekarang terbaring sendiri bisa mengetik sementara anak-anak jalan-jalan Bersama Yandanya. Jadi apakah saya masih mau ganti jurusan? Menjadi Ahli Ibu dan Anak Karena jawaban dari review NHW#4 adalah itu?

Kedua. Evaluasi NHW#2 tentang konsistensi check list. Yang pasti saat ini suami dan saya masih sama-sama terus belajar untuk bisa menjadi dual parenting terbaik bagi anak-anak. Apalagi kami harus bergantian ke kampus dan menjaga anak-anak. Mengenai hal ini, kami terus saling mengevaluasi. Cukup subhanallah menginjak 3 bulan pertama kami di negara baru ini.

Ketiga. Evaluasi NHW#3. Tentunya sebagai orang tua, kami ingin menjadi orang tua dengan model yang baik bagi anak-anak. Istilahnya inspirator. Jika kemudian kami harus menerapkan tahapan ilmu yang harus dikuasi sebagai orang tua sebagai berikut, maka dapat ditulisakan sebagai berikut: (saya mungkin tidak akan menuliskan ibu saja, Karena tugas parenting menjadi kewajiban kami berdua – terlebih saat ini saat saya lebih banyak di lab dibandingkan suami), well, tidak ada situasi yang bisa disamaratakan bagi setiap kondisi, kan.

(1)Orang tua sayang, (2) orang tua cekatan, (3) orang tua produktif, (4) orang tua shaleh/ shalehah. Keempat pencapaian ini adalah akhlak yang tentunya harus terbangun terlebih dahulu bagi setiap insan. Sehingga kemudian bisa menjadi inspirasi bagi anak-anaknya. Bukan hanya sekadar diada-adakan Karena harus menulis ini. Tentunya semua harus dimulai dari diri sendiri. Seperti juga yang disebut sebagai 0 KM-nya.

Lalu mau mulai kapan? Insya Allah sudah mulai dijalankan di mana evaluasinya dilakukan setiap saat, seperti halnya ketika mengikuti IIP ini. Banyak hal yang harus dipelajari.

Berkaca dari review, ketika harus melihat kondisi sekarang, jujur semuanya jauh dari kondisi yang tentunya diharapkan berupa ibu di rumah dan tidak mensubkontrakan anak-anak. Ini kondisi yang sangat-sangat berat bagi kami Karena kenyataannya jauh dari itu. Lalu apakah ingin berubah? Pertanyaanya kembali, “apakah ini salah?” “apakah jalan yang saya ambil salah?” atau kemudian “apakah saya tidak harus bersunggung-sungguh dengan apa yang saya pilih dan berubah harus saklek dengan kondisi yang diharapkan?” Sampai saat ini saya, kami, pun masih bertanya-tanya namun juga tetap melaksanakan semua ini dengan penuh kesungguhan Karena yang paham kondisi yang terjadi pada keluarga kami adalah kami sendiri.

Kalau ditanya aktivitas apa saja yang disukai? Jelas saya sangat suka kalau bisa di rumah. Tidak perlu pumping ASI di kampus, bisa menyusui langsung, bisa membacakan buku selalu untuk kakak. Semua tidak perlu disubkontrakan pada orang lain. Semua untuk anak saya, akan saya lakukan sendiri.

OK, mari kita menjawab hasil review NHW#4:

  1. Jurusan ilmu secara global: (jika harus ini tentu akan saya tulis) Pendidikan anak dan keluarga – di samping kewajiban saya menyelesaikan sekolah saat ini – yang saya ambil jauh dari sebelum mengikuti IIP. Tapi apa saya berarti tidak belajar tentang anak dan keluarga? Tentu saja tidak. Anak-anak dan keluarga nomor SATU.
  2. Tentukan NOL KM kami: menurut kami, kami sudah mulai harus membaca sebelum menikah. Tapi kalau dilihat sekarang sudah berapa banyak jam terbang? Well, itu masih jauh dari target kami berdua. Karena usia pernikahan kami akan menginjak 7 tahun, dan mungkin kami belajar 1-2 jam setiap harinya untuk ilmu ini, maka jika perhitungannya 20 tahun lagi kami baru bisa selesai belajar, rasanya akan lebih lama lagi Karena belajar tidak akan pernah henti.
  3. Tahun pertama bekerja lagi setelah 3 tahun di rumah, saya hampir menangis setiap saat mengantar anak saya ke daycare. Kalau jam terbang saya sebagai ibu tidak terhitung selama 3 tahun 3 tahun berikutnya ini, apakah bisa digeneralisasi kalau seorang ibu jauh dari apa yang ada dalam teori? Apa berarti saya gagal jadi ibu?
  4. Sampai detik ini, saya jadi bingung kalau harus menulis rentang waktu dan mata pelajaran yang harus di ambil. Yang jelas setiap hari, ketika di Indonesia ada banyak akses perpus di rumah, sekarang hanya bisa melalui artikel-artikel atau bahkan jurnal di internet. Konsisten belajar? Insya Allah. Never ending to study, apalagi untuk urusan anak-anak.

Mungkin ini dulu NHW#4 yang juga saya gabung dengan Aliran Rasa ☹

Leave a Comment

Sekolah (lagi)

Kamu seorang ibu dengan dua anak atau lebih? Masih ingin melanjutkan sekolah? Kamu pasti bisa!

Bagaimana caranya?

Karena sudah mengemban amanah dan status baru sebagai istri dan ibu, kali ini ketika memutuskan untuk sekolah kembali, tentu membutuhkan pertimbangan yang jauh lebih banyak. Semua harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Atau mungkin dari jauh-jauh tahun. Atau bahkan sebelum menikah 🙂

Hal pertama yang harus kamu penuhi adalah ridho dari suami! Ini paling penting. Karena dengan ridho darinya, yang dulu ridho dari orang tua, terutama ibu; maka perjalanan mau sekolah lagi ini insya Allah dipermudah banget sama Allah. And it happened!

Saya akan coba memberi beberapa sharing dari dari saya (mohon diingat bahwa hal ini dalam kondisi saya, tidak bisa digeneralisasi untuk semua wanita, istri, dan ibu. Karena semua orang punya kondisi masing-masing) 🙂

  1. Niat yang benar. Ini susah-susah gampang tapi kalau niatnya benar, insya Allah akan dimudahkan. Dan tentunya kudu istiqomah. Jangan salah, proses mau sekolah sampai dapat sekolah ini panjang, lhooo!
  2. Tadi itu yang utama, sebagai istri tentunya ridho dari sang suami tercinta.
  3. Susun rencana yang matang dengan berbagai rencana A, B, C. Jadi si sayah enggak akan begitu kecewa kalau plan A tidak tercapai
  4. Cari tempat yang sesuai. Kok tempat? Soalnya misalnya dalam jalan saya, saya pernah keukeuh ingin ke Eropa. Kalau tidak ke Jerman, harus bisa ke Inggris. Jadilah saya ngubek universitas di sana saja. Tapi terus selain negara dan universitas, karena saya bukan hanya akan hidup sendiri, saya harus memikirkan suami dan anak-anak. Tentang peran mereka dan akan bagaimana di negara tujuan. Karena saya ingin semua keluarga maju bersama, maka saya, kami, juga mencari universitas untuk suami. Kalau bisa kami dalam satu universitas. Nggak kebayang kalau harus LDM lagi.
  5. Biaya. Ada beberapa dan banyak negara yang mensyaratkan kita harus memiliki deposit mengendap selama sekian lama di buku tabungan kita. Untuk kasus ini, saya benar-benar mencari tahu berapa biaya yang harus dibawa untuk berangkat bersama keluarga. Tambahan 1 kepala dewasa dan 2 kepala anak-anak. Ternyata hampir beberapa negara menyebutkan angka yang tidak kecil. Sangat besar! Bahkan harga rumah saya saja lewat. Setiap hari di kantor saya browsing dengan kata kunci, “Membawa keluarga ke ….,” dengan entah sudah berapa negara saya catat di orgi saya. Mulai dari biaya dan juga kapan boleh bawa keluarga, proses imigrasinya, dan lain sebagainya. Alasannya hanya 1. Jika saya mau sekolah ke luar, maka keluarga juga harus sama-sama berangkat. Untuk kondisi saya.
  6. Bahasa. Karena saya keukeuh ke Jerman, si saya ya merelakan tabungan untuk kursus bahasa Jerman. Walau nggak jadi. Dan ya tidak masalah. Jangan lupa tes bahasa inggris. Siapkan waktu dan biaya. Ini penting karena saya weekday ke kantor, begitu pula suami. Jadi weekend kami bagi-bagi waktu. Qodarullah di sini malah kami baru kursus di sini, hihi.
  7. Social benefit. Karena membawa anak-anak, maka carilah negara yang udah kece masalah kesehatan dan sekolahnya. Pelajari sistem asuransinya, sistem sekolahnya, sistem pembiayaannya. Bisa tanya-tanya dari teman yang sudah ada di sana.
  8. Apalagi ya … akan saya update seiring waktu 🙂

Untuk pembiayaan di luar deposito dan biaya lainnya, mari kita berusaha keras memperoleh beasiswa. Bisa beasiswa dari professor, tempat yang dituju atau dari negara sendiri. Pastikan kamu membaca semuanya dengan baik dan menyiapkan semuanya dengan baik.

Karena status saya, saya saat itu hanya mengejar beasiswa DAAD dan LPDP. Kenapa? Karena ada Family Allowance-nya, hehe. Setelah bertahun-tahun browsing, rasanya hanya dua beasiswa ini yang lengkap. Untuk membawa keluarga. Walau pada praktiknya beasiswa apapun juga bisa dibantu dengan kita melakukan part time, baik di kampus maupun di luar kampus. Dan kembali ke gaya hidup. Insya Allah orang Indonesia mah bisa bertahan hidup lebih baik.

2017-06-07_14.48.28

Oiya, saat wawancara beasiswa, jujurlah!

Saat wawancara, saya sedang hamil 4 bulan. Saat memasukan aplikasi, saya belum tahu kalau saya hamil. Ini seru sekali saat wawancara, alih-alih membahas research plan, kondisi keluarga menjadi fokus wawancara. Terutama untuk suami dan anak-anak. Mereka banyak menekankan pada kondisi di Indonesia yang dimanjakan dengan pembantu dengan di luar yang harus apa-apa sendiri. Alhamdulillah karena sampai saat ini belum pernah ada pembantu, saya bisa meyakinkan juri pewawancara. Bahwa selama ini juga kami hanya ber-3 (sebelum adik lahir). Sama halnya di sini mengandalkan daycare. Pastikan juga bahwa kita tidak ada keraguan di dalamnya. Bahwa semua ini sudah diridhoi oleh suami. Sampai-sampai karena hampir semua pertanyaan menyudutkan saya, saya menjawab bahwa pertanyaan bapak/ibu juri itu adalah pertanyaan saya pada suami; dan inilah jawaban dari suami saya. Masya Allah.

Baiklah, itu dulu sharing dari saya. Semangat terus untuk belajar! 🙂

Leave a Comment

Berangkat Bersama ke Jepang

Kamu seorang ibu dengan dua anak atau lebih? Masih ingin melanjutkan sekolah? Kamu pasti bisa!

Ketika selesai wawancara LPDP akhir tahun 2015 lalu, rasanya saya berjanji pada rekan saya untuk menuliskan bagaimana ujian saat itu. Tapi saya bilang, saya akan menuangkannya dalam tulisan jika saya sudah lulus tes beasiswa. Tapi setelah lulus juga tidak sempat karena (sok) sibuk dengan rumah, kantor, Persiapan Keberangkatan, kehamilan, kelahiran, hingga akhirnya sekarang setelah 2 bulan ada di sini. Baiklah, mari kita coba share pengalaman saya itu.

Kenapa Jepang?

Ketika mendaftar LPDP, pilihan saya adalah Jerman. Alasannya banyak: 1. Suami saya sudah pernah diterima di Bonn, 2. Biaya hidup murah (berdasakan hasil diskusi dengan banyak orang), 3. Bisa membawa keluarga langsung tanpa deposit, 4. Secara tidak sadar, mengingatkan saya akan cita-cita sejak SMP karena punya penfriend di sana, 5. Biaya hidup di sana murah dan bisa bawa keluarga langsung. Itu.

Kenapa sih keukeuh harus bawa keluarga langsung? Karena saya ibu dari dua orang anak. Dan saat pengumuman seleksi LPDP, saya sedang hamil. Artinya ketika saya sekolah, anak ke-2 saya baru lahir. Sesuai komitmen awal kami untuk memberikan ASI selama 2 tahun, maka saya juga ingin berusaha yang terbaik bagi anak ke-2 kami.

Lalu apa yang terjadi? Selain saya gagal seleksi DAAD, professor saya di TUM pindah ke Umea, Swedia. Berdasarkan berbagai alasan tentang standar minimum pendapatan yang harus diterima mahasiswa PhD di Swedia, maka akhirnya saya mundur. FYI: ke Swedia juga bisa berangkat langsung bersama keluarga tanpa deposito – teman satu PK saya langsung berangkat bersama suami dan anaknya.

Terus kenapa Jepang?

Mungkin takdir, hahaha. Well, kalau ditilik-tilik, perjalanan ke sana alhamdulillah dimudahkan sekali. Dengar-dengar dari para alumni sebelumnya pun, membawa keluarga ke sana sini lebih dimudahkan daripada misal ke UK (di mana kamu harus punya deposito – yang saat itu masih lebih mahal dari rumah saya, huhu) atau Belanda (yang visa MVV-nya juga mencapai angka X00 juta), atau negara-negara lain yang mensyaratkan harus tinggal dulu baru bisa mengundang keluarga. Situasi tersebut bagi saya tidak mungkin. Jauh dari anak-anak dan masalah biaya adalah hal penting.

Jadi bagaimana supaya kamu bisa berangkat bersama ke sini?

Ada 3 cara. 1. Keluarga menyusul (yang ini buat saya mustahil), 2. Minta dibuatkan Certificate of Eligibility (COE) oleh kampus (yang ini mulanya ditawarkan oleh Sensei, tapi kata kantor imigrasi, lebih baik keluarga student jadi dependent student itu sendiri), 3. Berangkat bersama dengan keluarga menggunakan visa turis 3 bulan, lalu change visa status di sini.

Syaratnya apa saja bagi keluarga? Bisa dibaca di sini. Kurang lebih seperti ini:

  1. Paspor.
  2. Formulir permohonan visa. [download (PDF)] dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
  3. Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili) – kecuali anak-anak
  4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa) – tidak perlu
  5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang) – saya menggunakan booking tiket, sayang kalau hangus  😀
  6. Jadwal Perjalanan [ download (DOC)] (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang) – yang cukup diisikan selama 3 bulan di lokasi tempat tinggal yang sama seperti kita (lampirkan bukti tempat tinggal juga)
  7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu)
  8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan: – karena saya penerima beasiswa, lampirkan letter of guarantee dan letter of scholarshipBila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya
    * Fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya).
  9. Tambahan dari saya: sebenarnya ini jadi seperti mengundang keluarga tapi berangkat bersama, lampirkan juga Surat Jaminan [ download (PDF) ] bagi setiap orang. Saya juga melampirkan Letter of Acceptance (LOA) & COE saya dan surat dari Sensei bahwa mengizinkan membawa keluarga.
  10. Pengajuan bisa dilakukan bersamaan atau diri sendiri dulu kemudian keluarga. Saya melakukannya bersamaan.

Alhamdulillah dalam waktu tepat 4 hari, saya, kami memperoleh visa kami. Saya dengan lama tinggal sesuai COE, sedangkan keluarga sesuai dengan pengajuan maksimal selama 3 bulan. Dan karena ke Tohoku, maka biaya visa gratis! (Ayo, ke Tohoku! *promosi 🙂 ).

Kemudian, setelah tiba di Jepang, jika masuk melalui bandara besar, maka akan langsung mendapatkan KTP (Zaryu Card). Untuk kasus saya, karena turun di Sendai, maka pembuatan KTP ini diajukan di kantor kecamatan dan kartunya akan dikirim ke tempat tinggal. Begitu dapat, langsung ke kantor imigrasi sesuai lokasi dan ajukan COE untuk keluarga.

Syaratnya? Ada di sini. Kurang lebih seperti ini:

  1. Formulir Aplikasi 1 berkas, download disini
  2. Foto 3cm X 4cm 1 buah
    1. Foto berwarna dengan latar belakang putih
    2. Foto harus 3 bulan terakhir – saran: bawalah foto berbagai ukuran dari Indonesia, soalnya di sini mahal, hehe.
    3. Tidak boleh pakai penutup wajah/kepala/topi, tapi klo kerudung jelas boleh
    4. Proporsi foto sebaiknya diperhatikan baik baik, jangan terlalu kecil wajahnya, harus jelas, dll. Aturan resmi proporsi tidak ada untuk CoE, tapi untuk visa ada banyak contohnya di sini
  3. A return mail envelope with affixed stamp 392 yen. Amplop untuk pengiriman CoE yang udah selesai/approved ke alamat tempat kita tinggal. Alamatnya kita tulis sendiri, perangko juga tempel sendiri. Ukuran amplop bebas, bisa tanya ke kantor pos setempat. Untuk perangko, harga di atas untuk 1 orang, jadi kemarin karena 3 orang untuk suami dan anak-anak, maka tambah 10 yen. Bisa langsung ditanyakan di tempat kok harganya.
  4. The supporting documents shown on the table. Jadi dokumen tambahan yang diperlukan bergantung jenis CoE yang kita Apply. Untuk Dependent, dokumen tambahan yang diperlukan adalah:
    1. Documents certifying the personal relationship between the person concerned and the person who is to support him or her. – Di sini saya melampirkan translasi/ translate-an dari Buku Nikah dan Akte Lahir anak-anak. Dalam bahasa Jepang. Tidak harus ke penerjemah tersumpah, bisa kepada teman yang orang Jepang.
    2. Copies of the registration certificate or the passport of the person who is to support the person concerned. Saya membawa Juminhyo alias surat keterangan tempat tinggal yang bisa diperoleh di kantor kecamatan setempat, si Zaryu Card, dan letter of enrollment dari kampus. Dan tentunya kopi passport.
    3. Documents certifying the profession and the income of the person who is to support the person concerned. Disini saya siapin surat keterangan pelajar dari kampus, dan LOG & LOS dari LPDP.
  5. Letter of Guarantee. Formulir bahwa kita akan jadi penjamin istri/anak kita. Download di sini. Sama dengan dokumen surat jaminan point 9 di atas.
  6. Semua dokumen yang dikirimkan, tidak akan dikembalikan. Jadi setelah memperlihatkan semua yang asli, jangan lupa dibawa pulang, ya 🙂

Nah, semua dokumen itu dijadikan satu bundle. Formulir COE untuk suami dan anak-anak beserta dokumen lainnya masing-masing 1 saja. Setelah diserahkan, duduk manislah di rumah.

Waktu itu saya sebagai emak yang khawatiran sampai bertanya kepada petugas. Biasanya berapa lama selesai COE keluarga? Satu bulan. Kalau lebih dari itu bagaimana? Jangan khawatir, pasti bisa. Soalnya anak saya masih menyusui. Jangan khawatir. Kalau perpanjang visa 3 bulan lagi bisa, Pak? Tidak perlu, pasti selesai.

Dan qodarullah! 2 minggu saja jadi! Segera setelah menerima COE keluarga, kami kembali ke kantor imigrasi. Oiya, pas apply COE, keluarga tidak ikut tidak apa-apa. Tapi pas change visa status, harus datang. Cukup bawa diri, si COE, passport, dan foto dari Indonesia itu! Karena kemarin suami lupa bawa hasil afdruk foto, jadilah terpaksa mengeluarkan kocek di photo booth. Kalau tidak salah setelah 1 jam selesai, kami dipanggil dan Zaryu Card suami dan anak-anak sudah jadi! Alhamdulillah. Dan period of validity di kartu alhamdulillah sama.

Sejak akhir April itu, kami sudah tenang di sini. Tidak khawatir lagi masalah visa. Alhamdulillah juga mendapat kemudahan lainnya. Mengenai social benefit, jika sudah melakukan pengajuan ke kantor kecamatan, kita akan dapat banyak manfaat baik untuk sekolah dan kesehatan anak-anak.

Well, di situlah saya bersyukur. Dari sekian banyak negara – terutama Eropa, yang ingin saya tuju sebagai tempat kuliah, ternyata ke sini mendapat banyak kemudahan bagi keluarga. Mungkin kalau saya keukeuh ke Eropa, lain ceritanya. Allah Maha Tahu yang terbaik bagi kami.

2017-06-07_13.35.51

Semoga teman-teman yang lain juga tetap semangat sekolah dengan tetap menjaga keluarga. Jadi ingat kata Institut Ibu Profesional. Membangun peradaban dari dalam rumah. Ganbarimashou!

Sendai, 11 Ramadhan, 7 Juni – di sela-sela tugas kuliah.

Comments (2)

Aliran Rasa NHW#3

 

“Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga “amanah” yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta untuk kita.”

Yup! Sangat setuju dengan kutipan Review NHW#3 lalu. Kita telah membuat keputusan, maka jalankanlah keputusan itu, yang merupakan amanah dari Allah sesuai dengan komitmen yang kita buat di awal. Kalau dalam review ini komitmen itu lebih digarisbawahi sebagai “Visi Hidup”. Dan jika di tengah jalan ada aral melintang, hadapilah, berpengantanganlah erat-erat karena perahu keluarga yang sudah dibuat ini, yang sedang dijalankan ini, adalah amanah bersama.

Jika dalam review disebutkan inilah visi hidup kita semua dalam membangun peradaban melalui keluarga, maka sama halnya dengan motto di kampus saat ini: “Think globally, act locally!” Berpikirlah untuk yang lebih besar, peradaban itu, dimulai dari yang kecil yaitu keluarga.

Dengan kunci bersungguh-sunggu dalam menjalankan komitmen sekeluarga ini, maka seharusnya insya Allah, jika ada masalahpun akan dikembalikan pada landasan komitmen itu. Semoga kami sekeluarga bisa selalu bersyukur dan lebih baik setiap harinya ke depan ke depan dan ke depan. Untuk sebuah peradaban yang lebih baik, dari rumah. Ganbarimashou!

Leave a Comment

NHW#3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Saya ingat perkataan ayah saya bahwa ketika usia pernikahan semakin tua, saat itu mungkin bentuk rasa cinta terhadap pasangan adalah dalam bentuk komitmen yang semakin kuat. Jika tidak salah mengartikan, maksudnya dengan semakin lama usia pernikahan, maka kita akan semakin mengenal pasangan kita atau mungkin malah tidak karena bisa melihat atau tidak dari kelebihan dan kekurangannya. Juga semakin banyak masalah yang dihadapi bersama sehingga membuat kita lebih kuat atau mungkin malah tidak. Di sanalah komitmen dibutuhkan. Dan beliau bilang, hanya dengan berlandaskan agama jika kalian berdua saling mencintai karena Allah, maka masalah apapun jika mentok akan dikembalikan kepada landasan dasar.

Dalam tugas kali ini, peserta IIP diminta untuk jatuh cinta kembali kepada suami dengan cara membuat surat cinta yang menjadikan pasangan memiliki alasan kuat bahwa pasangan kita (suami) layak menjadi ayah bagi anak-anak. Tugas yang berat, karena kami tidak pernah romantic-romantisan. Saya ingat surat pertama yang saya terima dari suami pun adalah setelah akad nikah dan itu pun saya yang minta. Ingin mencoba mendapat surat cinta dari suami. Tapi hingga 6,5 tahun pernikahan kami, rasanya kami tidak pernah membuat surat cinta ahahaha. Apalagi saya gengsi juga kalau harus nulis duluan. Tapi tugas ini membuat saya harus menuliskan rasa syukur saya atas pilihan Allah yang disandingkan dengan saya. Yang tentunya selama perjalanan pernikahan kami, banyak pasir, kerikil, dan batu yang berdatangan. Bersama-sama mendaki gunung lewati lembah setiap harinya. Hingga kami hijrah ke sini bersama-sama. Hari ini.

Karena kami, sekali lagi, bukan pasangan yang romantic-romantisan, tentunya respin pertama suami ketika harus membuat tugas ini adalah bertanya bingung, “Untuk apa sih, bu?”. Mungkin karena setiap habis “diskusi” akan suatu masalah, maka kami akan membahas kekurangan kami dan saling meminta maaf dan berterima kasih. Tapi perbedaanya, kami tidak mendokumentasikan moment itu. Kali ini, saya akan coba mendokumentasikan beberapa tanpa bermaksud riya.

Bismillah …

Untuk suamiku, terima kasih, sudah bersedia menemaniku hingga di titik ini. Di mana dengan latar belakang keluarga kita yang berbeda, kita selalu berkomitmen untuk bisa membangun keluarga kecil kita dengan ilmu yang baru tanpa mempermasalahkan tradisi-tradisi dahulu yang tidak logis bagi kita, bagiku terutama.

Ketika aku harus memutuskan kembali ke rumah setelah melahirkan Rafa, engkau mensupport-ku untuk bertahan dengan hiruk-pikuk isi kepala yang ingin tumpah karena baru lulus kuliah dan ingin berkarir seperti rekan-rekan alumni lainnya. Dengan sabar engkau mendengarkan keluh kesahku dan dengan sabar engkau membantuku setiap harinya dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya (hingga saat ini, hehe). Bagiku, kerja keras bahu membahu di rumah ini adalah suatu penghargaan yang sangat besar bagiku, karena kita membangun semuanya dari nol bersama berdua tanpa bantuan siapa pun. Dan hal ini membuat aku sadar bahwa di rumah itu, sangaaat (lebih) bermanfaat bagi kita, terutama bagi anak-anak.

Tapi engkau juga mendukungku ketika sudah hampir 3 tahun di rumah untuk kembali ke dunia kerja. Kali itu, ketika prajabatan selama 1 bulan, engkau dengan masya Allah memberikan dukungan dengan membawa Rafa ke kantor. Dan aku tahu ini berat sekali. Mungkin jika seorang ibu membawa anaknya ke kantor karena saat itu daycare libur, tidak menjadi masalah, biasanya dimengerti. Tapi saat itu, ketika engkau tidak bisa menjemput Rafa di daycare, maka engkau membawanya ke kantor agar tidak terburu-buru dalam meeting. Dan hal itu terus dilakukan bahkan hingga aku sudah bekerja 3 tahun. Dan engkau seringkali menjadikan jalan-jalan ke kantor itu sebagai hadiah kepada Rafa yang senang sekali bisa ikut orang tuanya ke kantor daripada di daycare.

Dengan komitmen kita untuk selalu mengutamakan keluarga (terutama anak-anak), aku sangat berterima kasih atas semua dukunganmu. Engkau bersedia turun tangan mulai dari masalah dapur hingga mengganti popok. Mulai dari menceboki anak hingga tentunya mengajak bermain dan membaca buku. Mulai dari quality time di rumah hingga bertualang berdua saja keluar rumah. Aku yakin Rafa senang bisa selalu dekat denganmu. Sesuai komitmen dual parenting kita.

Kini, ketika aku harus melanjutkan studi pun, engkau mendukungku dengan bersama-sama pindah ke sini. Dan Allah Maha Besar, sesuai apa yang selalu engkau ingatkan padaku tentang rezeki yang tidak bisa diperhitungkan darimana datangnya, juga datang kepada keluarga kita. Padahal buatku, sesuatu yang tidak terukur dan terbukti secara sains itu agak sulit diterima. Tapi dalam pernikahan kita, engkau selalu mengingatkan bahwa Allah tidak akan membuat miskin makhluknya, tapi makhluknya sendiri yang akan membuat dirinya begitu. Dengan bersyukur.

Dan melalui bersyukur ini juga, aku ingin berterima kasih kepada anak-anakku yang walaupun masih kecil bersedia memahami ibu untuk (saat ini) pergi pagi dan pulang malam. Rasanya dua bulan ini menjadi ibu yang kurang baik. Jika ke kantor (maaf) masih bisa membagi waktu dengan baik dengan anak-anak hingga kadang sering datang terlambat karena ingin menyuapi sarapan anak-anak terlebih dahulu di daycare, sekarang tidak bisa.

Kakak Rafa, bagi ibu, kakak adalah anugrah terindah dalam hidup ibu, seperti nama depanmu. Masya Allah karena hampir 5 tahun kita hanya selalu bertiga di rumah, engkau menjadi anak yang memiliki empati yang besar dan siap membantu ibu dan yanda selama ini. Luar biasa potensimu yang selalu menanyakan buku, buku, dan buku di kapan pun dan di mana pun. Dan maafkan ibu tadi pagi yang terburu-buru dengan kesal berkata untuk mulai belajar baca sendiri agar tidak dibacakan terus. Padahal minatmu terhadap ilmu sangat tinggi. Sekarang masih waktumu untuk bermain. Seharusnya ibu selalu menfasilitasimu.

Terlebih ketika adikmu lahir, Alhamdulillah dengan komunikasi dan diskusi kita sebelum-sebelumnya, engkau telah menjadi kakak yang baik sekali. Siap membantu ibu dan yanda, juga tentunya rajin membacakan buku untuk adik. Maafkan ibu jika saat ini dan (tentunya) selama beberapa tahun ke belakang tidak bisa selalu menjadi ibu terbaik. Insya Allah ibu akan terus belajar dan memperbaiki diri untuk selalu menjadi ibu terbaikmu, nak 🙂

 

Masya Allah, Allah sangat luar biasa menghadirkan saya dan memberikan saya keluarga ini. Suami saya dan kedua anak saya yang banyak membuat saya bersyukur, berevaluasi, dan terus berikhtiar agar selalu menjadi istri dan ibu yang lebih baik. Juga untuk saya, ibu saya adalah orang yang paling berjasa bagi keluarga kecil kami ini. Luar biasa scenario Allah.

Tentang potensi saya sendiri, rasanya masih harus saya gali. Malah dalam titik ini ketika saya harus lebih focus dengan bidang ilmu saya, saya semakin merasa kecil dan tidak tahu apa-apa selain ilmu saya ini. Membuat saya tidak focus dan ingin belajar hal lain lebih banyak lagi. Saya rasa keinginan saya untuk terus belajar dan memperkaya isi kepala (dan insya Allah kalbu) adalah salah satu hal yang harus saya kembangkan terus. Dan tentunya dengan manajeman waktu dan prioritas yang harus terus disempurnakan.

Maka nikmat Allah manakah yang bisa engkau dustakan jika masya Allah semuanya memiliki hikmah dan arti yang luar biasa. Untuk diri ini, keluarga, dan insya Allah (masyarakat) umat. Semoga kami sekelurga bisa selalu mendukung dan menghasilkan peran yang terbaik. Dimulai dari kami berempat di rumah. Ganbarimashou!

Sendai, 12 Ramadhan, 7 June 2017 – tugas yang terlambat.

Leave a Comment

Aliran Rasa NHW#2

Aliran Rasa NHW#2

Mengerjakan NHW 2 dalam keterburu-buruan dan otak yang kurang sinkron dengan tugas-tugas kuliah membuat saya merasa malu dengan review NHW#2 kali ini. Saya merasa terlalu banyak tugas yang belum terselesaikan dan sudah mengerjakan yang lain lagi. Sehingga membuat checklist alias evaluasi terhadap diri sendiri saja rasanya sulit. Padahal menjelang Ramdhan dan selama Ramadhan ini membuat checklist bersama-sama di rumah untuk anak-anak dan kegiatan ibadah.

Dari checklist yang sebenarnya bukan checklist tapi hanya diskusi singkat hanya karena mengerjakan tugas NHW#2, ternyata banyak hal yang tidak detil. Padahal saya orangnya detil. Tapi ketika harus mengerjakan ini di sela-sela kedetilan lainnya, saya merasa tidak memberikan komitmen saya sepenuhnya terhadap kegiatan ini. Sampai saya piker kalau saya lebih baik remedial karena sudah terlalu banyak amanah saat ini.

Kembali ke checklist:

  1. Kalimat yang saya buat tidak semuanya spesifik.
  2. Juga tidak terukur kuantitasnya. (Huhu, padahal saya mengukur kuantitas dalam riset saya di lab sampai detail, tapi tidak dengan tugas ini L )
  3. Mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Mungkin iya … seperti halnya membaca buku dan bermain. Seharusnya bisa dilaksanakan lebih lama di sela-sela kegiatan di rumah dari jam 8 malam hingga 7 pagi. Ternyata melanjutkan kuliah lebih berat dari bekerja di rumah!
  4. Kemudian … tentang tantangan yang dihadapi sehari-hari, rasanya sudah merupakan tantangan sehari-hari.
  5. Dan terakhir … batas waktu! Seharusnya semua apa yang diharapkan oleh anak-anak dan suami diberi batas waktu agar terukur keberhasilannya. Evaluasinya perpekan misalnya.

Karena sudah membaca review NHW#2, saya jadi ingin mengulang menulis ceklisan. Supaya bukan hanya saya yang bisa memberi semangat kepada ceklisan anak-anak, tapi juga mereka bisa mengevaluasi saya sebagai ibu. Walau seperti siang ini ketika saya harus ke lab, harapan dari anak-anak adalah saya diam di rumah. Rasanya berat.

Leave a Comment

Older Posts »