(Prioritas) Dinas ke Luar

Mulai bulan September sampai Desember nanti, akan terjadi silih berganti orang-orang yang pergi keluar negeri. Saya mencoba untuk mematikan semua media sosial terlebih dahulu dan memohon kepada Allah untuk terus diberikan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalankan hidup saya di kantor. (Opo iki). Terdengar lebay, tapi sesungguhkan ini memang cukup berat. Tsaaah ~

Kesempatan itu memang datang terus menerus di kantor saya ini. Ke Jepang, Jerman, dan Taiwan. Ketiganya ditawarkan selama 2,5 tahun ini. Tapi kesempatan itu belum menjadi rezeki saya. Rezekinya ada yang lain atau disimpan buat nanti. Mungkin Allah ingin saya berangkat bersama keluarga, bukan sendiri 🙂 Ayo, bilang AAMIIN!

Berhubung tugas dinas itu kalau bukan 2 minggu (tidak termasuk PP) dan 2 bulan, maka untuk ibu yang diamanahi dua orang anak ini, dengan salah satunya masih berumur 3 bulan, bukanlah suatu perkara mudah dalam memutuskan. Terlebih lagi, kami berempat hidup benar-benar berempat tanpa bantuan asisten rumah tangga dan keluarga (besar). Jadi prioritas pertama kami selalu kembali kepada kedua anak unyu kami.

Rekan-rekan di kantor selalu sangat menyayangkan pilihan saya ini. Soalnya saya yang suka ngajuin proposalnya dan katanya mba San yang paling rajin. Howek-howek. Agak gimana gitu nulisin ini sendiri, ahahaha. Tapi da kumaha. Ada yang lebih prioritas (saat ini) daripada training-training itu. Sampai akhirnya saya mulai agak kesal karena hampir semua orang nggak ngerti dengan pilihan saya hingga si saya marah dikit.

“Coba kalian teh mikir ada di posisi saya. Anak masih 3 bulan, masih butuh ASI dari ibunya. Stok ASIP? Banyak. Udah 3 tray. Pake susu formula kalau nggak cukup? (tidak usah dibahas). Terus siapa yang jaga anak-anak? Orang tua semua masih pada bekerja. (Ada yang nyaut, “Masa udah 2 kali batal berangkat terus, Mba?”). Coba kamu, *** (menyebut nama salah seorang teman), kamu mau nggak ngurus anak kamu sendirian bangun malem, pagi anter ke daycare, etc etc? (Dia jawab, “Nggak mungkin lha, Mba. Saya kerja. Susah bangun malem.”) See? Coba kamu ada di posisi suami saya ngurus 1 anak dan 1 bayi.”

Beralih ke anggota tim yang cewek-cewek. “Siapa sih yang nggak mau ke Jerman? Saya sampai ambil A1 tahun lalu demi ke sana dan juga karena mau apply sekolah (walau belum dapet juga). Saya teh di sini mencoba ikhlas dan sabar. Tapi kalau terus-terusan kalian seperti ini, berat juga kepikiran terus. Cik atuh bantu saya. Saya doain ajalah kalian. Supaya suatu saat berada di posisi saya. Di kondisi saya. Merasakan jadi ibu.” (Agak ngamuk ceritanya, ehehe).

Kenapa jadi curcol.

.

.

.

Suami dan saya alhamdulillah saling dukung pisan. Dan beliau juga nggak ngelarang saya berangkat. Tapi kita sama-sama harus cari jalan keluarnya. Buat kami, saling mendukung untuk kemajuan satu sama lain itu penting. Dan skala prioritas bagi kami juga penting. Kalau tidak, mana mungkin suami dukung saya suka dinas beberapa hari hingga seminggu abroad dan menjadi family man yang kece yang bisa ngurus anak sendiri tanpa ada saya atau pun orang lain yang bantu.

Tapi untuk kesempatan yang menurut kami agak lama (bagi si bayi) ini, insya Allah belum saatnya. Insya Allah nanti kami akan abroad bersama untuk 4 tahun. AAMIIN! Dasvidanya! Auf widersehen! Au revoir!

.

Semoga jadi ladang ibadah membuka kesempatan buat orang lain. Itu. Kata suami saya, sih. Saya mah lemot ambil hikmah. 😀

.

Lalu ada tambahan. Awas jangan sampai riya! Ahaha. Yuk, mari, rezeki mah nggak akan ke mana, katanya. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: