Sekolah (lagi)

Kamu seorang ibu dengan dua anak atau lebih? Masih ingin melanjutkan sekolah? Kamu pasti bisa!

Bagaimana caranya?

Karena sudah mengemban amanah dan status baru sebagai istri dan ibu, kali ini ketika memutuskan untuk sekolah kembali, tentu membutuhkan pertimbangan yang jauh lebih banyak. Semua harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Atau mungkin dari jauh-jauh tahun. Atau bahkan sebelum menikah ๐Ÿ™‚

Hal pertama yang harus kamu penuhi adalah ridho dari suami! Ini paling penting. Karena dengan ridho darinya, yang dulu ridho dari orang tua, terutama ibu; maka perjalanan mau sekolah lagi ini insya Allah dipermudah banget sama Allah. And it happened!

Saya akan coba memberi beberapa sharing dari dari saya (mohon diingat bahwa hal ini dalam kondisi saya, tidak bisa digeneralisasi untuk semua wanita, istri, dan ibu. Karena semua orang punya kondisi masing-masing) ๐Ÿ™‚

  1. Niat yang benar. Ini susah-susah gampang tapi kalau niatnya benar, insya Allah akan dimudahkan. Dan tentunya kudu istiqomah. Jangan salah, proses mau sekolah sampai dapat sekolah ini panjang, lhooo!
  2. Tadi itu yang utama, sebagai istri tentunya ridho dari sang suami tercinta.
  3. Susun rencana yang matang dengan berbagai rencana A, B, C. Jadi si sayah enggak akan begitu kecewa kalau plan A tidak tercapai
  4. Cari tempat yang sesuai. Kok tempat? Soalnya misalnya dalam jalan saya, saya pernah keukeuh ingin ke Eropa. Kalau tidak ke Jerman, harus bisa ke Inggris. Jadilah saya ngubek universitas di sana saja. Tapi terus selain negara dan universitas, karena saya bukan hanya akan hidup sendiri, saya harus memikirkan suami dan anak-anak. Tentang peran mereka dan akan bagaimana di negara tujuan. Karena saya ingin semua keluarga maju bersama, maka saya, kami, juga mencari universitas untuk suami. Kalau bisa kami dalam satu universitas. Nggak kebayang kalau harus LDM lagi.
  5. Biaya. Ada beberapa dan banyak negara yang mensyaratkan kita harus memiliki deposit mengendap selama sekian lama di buku tabungan kita. Untuk kasus ini, saya benar-benar mencari tahu berapa biaya yang harus dibawa untuk berangkat bersama keluarga. Tambahan 1 kepala dewasa dan 2 kepala anak-anak. Ternyata hampir beberapa negara menyebutkan angka yang tidak kecil. Sangat besar! Bahkan harga rumah saya saja lewat. Setiap hari di kantor saya browsing dengan kata kunci, “Membawa keluarga ke ….,” dengan entah sudah berapa negara saya catat di orgi saya. Mulai dari biaya dan juga kapan boleh bawa keluarga, proses imigrasinya, dan lain sebagainya. Alasannya hanya 1. Jika saya mau sekolah ke luar, maka keluarga juga harus sama-sama berangkat. Untuk kondisi saya.
  6. Bahasa. Karena saya keukeuh ke Jerman, si saya ya merelakan tabungan untuk kursus bahasa Jerman. Walau nggak jadi. Dan ya tidak masalah. Jangan lupa tes bahasa inggris. Siapkan waktu dan biaya. Ini penting karena saya weekday ke kantor, begitu pula suami. Jadi weekend kami bagi-bagi waktu. Qodarullah di sini malah kami baru kursus di sini, hihi.
  7. Social benefit. Karena membawa anak-anak, maka carilah negara yang udah kece masalah kesehatan dan sekolahnya. Pelajari sistem asuransinya, sistem sekolahnya, sistem pembiayaannya. Bisa tanya-tanya dari teman yang sudah ada di sana.
  8. Apalagi ya … akan saya update seiring waktu ๐Ÿ™‚

Untuk pembiayaan di luar deposito dan biaya lainnya, mari kita berusaha keras memperoleh beasiswa. Bisa beasiswa dari professor, tempat yang dituju atau dari negara sendiri. Pastikan kamu membaca semuanya dengan baik dan menyiapkan semuanya dengan baik.

Karena status saya, saya saat itu hanya mengejar beasiswa DAAD dan LPDP. Kenapa? Karena ada Family Allowance-nya, hehe. Setelah bertahun-tahun browsing, rasanya hanya dua beasiswa ini yang lengkap. Untuk membawa keluarga. Walau pada praktiknya beasiswa apapun juga bisa dibantu dengan kita melakukan part time, baik di kampus maupun di luar kampus. Dan kembali ke gaya hidup. Insya Allah orang Indonesia mah bisa bertahan hidup lebih baik.

2017-06-07_14.48.28

Oiya, saat wawancara beasiswa, jujurlah!

Saat wawancara, saya sedang hamil 4 bulan. Saat memasukan aplikasi, saya belum tahu kalau saya hamil. Ini seru sekali saat wawancara, alih-alih membahas research plan, kondisi keluarga menjadi fokus wawancara. Terutama untuk suami dan anak-anak. Mereka banyak menekankan pada kondisi di Indonesia yang dimanjakan dengan pembantu dengan di luar yang harus apa-apa sendiri. Alhamdulillah karena sampai saat ini belum pernah ada pembantu, saya bisa meyakinkan juri pewawancara. Bahwa selama ini juga kami hanya ber-3 (sebelum adik lahir). Sama halnya di sini mengandalkan daycare. Pastikan juga bahwa kita tidak ada keraguan di dalamnya. Bahwa semua ini sudah diridhoi oleh suami. Sampai-sampai karena hampir semua pertanyaan menyudutkan saya, saya menjawab bahwa pertanyaan bapak/ibu juri itu adalah pertanyaan saya pada suami; dan inilah jawaban dari suami saya. Masya Allah.

Baiklah, itu dulu sharing dari saya. Semangat terus untuk belajar! ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: