NHW#6: Menjadi Manager Handal

RUTINITAS. Sebuah kata yang menujukan “serasa” sibuk banget padahal monoton. Mungkin. Seperti halnya ketika dulu harus bekerja dari jam 8 pagi hingga 4 sore. Tapi saat itu masih cukup banyak waktu dari jam 4 sampai 10 malam, sejak menjemput anak-anak di daycare kantor sampai mereka tertidur. Pagi dan malam masih sempat menyuapi mereka. Tapi rasanya sekarang yang menurut saya dalam tiga bulan ini belum monoton karena masih dalam tahap eksplorasi di laboratorium, lebih kekurangan waktu dibandingkan saat di Indonesia. Ketika saya berangkat, anak-anak sering belum bangun, dan ketika pulang, ujug-ujug sudah jam 8. Artinya saya hanya punya waktu 2-3 jam saja bersama mereka. Lalu saya harus bagaimana? Apakah berhenti? Sementara kami berempat hidup di sini dari beasiswa ini.

Baiklah, berdasarkan NHW#6 kali ini, “Menjadi Manajer Handal” – tentunya bersama suami yang selalu support, saya akan coba menuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting.

Karena anak-anak masih waiting list masuk daycare dan suami masih belum rutin ke laboratorium, maka walau saya banyak kekurangan waktu, tentunya nomor 1 adalah rumah. Anak-anak. Keluarga. Rumah. Tapi sejak pindah ke sini, dengan jam kerja yang panjang dan tidak tentu ini, saya merasa kewalahan sekali. Terutama untuk catch up pelajaran kakak di Indonesia dan di sini. Saya tidak ingin dia melupakan pelajaran di Indonesia, sehingga kadang saya malah lebih kepikiran stimulus apa lagi yang bisa saya titipkan pada suami atau ketika giliran saya di rumah, agar dia tetap ter-drill setiap harinya. Dan … waktu bermain dengannya!

Nomor 2. Dan mungkin bias apakah ini nomor 1 atau nomor 2. Riset PhD saya. Karena saat ini kami sedang tugas belajar di luar, maka kewajiban utama kami di sini adalah belajar dan riset. Terkadang sulit sekali membagi waktu saat ini. Di kala harus di rumah, di kampus, belanja, ke dokter, dan hal lainnya. Memang di Indonesia pun kami melakukan semuanya berempat saja. Tapi entahlah, mungkin karena waktu yang cenderung lebih “full” di sini, rasanya semua terasa kurang waktu. Dan itu membuat saya labil karena harusnya saya sibuk dengan anak-anak bukan dengan peliharaan saya di lab.

Nomor 3. Pekerjaan rumah tangga. Bagaimanapun, saya istri dan ibu. Walau kami saling membagi tugas berdua, rasanya saya masih keteteran di sini. Sementara ibu-ibu yang lain sempat membuatkan bento untuk anak-anaknya, saya boro-boro. Bekal ya biasa saja.

Kadang saya merasa mendzalimi anak-anak. Tapi suami dan keluarga saya selalu mengingatkan bahwa “Saya sudah berjalan sejauh ini, bukan untuk kalah.” Jadi bismillah semoga bisa mengerjakan semuanya dengan baik.

3a4347025b38367ffbcf73c77b79fd70--ivf-failure-victory

Dan tentunya dengan mengeliminasi aktivitas yang tidak penting, seperti … SATU: ngecek hape ketika di rumah. Ini benar-benar mulai saya disiplinkan bahwa begitu masuk ke apato, saya harus menyembunyikan hape di tas. Jangan sampai waktu saya yang sama anak-anak udah mah ngan saeutik, lalu dicuri juga sama si hape.

DUA: Nonton. Si sayah the jarang banget nonton. Tapi belakangan saya suka nonton sambil nyusuin si adik. Dulu sambil nyusuin bisa sambil bacain buku si kakak. Tapi sekarang kok tidak lagi ya? Bertanya pada diri sendiri. Padahal di rumah the waktu buat mereka aja. Tapi saya multitaskingnya malah untuk diri sendiri. Padahal udah full me time untuk diri sendiri di lab. Perlu dievaluasi jenis multitasking saat menyusui ini.

TIGA. Apa ya … mungkin segala hal yang di mana saya kadang masih sibuk sendiri di rumah tanpa melibatkan anak-anak. Jangan lagi. Harus kembali seperti di Indonesia saat banyak mendelegasikan dan bekerja sama dengan anak-anak. Apa mungkin karena waktu di rumah lebih sedikit tapi malah pengen menyelesaikan semua sendiri, tapi justru ketika ada waktu panjang di Indonesia dulu, bisa waras bekerja sama dengan si kakak yang “babantu” dalam banyak hal. Hm, ini harus dievaluasi juga. Melibatkan anak-anak, kelak akan sangat membantu dalam banyak hal.

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

Sejak April lalu … jawabannya adalah di kampus. Dulu masih dengan bangga bisa menjawab kegiatan di rumah. Sekarang jujur, tidak di rumah lagi. Dan saya, kami, tetap harus bisa menfasilitasi anak-anak kami agar terus maju dan berkembang. Ganbatte!

Ah, satu lagi. Cut off time! Kadang sulit sekali ya kalau sudah asyik dengan suatu kegiatan lalu menanti-nantikan pekerjaan lainnya. Noted to my self bahwa harus ada cut off time ini. Semoga dengan demikian, semua ter-manage dengan lebih baik lagi. Bismillah!

Sendai, Juli 7, 2017 – saat sedang waras di sela-sela studi literatur

Advertisements

1 Comment »

  1. Benggol said

    Keep fighting

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: