Rasa [3]
Menangis mengandung banyak makna. Hingga kadang tidak semua orang dapat memahami penyebab orang menangis. Terutama ketika seorang lelaki menatap seorang wanita. Mereka tidak pernah mengerti mengapa air mata itu tidak hanya sekali dua kali atau bahkan lebih dari tiga kali bisa keluar begitu saja dari ujung mata seorang wanita. Salah satu sahabat saya pernah memberikan sebuah tulisan mengenai air mata seorang ibu. Bahwa Allah menciptakan banyak jenis air mata pada seorang wanita dengan banyak tujuan dan maksud. Hingga tidak terhingga apabila disebutkan satu-satu.
Atau mungkin hanya sekadar untuk membasuh hati
Saya masih belajar mendefinisikan banyak arti dari menangis itu. Masih belajar untuk mengeksplor semua hal dari yang kecil hingga yang besar yang mampu menstimulus air mata ini. Subhanallah. Betapa kaya Allah yang menganugrahkan perasaan ini. [ ]
Bakti dan Bakti
Aku merasa berdosa. Entah apa ini bisa disebut berdosa atau tidak. Tapi yang pasti, ketika bencana gempa bumi di Sumatera Barat itu terjadi, aku langsung menghubungi sahabatku yang ada di Riau, Sum. Selatan, dan Lampung. Memastikan semua baik-baik saja. Dan satu hal yang membuat aku merasa bersalah karena aku lupa bahwa pada minggu terjadinya gempa itu, ibuku juga ada di tempat sahabat-sahabatku! Alhamdulillah beliau tidak apa-apa.

Beranjak dari hal tersebut, tiba-tiba ada suatu hal yang menggelitik hatiku. Mengenai perihal berbakti. Mau tidak mau, hari itu akan datang juga. Ketika aku, sebagai anak gadis, akan menikah dengan seseorang. Diserahkan oleh kedua orang tuaku pada seseorang yang selama 23 tahun terakhir ini mungkin tidak pernah ada dalam kehidupan kami. Bukan hanya diserahkan dalam artian biasa, tapi semua. – aku agak bingung mendefinisikan hal ini. Tapi yang pasti, hal ini membuat aku memikirkan banyak hal. Terutama ibu.
Analisisku seperti ini: seorang lelaki, ketika menikah selain bertanggung jawab terhadap istri, namun bakti yang utama adalah pada ibu. Berbeda halnya dengan seorang gadis, ketika menikah dia hanya berbakti pada suami. Karena suatu perjanjian yang suci se-Ar Rasy, semua hal yang berkenaan dengan sang gadis diserahkan sepenuhnya dari pihak orang tua pada suami. Aku berpikir hingga menitikkan air mata, apakah ini artinya sebagai seorang istri, hubungan berbakti pada ibu terputus? Justru dengan berbakti pada suami, orang tua telah berhasil mendidik anaknya. Tapi aku tetap merasa … entahlah.
Teringat dengan salah satu materi liqo dulu tentang bakti seorang istri pada suami lebih utama ketimbang bakti pada orang tua. Hingga ada kisahnya ketika seorang istri ditinggal suami dan diamanahi untuk tinggal di rumah, pada saat yang bersamaan orang tua istri meninggal dunia. Namun karena perihal di atas, istri tidak datang ke tempat orang tuanya. Aku tertegun.
Sekali lagi aku berpikir. Apa ini artinya orang tua yang mempunyai anak gadis mempersiapkan sang anak untuk diserahkan pada orang lain? Rasanya aneh. Orang tua yang dengan subhanallahnya me-… banyak hal untuk anaknya, kemudian terputus hubungannya setelah menikah karena telah resmi menyerahkan semuanya pada orang lain yang menjadi suami anak itu. Apa sang istri masih bisa berbakti pada orang tuanya? Di lain pihak, berbeda posisinya dengan anak lelaki. Hmfh.
Could anybody please make my heart fill with answers?
Aku bertanya dan meminta pada diri sendiri dan dirinya. Untuk tetap terus bisa berbakti pada kedua orang tuaku sendiri. Membagi waktu dengan adil untuk bisa berbakti pada suamiku nanti dan tentunya kedua orang tuaku. Jujur, aku masih ingin sekali bisa membaktikan diriku pada kedua orang tua ku. Hingga kapan pun walau aku sudah memiliki suami, anak, dan keluarga baru. Aku masih ingin bisa berbakti pada mereka. Pada Ibu.
Good Luck!
Ada 2 orang sahabat yang pernah sama-sama bercita-cita bersama denganku untuk hal yang berhubungan dengan kata sakti ini: Good Luck! Ketika kami sama-sama memiliki mimpi yang sama untuk sekolah ke jepang.
Salah seorang dari mereka, alhamdulillah, mampu merampungkan cita-citanya melalui salah satu beasiswa bergengsi ke Osaka. Dulu kami sama-sama memasukan berbagai aplikasi beasiswa ke Jepang sejak kami berdua sama-sama lulus di waktu yang sama. Lebih dari 5 beasiswa saat itu yang kami ikuti. Dan alhamdulillah sahabatku itu memperolehnya. Sedang aku ada jalan lain yang diberikan oleh Allah.
Baru saja aku meneleponnya. Dia sudah di bandara. Bercerita tentang rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya langsung abroad. Ke Jepang. Jadi ingat masa-masa belajar bahasa Jepang dan nonton dorama. Rasa subhanallah ketika kami dulu sama-sama merajut mimpi bersama untuk sama-sama bisa sekolah ke Jepang. Dan rasanya pun kali ini tetap subhanallah walaupun saat ini Allah baru mengizinkanku hanya untuk mengucapkan selamat pada sahabatku itu untuk ke Jepang. Rasanya subhanallah.
Dan untuk kesekian kalinya kami kembali membahas film Good Luck! di telepon. Dan dengan suara penuh haru darinya dan diriku yang sangat mudah terharu ini (baca: terbawa emosi untuk menitikan air mata) kami saling mengucapkan: Good Luck!
Kembali, aku berdoa agar pada suatu hari nanti, rezeki itu ada bersamaku. Ada bersama orang dan orang-orang yang aku sayangi. Untuk dapat merasakan perasaan dan pengalaman yang subhanallah itu. Sekolah di luar negeri. []
sumari bpn-bdg-bpn
tulisan ini agak tidak penting. namun sebenarnya isinya sangat penting. hanya saja penulis sedang tidak ingin menulis. sehingga informasi penting yang terjadi selama di bandung belum bisa tersalurkan dengan baik. padahal sungguh banyak hal yang subhanallah yang memperkaya hati selama di bandung ini. my hometown. ah bandung. – tulisan ini akan dilanjutkan di lain waktu.
Bilih Teu Pendak Deui
Aku dan back to back-ku mempunyai sebuah buku komunikasi – bukom kalau dulu sahabat SMA-ku menyebutnya. Sejak sekembalinya aku dari Bandung karena sakit kemaren, aku membuaut turus atau count down mingguan aku bekerja di lapangan. Sejak 5 minggu sebelum “rencana” kepulangan kembali ke Bandung, 4 minggu, 3, 2, hingga kini tinggal 1 term lagi di minggu depan untuk demobilisasi.
Bukan tidak ingin melanjutkan kerja di tempat ini, tapi rasanya aku sudah tidak betah di lapangan ini dengan kondisi yang kurang nyaman. Rencana berakhirnya kontrak adalah tgl. 15 Sep ini. Dan – bukannya jahat – aku berharap tidak ada extension atau bridging lagi. Dan kalau pun ada aku berharap setelah Oktober nanti. Sungguh tenaga lahir-batin-ku habis untuk memperjuangkan yang namanya mudik.
Satu kali lagi ke lapangan. Ya. Malam ini sambil mengerjakan laporan akhir dan preparasi 1 minggu ke depan yang full, Akang – begitu panggilanku padanya, mengajak makan malam. Tepatnya aku iseng mengajaknya makan ketika Daily Report tadi. Karena hari Kamis Akang akan off selama 2 minggu ke depan dan setelah akhir kontrak minggu depan, kita kemungkinan tidak tahu kapan bertemu lagi.
Setelah selesai makan malam, ketika berpisah, akang berbicara bahasa Sunda halus. Aku hanya menangkap beberapa kalimatnya, selain undangan untuk ke rumah makannya di Bandung, Akang juga bilang beberapa hal yang diakhiri dengan kalimat, “Bilih teu pendak deui.” Rasanya sedih saja tiba-tiba Akang yang selain aku anggap teman dan atasan di perusahaan ini, namun juga kakak, berbicara seperti itu. Pun aku tidak tahu bahwa ultah dia adalah 3 hari yang lalu. Rasanya tampak aku kurang memperhatikan sekelilingku ketika tenaga lahir-batin-ku aku habiskan untuk hal-hal yang berkaitan dengan Bandung. Sungguh hal yang satu ini sungguh mengurus semua pikiranku.
Di akhir tulisan ini, sama ketika aku tiba di kamar kos dan meng-sms Akang, back to back-ku, dan Mas-ku, aku berterima kasih dan berdoa yang terbaik pada Allah agar dia diberikan yang terbaik selalu dan semoga kami masih dapat dipertemukan lagi dalam suatu silaturahmi. Insya Allah. [ ]
[ditulis 8 Sep 2009 setelah makan diselingi Bridging Report]
Smell After Rain
Just like usual, I always wake up for several times form 1 am, 2 am, 3 am, then I have to take a pray before sahur half hours later. But this time, there is something that not usual, because there is a big rain outside. Company me in the middle of sleepy. Sleepy: watched Star Movie last night, while I waited for someone somewhere out there – deuh, somewhere out there, seems like I have heard that song since I was child – de javu.
Talking about rain. Then when I go to work, walking, staring, smiling, and wondering [I always wonder for no reason] – I can smell “smell-after-rain” there. Hmm. I think I have wrote it down, about rain, for age. But, I don’t know, I just like to share how nice “smell-after-rain”. Seems like it has a parfume that publish new fragrance in new season. Subhanllah.
More over, how beautiful the rain is, still – I will always love it. One day, I hope and wish and pray, I can enjoy it together. Not alone. One day. Insya Allah. [ ]
Ramen Girl
Hari ini hanya sendiri. Kemudian iseng ketika istirahat menonton Star Movie. Menemukan sebuah film unik yang berjudul Ramen Girl. Aku lupa tepatnya itu apa nama filmnya. Tapi kalau tidak salah namanya itu. Film ini membuat agak kesal karena Abby si tokoh utama tidak mau belajar berbahasa Jepang padahal dia tinggal dan kerja di sana.
Hidup Abby seperti kebanyakan gadis US lainnya. Hanya sekedar menjalani bukan mengisinya. Hingga suatu saat dia melihat sebuah kedai ramen di seberang apato-nya dan berniat untuk belajar membuat ramen. Hingga kemudian dalam waktu yang lama dia belajar membuat ramen dengan sensei-nya. Yang dengan gak bangetnya yang satu ngomong Nihongo yang satu ngomong Eigo. Kebayang gak sih?
Yang bikin subhanallah dari film ini menurutku adalah spiritnya. Seishou. Jadi dalam meramu ramen, bagaimana pun tekniknya, yang paling utama adalah emosi yang dituangkan ke dalamnya. Seperti bagaimana hidup. Hingga pada akhirnya, ketika bahasa – yang kusangka menjadi kendala – dalam film itu, tidak menjadi masalah ketika keduanya sama-sama mengerti akan spirit yang harus dituangkan dalam berbuat dan melakukan sesuatu.
Still I have a spirit?
– Teringat semangat yang kucurahkan untuk belajar bahasa Jepang dahulu dan kini tertinggal di salah satu bilik lemari dalam diriku. [ ]
Beriringan
Ada tiga orang berjalan di depanku. Sebagai satu-satunya wanita, aku agak mengambil jarak di belakang. Berjalan lebih perlahan sambil menengok ke arah jalan. Sudah gelap. Semua orang pasti langsung beraktivitas di rumah setelah menyelesaikan shalat tarawih.
Baru beberapa langkah. Salah seorang dari tiga orang itu menunggu dan menyamakan langkahku. Aku tersenyum menengok ke arahnya. Dia berkata sesuatu padaku.
“Kenapa sih selalu jalan di belakang? Kan diminta untuk mendampingi. Artinya jalan di samping, beriringan, bukan di depan, bukan pula di belakang. Ya, Bun?”
Aku mengangguk. [ ]
Sepasang-sepasang
Langkah kakiku tidak pernah berhenti. Mereka diciptakan sepasang untuk saling beriringan. Saling melengkapi satu sama lain. Begitu pula bagian tubuh lainnya yang banyak diciptakan berpasangan untuk saling bahu-membahu mengerjakan amanahnya sebagai ciptaan Sang Khalik.
Kesepuluh jariku tidak pernah berhenti menari di atas keyboard barang satu hari. Mereka diciptakan sepasang untuk saling mengisi bagian-bagian sesuai fungsinya masing-masing. Begitu pula bagian tubuh lainnya yang banyak diciptakan berpasangan untuk saling melengkapi tugas kerja mereka masing-masing yang diciptakan untuk membantu manusia untuk beribadah.
Begitu pula mataku. Ada sepasang. Alis mataku ada sepasang. Lubang hidungku ada sepasang. Bibir di mulutku ada sepasang. Pipiku ada sepasang. Dan hampir seluruhnya bagian luar tubuh manusia diciptakan simetris. Memiliki aksis sebagai tanda bagian kanan dilengkapi dengan bagian yang sama di sebelah kiri.
Mengapa ada sepasang-sepasang seperti itu? [ ]
Rasa [2]
Air mataku mengenangi separuh mataku. Kali ini bukan hanya senyum yang menghiasai wajahku. Tapi air mata itu pun ikut menghiasi. Masih berlabel rasa syukur.
Buah Hati
Siang itu ketika aku sedang akan bayar telepon di Telkom, salah seorang sahabat baikku menghubungiku. Dia meminta doa padaku untuk amanah baru yang akan diembannya. Kupikir dia akan menjadi panitia dalam suatu kegiatan lagi. Mengingat saat dia menghubungiku dia berada di Salman. Agak muncul pikiran usil bahwa dia akan mengisi salah satu kajian di Salman karena menikah di umur 21 tahun dengan posisi belum lulus sarjana kedokteran. Tapi salah. Berita yang disampaikannya jauh luar biasa. Alhamdulillah. Dia hamil.
Senyumku mengembang. Mengucap rasa syukur turut berbahagia atas amanah yang Allah titipkan padanya. Ada sesuatu yang menggelitikku. Hamil di usia 22 tahun. Untuk yang satu ini dia sudah bertambah satu tahun. Hehehe. Rasanya subhanallah. Dengan keadaan masih terpisah dengan suami karena masing-masing harus menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Dengan keadaan masih sekolah. Dan dengan keadaan lainnya. Kupikir itu tidak menjadi sebuah halangan.
Apalagi amanah yang akan dititipkan berupa buah hati hasil cinta kasih diantara keduanya. Rasanya aku pun ingin menyegerakan ibadah yang menggenapkan separuh agamaku itu dan berdoa agar dapat memperoleh amanah yang sama. Untuk menjadi seorang ibu. Seorang bunda. A real Bunda. [ ]
Pulang dan Kembali
Kangen. Baru kali ini aku merasa kangen. Adzan berkumandang dan aku buka shaum di kosan Senipah sendirian. Hanya ditemani teh manis hangat dan biskuit Good Time; dan SMS bersama Mum dan Yanda. Bersama Mum. Inilah hal yang membuat aku kangen. Rasanya dari dulu aku belum pernah merasakan kangen seperti ini. Entahlah.
Tetapi ketika selesai berdoa dan meneguk teh hangat, seraya mengucapkan hamdallah, aku merasa sendiri. Kemudian kembali meng-SMS Mum tentang perasaan aneh itu. Perasaan kesendirian yang harus aku jalani dengan kesabaran, begitu kata Mum – panggilan sayangku pada Ibu.
Setelah 23 tahun, akhirnya akan merasakan apa yang namanya mudik. Mungkin aura mudik dimulai dengan shaum sendiri seperti ini atau shaum jauh dari orang-orang yang dirindukan. Ketika rasa kangen terakumulasi setiap harinya hingga waktu pulang dan kembali itu tiba. Mungkin itu yang dimaksud dengan mudik.
Dulu setiap bulan Ramadhan, setiap orang menulis tentang budaya mudik. Saat pulang dan kembali. Hanya aku yang tidak pernah menulis rubrik Jalan Terang di Salman tentang mudik. Karena seumur hidup aku tidak tahu bagaimana rasanya mudik.
Mum bilang. “Pada akhirnya kesampaian juga, kan? Katanya ini merasakan mudik?” Waktu itu yang ada di pikiranku, aku akan mulai merasakan mudik ketika punya suami non-bandung. Tapi ternyata aku mudik pertama kali ketika bekerja.
Walau keputusan untuk mudik belum jelas. Terutama untuk biaya mudik. Tapi harapan itu tetap ada. Bahwa tahun ini aku akan mudik. Semoga Allah membukakan jalan yang terbaik untuk momentum pulang dan kembaliku ini. Bismillah. [ ]
Rasa [1]
Tersenyum. Tidak bisa mengungkapkan perasaan yang terjadi padaku hari ini. Selain hanya bisa tersenyum. Mungkin sebuah rahmat yang diberikan untuk bersyukur. Dan ketika harus menjawab, “Kenapa kamu tersenyum sendiri?” Maka yang hanya bisa aku katakan hanya, “Mungkin ini manifestasi dari alhamdulillah. Apakah masih perlu alasan untuk tersenyum?” [ ]
17 Agustusan
Asalnya aku mau bertemu salah seorang teman aku yang sedang menjadi SST di Total minggu ini. Tapi kemudian dia bilang bahwa minggu ini dia akan latihan upacara untuk persiapan 17 Agustusan di kantor. Mendengar hal ini aku jadi teringat masa-masa ketika akan selesai OJT kemaren. Ketika beberapa orang teman OJT diminta untuk membantu menjadi petugas upacara. Sayangnya kepulanganku adalah tepat pada tanggal 17 Agustus 2007 lalu. Sehingga aku tidak bisa ikut andil di dalamnya. Jadilah aku tujuhbelasan di atas pesawat.
Tak dinyana, ternyata tanggal 17 Agustus tahun ini, 2009, aku sedang bertugas di lapangan. Alangkah tidak mujurnya aku. Padahal dulu aku senang sekali menonton acara 17-an di televisi. Eh, sekarang malah ada di lapangan lagi. Alamat disuruh ikut upacara, aku langsung meminta izin pada atasanku untuk tidak ikut serta. Dan alhamdulillah aku jadinya tidak ikut. Tapi tetap saja bingung mau apa di kosan juga karena jam 7 pagi toh aku sudah siap dan tilawah sampai dijemput jam 8.30.
Upacara bendera. Kapan terakhir kali aku mengikuti upacara? Seingatku, kali terakhir adalah ketika SMA dulu. Ketika kuliah? Tidak ada satu upacara pun yang aku ikuti. Apakah dikumpulkan di lapangan terbuka ketika Ospek Kampus dulu itu termasuk? Rasanya tidak.
Aku kagum pada adikku dalam urusan kecintaan terhadap tanah air. Ketika kuliah dulu, sering kali kami menonton konser, salah satunya Twilite Orchestra yang selalu membuka konsernya dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua orang berdiri ketika iringan lagu berkumandang. Adikku adalah satu diantara sekian banyak penonton yang bukan saja berdiri dan ikut menyanyi. Tapi juga melakukan hormat. Air matanya berlinang. Belum lagi keaktifannya sebagai pasukan pengibar bendera hingga dicalonkan menjadi pengibar bendera tingkat kota Bandung. Juga keaktifannya sebagai seorang Pramuka. Memang adikku yang hanya satu ini sungguh berjiwa nasionalisme.
Ada salah satu pengembaraan yang dilakukannya yang mengingatkan aku akan dirinya ketika membaca buku 5 cm. Adikku sering kali kemping bersama teman pramukanya. Aku iri. Ingin rasanya seperti itu. Terlepas dari itu semua, cerita-ceritanya mengisi salah satu bagian dari diriku yang kosong.
Kembali mengingat moment tujuhbelasan, sampai sekarang ketika aku menyalakan Metro TV dan mendengar lagu kebangsaan ditayangkan, rasanya rasa haru itu ingin membuncah. Sungguh agung lagu kebangsaan itu. [ ]
Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2009 di portacamp
Posisi 1 2 3
Tiba di Balikpapan kembali. Memenuhi kewajiban yang selama ini tertunda setelah menyelesaikan kewajiban lain di kota Bandung. Memenuhi posisi untuk belajar bekerja kembali. Dan mengetahui posisi setiap orang di sini.
Ada kalanya saya hanya ingin mendengarkan orang mengeluarkan keluh kesah mereka tanpa perlu meng-flor-kan hal itu pada atasan saya. Ada kalanya saya merasa perlu mendengarkan mereka menceritakan semua hal yang terjadi ketika posisi saya sedang tidak ada di Balikpapan. Tapi saya bukan orang yang pasif. Saya perlu mengeluarkan apa yang ada di kepala saya. Saya orang yang reaktif ketika suatu masalah diceritakan oleh Back to Back saya baik itu saya dukung atau tidak. Saya hanya merasa bahwa saya perlu membaginya.
Dan entah kenapa hari ini rasanya semua kepala saya terisi sangat penuh. Bukan dalam artian negatif. Tapi entah ada sesuatu yang menahan apa yang akan saya keluarkan dari dalam kepala saya ini. Seperti tersendat dan hanya membuat saya tertegun. Berpikir berulang kali kenapa hal seperti ini saja tidak bisa dikomunikasikan langsung. Mengapa semua hanya berupa monolog, bukan dialog. Satu hal yang membuat saya sendiri tidak habis pikir dengan posisi-posisi mereka yang seharusnya bisa menyelesaikan ini.
Dan kembali ketika saya hanya bisa menanggapinya sedikit dan membaginya sedikit, saya hanya bisa tertegun karena merasa ada yang menahan dikeluarkannya apa yang ada di kepala ini. Bertanya sendiri, apakah otak ini baru pada posisi kopling 0 (nol) untuk hanya menerima, kopling 1 hanya untuk menanggapi sesaat, atau posisi lainnya. Karena rasanya dia sudah berteriak di dalam ingin segera menginjak kopling 5.
My brain need to be … spill it out.
[di tengah ketidakpuasan batin saat menerima informasi]
Antara SITE dan OFFICE
Percaya atau tidak, dulu saya lebih memilih bekerja di lapangan ketimbang di laboratorium – dengan referensi kegiatan selama Kerja Praktek/ On Job Training. Tapi ketika masuk ke dalam dunia kerja sebenarnya, saya tidak memilih lapangan/ SITE sebagai tempat kerja saya. Sungguh tidak ingin berlama-lama di sana! Then I prefer Ofiice better than Site. Really do.
Ah, lama sekali tidak posting
Ibu dan Bunda
Panggilan yang paling aku sayangi pada seseorang hingga saat ini adalah panggilan pada ibu. Ibu. Demikian dengan sederhananya panggilan itu menjadi sebuah panggilan yang paling berarti bagiku dan kuharap bagi beliau.
Banyak panggilan yang dapat diberikan pada orang yang telah melahirkan kita ke dunia ini. Ibu, Bunda, Mama, Mamah, Mami, Mum, Mom, Muti, Mamak, Mamaw, Enyak, Mbok, Pun Biang, apa lagi ya? Ada yang mau menambahkan?
Namun bagiku, panggilan terbaik padanya adalah Ibu saja. Walau aku juga punya panggilan sayang lain padanya, yaitu Mum dan Muti. Menurutku itu adalah bahasa terindah yang mengikatkan antara seorang ibu dan anaknya.
Kemaren ada seseorang yang tiba-tiba menggelitik keinginanku kembali untuk dipanggil seperti itu juga. Tapi karena menurutku Ibu hanya ada satu bagiku, bila saatnya tiba bagiku, aku ingin anak-anakku kelak memanggilku Bunda. Entahlah. Tidak pernah terpikir untuk dipanggil dengan sebutan lain. Rasanya Ibu dan Bunda adalah dua pilihan terbaik.
Aneh. Padahal aku tidak pernah memintanya untuk menyebutku seperti itu. Tapi tiba-tiba saja kata panggilan itu muncul begitu saja di udara tanpa diminta, tanpa terpikir, dan tanpa diduga. Hingga – jujur – membuat aku terdiam. Mengingat tidak pernah ada yang mengusik masalah ini barang sekali pun. Dan benar, aku hanya bisa termenung sesaat hingga akhirnya kembali sadar dengan sejuta pikiran. Ini sungguh aneh.
Tulisan ini aku tulisan dengan keisengan semata di tengah-tengah membaca hasil analisis contoh tanah dari Mas Okki – back to back aku di site. Karena menurut sahabatku dan aku, sesuatu yang terlintas tiba-tiba tidak akan muncul lagi. Dan seperti kebiasaanku, aku akan mengabadikannya dalam beberapa goresan tinta – beberapa ketikan kata di keyboard dan membuatnya menjadi salah satu moment hikmah yang Allah ajarkan padaku melalui dunia ini.
Untuk Ibu yang hanya ada dua saat ingin aku bersamanya, now and forever:
“As you know, Mum, how much I love you and how much I adore you. Now and forever, insya Allah.”
Dan … mungkin untuk seseorang yang baru saja membuat aku menulis ini. Terima kasih ya Allah, for giving me such person who cares of me and … love me.
Still a Friend of Mine
You know as true as trees are tall
And autumn leaves do fall
Oh, it sometimes rains in paradise
And even the warmest heart can turn to ice
I know it happend to us all
Every kind of people fall
And after all the tears are gone
Do we have the heart to carry on
Chorus:
Here and now, still somehow
Still a friend of mine, oh you’re still a
friend of mine
Still a friend of mine, you’re still a friend
of mine
Still a friend of mine, oh you’re still a
friend of mine
Oh
To think of all the times I hurt you
And never thought it through
Oh, I treated you so badly baby
Could such a cruel heart ever be free
I know it happens to us all
Every kind of people fall
Oh, and after all is said and done
Do we have the heart to carry on
Chorus
I know as long as I’ve got you
And we do the things we do
The next time baby
That our love breaks down
I’ll do the best that I can
To turn it around
Chorus
Time and time and time again
I’m gonna be right here for you baby
Seasons come and seasons go
Gonna be right here for you
Missing
Missing atau kehilangan adalah salah satu bentuk perasaan yang subhanallah. Tidak semua orang mampu merasakannya. Tidak semua orang mampu menyadarinya. Dan tidak semua orang menemukannya. Seperti halnya aku. Jarang sekali aku merasa kangen dengan seseorang.
Jarak merupakan sesuatu yang patut diberi ucapan terima kasih. Karena jarak membantu kita dalam menemukan rasa kehilangan ini. Mungkin tidak semuanya menyadari atau merasakannya. Tapi jarak cukup membantu kita dalam menemukan arti kehilangan ini. Ketika seseorang yang biasanya berada di dekat kita mendadak tidak ada. Secara sosok keberadaan – karena secara komunikasi jarak jadi bukan masalah. Tapi kadang ada perbedaan antara bisa menguhungi orang secara langsung dan tidak.
Hingga aku berumur 22 tahun ini, aku jarang sekali meninggalkan kota Bandung. Ya sesekali dalam beberapa pekan. Maksimal 2.5 bulan. Rata-rata 1 minggu. Sehingga hal ini menyebabkan perasaan missing terhadap seseorang yang biasa di dekatku tidak terlalu terasa. Mungkin exception pada Ibu yang dulu tidak bekerja di Bandung, Via yang juga tidak di Bandung sehingga kita sampai harus menyusun jadwal kencan untuk bisa menghabiskan waktu bersama khusus, Arief yang sering kali membuat kejutan, dan beberapa teman dan sahabat lainnya yang datang dan pergi silih berganti menorehkan kenangan dalam secarik kertas kehidupanku. Sungguh subhanallah.
Seperti saat ini ketika aku ada di pulau seberang. Perasaan itu jadi jauh lebih kuat. Ada satu yang terlewat, ketika aku akan ke kantor di Jakarta, aku dan Dani saling YM di jalan tol Pasupati menuju Jakarta saat itu. Dani mengetikan lagu Sherina yang paling membuat aku sedih. Mengenai perpisahan dengan sahabat dan seketika aku merasa menitikan air mataku. Di travel! Kejamnya Dani! You owe me, Dan! Hehehe. Dan banyak sekelumit pelepasan, rangkulan, dan pelukan hangat dari teman dan sahabat-sahabat yang membuat aku berterima banyak akan semua yang pernah kita lalui.
Dan detik ini, ketik aku membiarkan ke … 6-8 jemariku menari di atas keyboard, I would like to say that I am on missing mode on. Truly. I already miss my Mom, my Sister, my Via, my Rief, my Dian, my Tari, all of my best friends, all of my friends, all of my big family member, and someone that knocked-knocked my heart … just already … just already.
Thank you so much, Allah, to always give me beautiful feeling like this. Thank you. [14 March 2009]
Hujan di Site
Sudah hampir tiga hari berturut-turut ketika aku sedang berada di site sejak waktu off-ku. Sudah hampir tiga hari berturut-turut kegiatan di site menjadi tidak sesibuk biasanya. Sudah hampir tiga hari berturut-turut aku merasa tidak mengerjakan apa-apa di lapangan selain membuat laporan, presentasi, proposal, dan menulis postingan saja. Sudah hampir tiga hari berturut-turut inilah semua terjadi karena hujan mengisi hari-hariku. Dan kini … sudah kesekian harinya aku duduk di mulut pintu sambil menyentuh laptop dan memandang site di luar sana yang sedang diguyur air hujan.
Dulu aku takut sekali menyentuh air hujan – mungkin sudah banyak tulisanku di blog ini yang menceritakan hal ini. Sesuatu yang membuatku takut, tapi membuat kecintaanku dan kerinduanku padanya semakin besar. Seperti salah satu kebiasaanku untuk terjaga ketika hujan, kebiasaanku untuk memandang hujan, kebiasaanku untuk mengabadikan moment hujan, dan banyak kebiasaan manis yang ada karena hujan.
Hal ini membawaku pada sebuah impian untuk memiliki sebuah rumah yang memiliki ruang terbuka untuk menyambut turunnya hujan ke pelataran bagian dalam rumahku. Dengan gazebo kecil untuk shalat dan beribadah di sebelah kamar tidur, dapur kering, dan ruang keluarga. Di mana gazebo ini akan mengarah pada ruang terbuka tempat sang hujan jatuh di sisi lain rumah yang terbuka. Bagiku, itu adalah salah satu arsitektur rumah impian yang akan aku bangun bila suatu saat nanti membangun keluarga. Hmm … what a view.
AH, hubungan tulisanku ini dengan hujan di site. Hmm … apa ya … ya seperti yang sudah dituliskan dalam paragraf pertama di atas. Hal ini, walau kadang menjadi membosankan untuk pekerjaanku – FYI: dalam Safety First, dalam keadaan hujan, pekerjaan ditiadakan – namun terkadang hal ini membuat beberapa memori dan impian dalam benakku muncul keluar dan itu merupakan lovely moment yang subhanallah. J
