One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.
[Autumn to Spring on 08.08.2008]
One of the thing about spring, it’s the season of change. It’s the time that the ice melts. Perhaps, for every flower, it’s quite a burden to wait for the ice melts. But when the time comes it will blooms entirely.
[Autumn to Spring on 08.08.2008]
Salah satu hal yang paling saya benci di dunia ini adalah pembohong. Mulai dari hal kecil hingga tentu saja hal yang besar.
Seperti halnya kasus saya dengan Farrel Design yang katanya sih bagus buat undangan. Ternyata non-sense. Sangat tidak profesional dan tidak bisa mempertanggungjawabkan kesalahannya, namun terus menutupnya dengan kebohongan dan kesalahan yang lain.
Farrel ini, berjanji untuk menyelesaikan undangannya selama 3 minggu untuk undangan yang softcover. Namun karena satu dan lain hal, dia meminta waktu hingga 4 minggu. Kami sekeluarga mengiyakan. 4 minggu itu jatuh tempo pada tanggal 20 september lalu. Lalu, tiba-tiba dia meminta untuk diundur sampai tanggal 27 sep. Padahal jelas-jelas sudah tertulis hitam di atas putih kesepakatan tersebut. Ketika akan mengambil tanggal 27, rupanya dia minta waktu untuk diundur sampai tanggal 1 okt.
Kami sudah sangat kesal dengan hal ini. Pasalnya, 1 okt adalah hari Jumat. Padahal kami masih harus mengirim undangan itu ke Kalimantan dan Semarang. Dan dari kedua tempat itu, undangan masih akan disebar. Kami sudah memberitahukan hal ini. Tapi dasar tempat tukang bohong, dia malah tidak peduli atau entah bagaimana, hingga kemudian, dia meng-SMS (tidak sopan ya), bahwa tidak bisa tanggal 1. Dia minta diundur tanggal 2 okt malam.
Kebohongan 2x. Kami mengusahakan untuk tetap tanggal 1, dan Farrel setuju tanggal 1 malam akan diantar langsung ke rumah. Tapi nyatanya saya tunggu hingga jam 10 malam, mereka tetap tidak mengantar undangan itu ke rumah. Dan sampai detik ini, tanggal 2, mereka tidak mengangkat telepon kami dan tidak memberi konfirmasi.
Ternyata tempat undangan ini sangat tidak profesional. Saya dan keluarga sangat kecewa. Padahal waktu sudah sangat mepet dan undangan belum dikirim. Belum lagi dari tempat pengiriman satu, masih akan dikirimkan lagi ke tempat lain. Farrel juga tidak meminta maaf atau memberikan kompensasi apapun atas kesalahan yang dilakukannya sendiri. Ini sungguh tidak bisa ditolerir. Sudah telat, tidak mau menurunkan harga, masih terus telat dengan alasan macam-macam.
Hah … semoga Allah kelak membalas semua ini. Terima kasih atas semua kebohongan ini.
*surat pembaca di koran PR menyusul
Wanita yang mandiri, cerdas, penuh kasih, memuliakan pria dan anak-anaknya, adalah wanita idaman bagi pria yang ingin menjadi pembesar kehidupan.
Tetapi, wanita seperti itu terlalu kuat untuk diperlakukan sembarangan oleh siapa pun, dan tak mungkin ikhlas menerima perlakuan buruk.
Wanita … Anda berhak bagi kemuliaan.
Tegaslah!
Mario Teguh
Mudah-mudahan Ibunda, istri, dan putri-putri kita tidak meresikokan hak mereka untuk berbahagia dengan mengabaikan keharusan untuk berlaku sama hormat dan penuh kasih-nya dengan pria pilihan hidup mereka.
LOVE IS RESPECT, dan itu berlaku dua arah.
Mario Teguh
Baru hari ini, setelah almost a year, saya memperhatikan bahwa terakhir saya posting adalah November 2009. Pitiful, kalau kata adik saya mah. Entah sejak kapan saya mulai mengalami kejenuhan dalam melakukan sesuatu karena saya tidak memperoleh apa yang saya impikan. Padalah Toyota saja baru berhasil setelah 3000x mencoba, begitu pula A. Edison, dan banyak makhluk subhanallah lainnya. Tapi kok saya kelupaan dengan prinsip hidup saya itu untuk terus keep moving on, ya.
If I could, I want turn back the time and choose another pathway. If I
could, I want to go back to “some time” when I can change “some thing”.
Not thankfull at all. Not help. And not good.( What happen with me …
Saya mau melaju menuju tahap selanjutnya. Menyelesaikan kuliah saya supaya saya bisa segera mencoba peruntungan baru itu lagi. Saya juga tidak ingin menjadi orang yang seolah-oleh “berkeluh kesah” ini. Izinkan saya hanya untuk menuliskan ini saja. Supaya tidak sia-sia bibir saya berbicara di bulan Ramadhan ini. Happy vasting.
LOOKING THROUGH THE EYES OF LOVE
(Melissa Manchester)
Please, don’t let this feeling end,
It’s ev’rything I am,
Ev’rything I wanna be;
I can see what’s mine now,
Finding out what’s true,
Since I’ve found you
Lookin’ through the eyes of love
Now I can take the time,
I can see my life
As it comes on shining now;
Reachin’ out to touch you,
I can feel so much,
Since I’ve found you
Lookin’ through the eyes of love.
And now I do believe,
That even in a storm, we’ll find some light;
Knowin’ you’re beside me,
I’m alright.
Please, don’t let this feelin’ end,
It might not come again;
And I want to remember
How it feels to touch you;
How I feel so much,
Since I’ve found you
Lookin’ through the eyes of love.
Menangis mengandung banyak makna. Hingga kadang tidak semua orang dapat memahami penyebab orang menangis. Terutama ketika seorang lelaki menatap seorang wanita. Mereka tidak pernah mengerti mengapa air mata itu tidak hanya sekali dua kali atau bahkan lebih dari tiga kali bisa keluar begitu saja dari ujung mata seorang wanita. Salah satu sahabat saya pernah memberikan sebuah tulisan mengenai air mata seorang ibu. Bahwa Allah menciptakan banyak jenis air mata pada seorang wanita dengan banyak tujuan dan maksud. Hingga tidak terhingga apabila disebutkan satu-satu.
Atau mungkin hanya sekadar untuk membasuh hati
Saya masih belajar mendefinisikan banyak arti dari menangis itu. Masih belajar untuk mengeksplor semua hal dari yang kecil hingga yang besar yang mampu menstimulus air mata ini. Subhanallah. Betapa kaya Allah yang menganugrahkan perasaan ini. [ ]
Aku merasa berdosa. Entah apa ini bisa disebut berdosa atau tidak. Tapi yang pasti, ketika bencana gempa bumi di Sumatera Barat itu terjadi, aku langsung menghubungi sahabatku yang ada di Riau, Sum. Selatan, dan Lampung. Memastikan semua baik-baik saja. Dan satu hal yang membuat aku merasa bersalah karena aku lupa bahwa pada minggu terjadinya gempa itu, ibuku juga ada di tempat sahabat-sahabatku! Alhamdulillah beliau tidak apa-apa.

Beranjak dari hal tersebut, tiba-tiba ada suatu hal yang menggelitik hatiku. Mengenai perihal berbakti. Mau tidak mau, hari itu akan datang juga. Ketika aku, sebagai anak gadis, akan menikah dengan seseorang. Diserahkan oleh kedua orang tuaku pada seseorang yang selama 23 tahun terakhir ini mungkin tidak pernah ada dalam kehidupan kami. Bukan hanya diserahkan dalam artian biasa, tapi semua. – aku agak bingung mendefinisikan hal ini. Tapi yang pasti, hal ini membuat aku memikirkan banyak hal. Terutama ibu.
Analisisku seperti ini: seorang lelaki, ketika menikah selain bertanggung jawab terhadap istri, namun bakti yang utama adalah pada ibu. Berbeda halnya dengan seorang gadis, ketika menikah dia hanya berbakti pada suami. Karena suatu perjanjian yang suci se-Ar Rasy, semua hal yang berkenaan dengan sang gadis diserahkan sepenuhnya dari pihak orang tua pada suami. Aku berpikir hingga menitikkan air mata, apakah ini artinya sebagai seorang istri, hubungan berbakti pada ibu terputus? Justru dengan berbakti pada suami, orang tua telah berhasil mendidik anaknya. Tapi aku tetap merasa … entahlah.
Teringat dengan salah satu materi liqo dulu tentang bakti seorang istri pada suami lebih utama ketimbang bakti pada orang tua. Hingga ada kisahnya ketika seorang istri ditinggal suami dan diamanahi untuk tinggal di rumah, pada saat yang bersamaan orang tua istri meninggal dunia. Namun karena perihal di atas, istri tidak datang ke tempat orang tuanya. Aku tertegun.
Sekali lagi aku berpikir. Apa ini artinya orang tua yang mempunyai anak gadis mempersiapkan sang anak untuk diserahkan pada orang lain? Rasanya aneh. Orang tua yang dengan subhanallahnya me-… banyak hal untuk anaknya, kemudian terputus hubungannya setelah menikah karena telah resmi menyerahkan semuanya pada orang lain yang menjadi suami anak itu. Apa sang istri masih bisa berbakti pada orang tuanya? Di lain pihak, berbeda posisinya dengan anak lelaki. Hmfh.
Could anybody please make my heart fill with answers?
Aku bertanya dan meminta pada diri sendiri dan dirinya. Untuk tetap terus bisa berbakti pada kedua orang tuaku sendiri. Membagi waktu dengan adil untuk bisa berbakti pada suamiku nanti dan tentunya kedua orang tuaku. Jujur, aku masih ingin sekali bisa membaktikan diriku pada kedua orang tua ku. Hingga kapan pun walau aku sudah memiliki suami, anak, dan keluarga baru. Aku masih ingin bisa berbakti pada mereka. Pada Ibu.
Ada 2 orang sahabat yang pernah sama-sama bercita-cita bersama denganku untuk hal yang berhubungan dengan kata sakti ini: Good Luck! Ketika kami sama-sama memiliki mimpi yang sama untuk sekolah ke jepang.
Salah seorang dari mereka, alhamdulillah, mampu merampungkan cita-citanya melalui salah satu beasiswa bergengsi ke Osaka. Dulu kami sama-sama memasukan berbagai aplikasi beasiswa ke Jepang sejak kami berdua sama-sama lulus di waktu yang sama. Lebih dari 5 beasiswa saat itu yang kami ikuti. Dan alhamdulillah sahabatku itu memperolehnya. Sedang aku ada jalan lain yang diberikan oleh Allah.
Baru saja aku meneleponnya. Dia sudah di bandara. Bercerita tentang rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya langsung abroad. Ke Jepang. Jadi ingat masa-masa belajar bahasa Jepang dan nonton dorama. Rasa subhanallah ketika kami dulu sama-sama merajut mimpi bersama untuk sama-sama bisa sekolah ke Jepang. Dan rasanya pun kali ini tetap subhanallah walaupun saat ini Allah baru mengizinkanku hanya untuk mengucapkan selamat pada sahabatku itu untuk ke Jepang. Rasanya subhanallah.
Dan untuk kesekian kalinya kami kembali membahas film Good Luck! di telepon. Dan dengan suara penuh haru darinya dan diriku yang sangat mudah terharu ini (baca: terbawa emosi untuk menitikan air mata) kami saling mengucapkan: Good Luck!
Kembali, aku berdoa agar pada suatu hari nanti, rezeki itu ada bersamaku. Ada bersama orang dan orang-orang yang aku sayangi. Untuk dapat merasakan perasaan dan pengalaman yang subhanallah itu. Sekolah di luar negeri. []
tulisan ini agak tidak penting. namun sebenarnya isinya sangat penting. hanya saja penulis sedang tidak ingin menulis. sehingga informasi penting yang terjadi selama di bandung belum bisa tersalurkan dengan baik. padahal sungguh banyak hal yang subhanallah yang memperkaya hati selama di bandung ini. my hometown. ah bandung. – tulisan ini akan dilanjutkan di lain waktu.
Aku dan back to back-ku mempunyai sebuah buku komunikasi – bukom kalau dulu sahabat SMA-ku menyebutnya. Sejak sekembalinya aku dari Bandung karena sakit kemaren, aku membuaut turus atau count down mingguan aku bekerja di lapangan. Sejak 5 minggu sebelum “rencana” kepulangan kembali ke Bandung, 4 minggu, 3, 2, hingga kini tinggal 1 term lagi di minggu depan untuk demobilisasi.
Bukan tidak ingin melanjutkan kerja di tempat ini, tapi rasanya aku sudah tidak betah di lapangan ini dengan kondisi yang kurang nyaman. Rencana berakhirnya kontrak adalah tgl. 15 Sep ini. Dan – bukannya jahat – aku berharap tidak ada extension atau bridging lagi. Dan kalau pun ada aku berharap setelah Oktober nanti. Sungguh tenaga lahir-batin-ku habis untuk memperjuangkan yang namanya mudik.
Satu kali lagi ke lapangan. Ya. Malam ini sambil mengerjakan laporan akhir dan preparasi 1 minggu ke depan yang full, Akang – begitu panggilanku padanya, mengajak makan malam. Tepatnya aku iseng mengajaknya makan ketika Daily Report tadi. Karena hari Kamis Akang akan off selama 2 minggu ke depan dan setelah akhir kontrak minggu depan, kita kemungkinan tidak tahu kapan bertemu lagi.
Setelah selesai makan malam, ketika berpisah, akang berbicara bahasa Sunda halus. Aku hanya menangkap beberapa kalimatnya, selain undangan untuk ke rumah makannya di Bandung, Akang juga bilang beberapa hal yang diakhiri dengan kalimat, “Bilih teu pendak deui.” Rasanya sedih saja tiba-tiba Akang yang selain aku anggap teman dan atasan di perusahaan ini, namun juga kakak, berbicara seperti itu. Pun aku tidak tahu bahwa ultah dia adalah 3 hari yang lalu. Rasanya tampak aku kurang memperhatikan sekelilingku ketika tenaga lahir-batin-ku aku habiskan untuk hal-hal yang berkaitan dengan Bandung. Sungguh hal yang satu ini sungguh mengurus semua pikiranku.
Di akhir tulisan ini, sama ketika aku tiba di kamar kos dan meng-sms Akang, back to back-ku, dan Mas-ku, aku berterima kasih dan berdoa yang terbaik pada Allah agar dia diberikan yang terbaik selalu dan semoga kami masih dapat dipertemukan lagi dalam suatu silaturahmi. Insya Allah. [ ]
[ditulis 8 Sep 2009 setelah makan diselingi Bridging Report]
Just like usual, I always wake up for several times form 1 am, 2 am, 3 am, then I have to take a pray before sahur half hours later. But this time, there is something that not usual, because there is a big rain outside. Company me in the middle of sleepy. Sleepy: watched Star Movie last night, while I waited for someone somewhere out there – deuh, somewhere out there, seems like I have heard that song since I was child – de javu.
Talking about rain. Then when I go to work, walking, staring, smiling, and wondering [I always wonder for no reason] – I can smell “smell-after-rain” there. Hmm. I think I have wrote it down, about rain, for age. But, I don’t know, I just like to share how nice “smell-after-rain”. Seems like it has a parfume that publish new fragrance in new season. Subhanllah.
More over, how beautiful the rain is, still – I will always love it. One day, I hope and wish and pray, I can enjoy it together. Not alone. One day. Insya Allah. [ ]
Hari ini hanya sendiri. Kemudian iseng ketika istirahat menonton Star Movie. Menemukan sebuah film unik yang berjudul Ramen Girl. Aku lupa tepatnya itu apa nama filmnya. Tapi kalau tidak salah namanya itu. Film ini membuat agak kesal karena Abby si tokoh utama tidak mau belajar berbahasa Jepang padahal dia tinggal dan kerja di sana.
Hidup Abby seperti kebanyakan gadis US lainnya. Hanya sekedar menjalani bukan mengisinya. Hingga suatu saat dia melihat sebuah kedai ramen di seberang apato-nya dan berniat untuk belajar membuat ramen. Hingga kemudian dalam waktu yang lama dia belajar membuat ramen dengan sensei-nya. Yang dengan gak bangetnya yang satu ngomong Nihongo yang satu ngomong Eigo. Kebayang gak sih?
Yang bikin subhanallah dari film ini menurutku adalah spiritnya. Seishou. Jadi dalam meramu ramen, bagaimana pun tekniknya, yang paling utama adalah emosi yang dituangkan ke dalamnya. Seperti bagaimana hidup. Hingga pada akhirnya, ketika bahasa – yang kusangka menjadi kendala – dalam film itu, tidak menjadi masalah ketika keduanya sama-sama mengerti akan spirit yang harus dituangkan dalam berbuat dan melakukan sesuatu.
Still I have a spirit?
Ada tiga orang berjalan di depanku. Sebagai satu-satunya wanita, aku agak mengambil jarak di belakang. Berjalan lebih perlahan sambil menengok ke arah jalan. Sudah gelap. Semua orang pasti langsung beraktivitas di rumah setelah menyelesaikan shalat tarawih.
Baru beberapa langkah. Salah seorang dari tiga orang itu menunggu dan menyamakan langkahku. Aku tersenyum menengok ke arahnya. Dia berkata sesuatu padaku.
“Kenapa sih selalu jalan di belakang? Kan diminta untuk mendampingi. Artinya jalan di samping, beriringan, bukan di depan, bukan pula di belakang. Ya, Bun?”
Aku mengangguk. [ ]
Langkah kakiku tidak pernah berhenti. Mereka diciptakan sepasang untuk saling beriringan. Saling melengkapi satu sama lain. Begitu pula bagian tubuh lainnya yang banyak diciptakan berpasangan untuk saling bahu-membahu mengerjakan amanahnya sebagai ciptaan Sang Khalik.
Kesepuluh jariku tidak pernah berhenti menari di atas keyboard barang satu hari. Mereka diciptakan sepasang untuk saling mengisi bagian-bagian sesuai fungsinya masing-masing. Begitu pula bagian tubuh lainnya yang banyak diciptakan berpasangan untuk saling melengkapi tugas kerja mereka masing-masing yang diciptakan untuk membantu manusia untuk beribadah.
Begitu pula mataku. Ada sepasang. Alis mataku ada sepasang. Lubang hidungku ada sepasang. Bibir di mulutku ada sepasang. Pipiku ada sepasang. Dan hampir seluruhnya bagian luar tubuh manusia diciptakan simetris. Memiliki aksis sebagai tanda bagian kanan dilengkapi dengan bagian yang sama di sebelah kiri.
Mengapa ada sepasang-sepasang seperti itu? [ ]
Air mataku mengenangi separuh mataku. Kali ini bukan hanya senyum yang menghiasai wajahku. Tapi air mata itu pun ikut menghiasi. Masih berlabel rasa syukur.
Siang itu ketika aku sedang akan bayar telepon di Telkom, salah seorang sahabat baikku menghubungiku. Dia meminta doa padaku untuk amanah baru yang akan diembannya. Kupikir dia akan menjadi panitia dalam suatu kegiatan lagi. Mengingat saat dia menghubungiku dia berada di Salman. Agak muncul pikiran usil bahwa dia akan mengisi salah satu kajian di Salman karena menikah di umur 21 tahun dengan posisi belum lulus sarjana kedokteran. Tapi salah. Berita yang disampaikannya jauh luar biasa. Alhamdulillah. Dia hamil.
Senyumku mengembang. Mengucap rasa syukur turut berbahagia atas amanah yang Allah titipkan padanya. Ada sesuatu yang menggelitikku. Hamil di usia 22 tahun. Untuk yang satu ini dia sudah bertambah satu tahun. Hehehe. Rasanya subhanallah. Dengan keadaan masih terpisah dengan suami karena masing-masing harus menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Dengan keadaan masih sekolah. Dan dengan keadaan lainnya. Kupikir itu tidak menjadi sebuah halangan.
Apalagi amanah yang akan dititipkan berupa buah hati hasil cinta kasih diantara keduanya. Rasanya aku pun ingin menyegerakan ibadah yang menggenapkan separuh agamaku itu dan berdoa agar dapat memperoleh amanah yang sama. Untuk menjadi seorang ibu. Seorang bunda. A real Bunda. [ ]
Kangen. Baru kali ini aku merasa kangen. Adzan berkumandang dan aku buka shaum di kosan Senipah sendirian. Hanya ditemani teh manis hangat dan biskuit Good Time; dan SMS bersama Mum dan Yanda. Bersama Mum. Inilah hal yang membuat aku kangen. Rasanya dari dulu aku belum pernah merasakan kangen seperti ini. Entahlah.
Tetapi ketika selesai berdoa dan meneguk teh hangat, seraya mengucapkan hamdallah, aku merasa sendiri. Kemudian kembali meng-SMS Mum tentang perasaan aneh itu. Perasaan kesendirian yang harus aku jalani dengan kesabaran, begitu kata Mum – panggilan sayangku pada Ibu.
Setelah 23 tahun, akhirnya akan merasakan apa yang namanya mudik. Mungkin aura mudik dimulai dengan shaum sendiri seperti ini atau shaum jauh dari orang-orang yang dirindukan. Ketika rasa kangen terakumulasi setiap harinya hingga waktu pulang dan kembali itu tiba. Mungkin itu yang dimaksud dengan mudik.
Dulu setiap bulan Ramadhan, setiap orang menulis tentang budaya mudik. Saat pulang dan kembali. Hanya aku yang tidak pernah menulis rubrik Jalan Terang di Salman tentang mudik. Karena seumur hidup aku tidak tahu bagaimana rasanya mudik.
Mum bilang. “Pada akhirnya kesampaian juga, kan? Katanya ini merasakan mudik?” Waktu itu yang ada di pikiranku, aku akan mulai merasakan mudik ketika punya suami non-bandung. Tapi ternyata aku mudik pertama kali ketika bekerja.
Walau keputusan untuk mudik belum jelas. Terutama untuk biaya mudik. Tapi harapan itu tetap ada. Bahwa tahun ini aku akan mudik. Semoga Allah membukakan jalan yang terbaik untuk momentum pulang dan kembaliku ini. Bismillah. [ ]
Tersenyum. Tidak bisa mengungkapkan perasaan yang terjadi padaku hari ini. Selain hanya bisa tersenyum. Mungkin sebuah rahmat yang diberikan untuk bersyukur. Dan ketika harus menjawab, “Kenapa kamu tersenyum sendiri?” Maka yang hanya bisa aku katakan hanya, “Mungkin ini manifestasi dari alhamdulillah. Apakah masih perlu alasan untuk tersenyum?” [ ]
Asalnya aku mau bertemu salah seorang teman aku yang sedang menjadi SST di Total minggu ini. Tapi kemudian dia bilang bahwa minggu ini dia akan latihan upacara untuk persiapan 17 Agustusan di kantor. Mendengar hal ini aku jadi teringat masa-masa ketika akan selesai OJT kemaren. Ketika beberapa orang teman OJT diminta untuk membantu menjadi petugas upacara. Sayangnya kepulanganku adalah tepat pada tanggal 17 Agustus 2007 lalu. Sehingga aku tidak bisa ikut andil di dalamnya. Jadilah aku tujuhbelasan di atas pesawat.
Tak dinyana, ternyata tanggal 17 Agustus tahun ini, 2009, aku sedang bertugas di lapangan. Alangkah tidak mujurnya aku. Padahal dulu aku senang sekali menonton acara 17-an di televisi. Eh, sekarang malah ada di lapangan lagi. Alamat disuruh ikut upacara, aku langsung meminta izin pada atasanku untuk tidak ikut serta. Dan alhamdulillah aku jadinya tidak ikut. Tapi tetap saja bingung mau apa di kosan juga karena jam 7 pagi toh aku sudah siap dan tilawah sampai dijemput jam 8.30.
Upacara bendera. Kapan terakhir kali aku mengikuti upacara? Seingatku, kali terakhir adalah ketika SMA dulu. Ketika kuliah? Tidak ada satu upacara pun yang aku ikuti. Apakah dikumpulkan di lapangan terbuka ketika Ospek Kampus dulu itu termasuk? Rasanya tidak.
Aku kagum pada adikku dalam urusan kecintaan terhadap tanah air. Ketika kuliah dulu, sering kali kami menonton konser, salah satunya Twilite Orchestra yang selalu membuka konsernya dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua orang berdiri ketika iringan lagu berkumandang. Adikku adalah satu diantara sekian banyak penonton yang bukan saja berdiri dan ikut menyanyi. Tapi juga melakukan hormat. Air matanya berlinang. Belum lagi keaktifannya sebagai pasukan pengibar bendera hingga dicalonkan menjadi pengibar bendera tingkat kota Bandung. Juga keaktifannya sebagai seorang Pramuka. Memang adikku yang hanya satu ini sungguh berjiwa nasionalisme.
Ada salah satu pengembaraan yang dilakukannya yang mengingatkan aku akan dirinya ketika membaca buku 5 cm. Adikku sering kali kemping bersama teman pramukanya. Aku iri. Ingin rasanya seperti itu. Terlepas dari itu semua, cerita-ceritanya mengisi salah satu bagian dari diriku yang kosong.
Kembali mengingat moment tujuhbelasan, sampai sekarang ketika aku menyalakan Metro TV dan mendengar lagu kebangsaan ditayangkan, rasanya rasa haru itu ingin membuncah. Sungguh agung lagu kebangsaan itu. [ ]
Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2009 di portacamp
Tiba di Balikpapan kembali. Memenuhi kewajiban yang selama ini tertunda setelah menyelesaikan kewajiban lain di kota Bandung. Memenuhi posisi untuk belajar bekerja kembali. Dan mengetahui posisi setiap orang di sini.
Ada kalanya saya hanya ingin mendengarkan orang mengeluarkan keluh kesah mereka tanpa perlu meng-flor-kan hal itu pada atasan saya. Ada kalanya saya merasa perlu mendengarkan mereka menceritakan semua hal yang terjadi ketika posisi saya sedang tidak ada di Balikpapan. Tapi saya bukan orang yang pasif. Saya perlu mengeluarkan apa yang ada di kepala saya. Saya orang yang reaktif ketika suatu masalah diceritakan oleh Back to Back saya baik itu saya dukung atau tidak. Saya hanya merasa bahwa saya perlu membaginya.
Dan entah kenapa hari ini rasanya semua kepala saya terisi sangat penuh. Bukan dalam artian negatif. Tapi entah ada sesuatu yang menahan apa yang akan saya keluarkan dari dalam kepala saya ini. Seperti tersendat dan hanya membuat saya tertegun. Berpikir berulang kali kenapa hal seperti ini saja tidak bisa dikomunikasikan langsung. Mengapa semua hanya berupa monolog, bukan dialog. Satu hal yang membuat saya sendiri tidak habis pikir dengan posisi-posisi mereka yang seharusnya bisa menyelesaikan ini.
Dan kembali ketika saya hanya bisa menanggapinya sedikit dan membaginya sedikit, saya hanya bisa tertegun karena merasa ada yang menahan dikeluarkannya apa yang ada di kepala ini. Bertanya sendiri, apakah otak ini baru pada posisi kopling 0 (nol) untuk hanya menerima, kopling 1 hanya untuk menanggapi sesaat, atau posisi lainnya. Karena rasanya dia sudah berteriak di dalam ingin segera menginjak kopling 5.
My brain need to be … spill it out.
[di tengah ketidakpuasan batin saat menerima informasi]